Dalam Surah Al-Alaq ayat 16, Allah SWT berfirman mengenai nashiyatin kadzibatin khathi'ah (ubun-ubun yang mendustakan dan durhaka). Ayat ini merupakan bagian dari ancaman keras bagi mereka yang melampaui batas karena merasa cukup dengan harta dan kekuasaan. Ubun-ubun, sebagai simbol kendali atas tindakan manusia, digambarkan sebagai sumber kedustaan dan dosa ketika seseorang berpaling dari kebenaran. Peringatan ini sangat relevan bagi jiwa yang sedang berjuang dalam ujian tawakal, di mana kecenderungan hati untuk mengandalkan kekuatan diri atau harta sering kali menjadi hijab dari pertolongan Allah.
Imam Ibnu Kathir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman bagi orang yang sombong. Ubun-ubun tersebut akan ditarik oleh Allah sebagai bentuk kehinaan atas kedustaan dan dosa yang diperbuatnya. Dalam tafsirnya, kedustaan di sini bukan sekadar ucapan, melainkan sikap batin yang menolak kebenaran karena merasa diri cukup (istighna). Ketika seseorang merasa mampu mengatur segalanya tanpa melibatkan Allah, ia sejatinya sedang mendustakan hakikat ketauhidan.
Dalam hal tawakal, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai bahaya mengandalkan diri sendiri. Sebagaimana dalam Musnad Ahmad 1663, derajat tidak tersedia, Rasulullah bersabda:
Pengkhianatan yang terbesar adalah kamu berbicara kepada saudaramu, ia membenarkan perkataanmu, padahal kamu sedang berdusta kepadanya.
Kedustaan kepada diri sendiri, yakni meyakini bahwa kita mampu menyelesaikan masalah tanpa pertolongan-Nya, adalah bentuk pengkhianatan terhadap fitrah tauhid. Untuk meluruskan ubun-ubun yang cenderung durhaka ini, berikut langkah konkretnya:
- Evaluasi niat di setiap langkah. Tanyakan pada diri, apakah tindakan ini lahir dari ketergantungan kepada Allah atau sekadar ambisi pribadi?
- Praktikkan muhasabah saat merasa cemas. Sadari bahwa kecemasan adalah sinyal bahwa hati sedang bersandar pada sebab duniawi, bukan pada Dzat yang memegang ubun-ubun setiap makhluk.
- Perbanyak doa tafwidh (menyerahkan urusan) agar hati tidak terjebak dalam delusi kemandirian yang menyesatkan.
Tawakal adalah membebaskan hati dari ketergantungan pada selain Allah, sehingga ubun-ubun kita tidak lagi menjadi sumber kedustaan, melainkan tunduk dalam ketaatan.
Wallahu a'lam.
Daftar hadits di bawah ini diberikan ke AI sebagai konteks RAG. Klik untuk membaca teks lengkap.
Sunan Nasai 4892
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحِيمِ قَالَ حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ مُعَاوِيَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الزُّورِ وَالزُّورُ الْمَرْأَةُ تَلُفُّ عَلَى رَأْسِهَاTerjemahan. Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Abdurrahim] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Asad bin Musa] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari [Hisyam bin Abu Abdullah] dari [Qatadah] dari [Sa'id Ibnul Musayyab] dari [Mu'awiyah] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang berkata dusta, dan dustanya seorang wanita adalah memasang gulungan rambut pada kepalanya."
Sunan Ibnu Majah 3988
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah menceritakan kepada kami [Abdul Malik bin Qudamah Al Jumahi] dari [Ishaq bin Abu Furat] dari [Al Maqburi] dari [Abu Hurairah] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara." Lalu beliau ditanya, "Apakah Ruwaibidlah itu?" beliau menjawab: "Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum."
Sunan Ibnu Majah 4117
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَنْبَأَنَا أَبُو شُعَيْبٍ صَالِحُ بْنُ زُرَيْقٍ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُمَحِيُّ عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيِّ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ قَلْبِ ابْنِ آدَمَ بِكُلِّ وَادٍ شُعْبَةً فَمَنْ اتَّبَعَ قَلْبُهُ الشُّعَبَ كُلَّهَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ بِأَيِّ وَادٍ أَهْلَكَهُ وَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ كَفَاهُ التَّشَعُّبَTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Manshur] telah memberitakan kepada kami [Abu Syu'aib Shalih bin Zuraiq Al 'Atthar] telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abdurrahman Al Jumahi] dari [Musa bin Ali bin Rabah] dari [Ayahnya] dari ['Amru bin Al 'Ash] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dalam rongga hati seorang anak Adam terdapat kecenderungan untuk mengumpulkan harta kekayaan, barangsiapa yang mengikuti kecenderungan tersebut maka Allah membiarkannya binasa dengan itu, namun siapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupkannya."
Musnad Ahmad 1663
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ هَارُونَ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ شُرَيْحٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ نَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبُرَتْ خِيَانَةً تُحَدِّثُ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ بِهِ كَاذِبٌTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Umar bin Harun] dari [Tsaur bin Yazid] dari [Syuraih] dari [Jubair bin Nufair Al Hadlrami] dari [Nawwas bin Sam'an] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pengkhiatan yang terbesar adalah kamu berbicara kepada saudaramu, ia membenarkan perkataanmu, padahal kamu sedang berdusta kepadanya."
Sunan Nasai 4891
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا مَحْبُوبُ بْنُ مُوسَى قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ مُعَاوِيَةَأَنَّهُ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَاكُمْ عَنْ الزُّورِ قَالَ وَجَاءَ بِخِرْقَةٍ سَوْدَاءَ فَأَلْقَاهَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فَقَالَ هُوَ هَذَا تَجْعَلُهُ الْمَرْأَةُ فِي رَأْسِهَا ثُمَّ تَخْتَمِرُ عَلَيْهِTerjemahan. Telah mengabarkan kepada kami [Amru bin Yahya Ibnul Harits] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Mahbub bin Musa] ia berkata; telah memberitakan kepada kami [Ibnul Mubarak] dari [Ya'qub Ibnul Qa'qa'] dari [Qatadah] dari [Ibnul Musyyab] dari [Mu'awiyah] ia berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang kalian dari berbuat dusta." Ibnul Musayyab berkata, "Kemudian Mu'awiyah datang dengan membawa sobekan kain berwarna hitam dan melemparkannya di depan para sahabat. Kemudian Ia berkata, "Inilah kedustaan tersebut, para wanita mengambil dan memasangnya di kepala sebagai penutup."
Shahih Bukhari 3615 shahih
حَدَّثَنِي يَحْيَى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَاكَانَتْ تَقْرَأُ إِذْ تَلِقُونَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُ الْوَلْقُ الْكَذِبُقَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ وَكَانَتْ أَعْلَمَ مِنْ غَيْرِهَا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ نَزَلَ فِيهَاTerjemahan. Telah menceritakan kepadaku [Yahya] telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Nafi' bin Umar] dari [Ibnu Abu Mulaikah] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] ketika ia membaca (firman Allah) "idz talaqqaunahu bi alsinatakum" (Ketika kalian menerima berita bohong itu dari mulut-mulut kalian"), dia berkata; "(talaqqau dari kata) al walqu artinya kedustaan." Ibnu Abu Mulaikah berkata; 'Aisyah adalah orang yang paling tahu (tentang hal itu) daripada orang lain, karena memang ayat itu turun tentang dirinya."
Sunan Nasai 4689
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ النِّفَاقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَTerjemahan. Telah mengkhabarkan kepada kami [Ali bin Hujr], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma'il], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Suhail Nafi' bin Malik bin Abu 'Amir] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; apabila berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila dipercaya dia mengkhianati."
Shahih Muslim 88 shahih
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah bin Sa'id] dan lafazh tersebut milik Yahya, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Ja'far] dia berkata, telah mengabarkan kepada kami [Abu Suhail Nafi' bin Malik bin Abu Amir] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila dia berbicara niscaya dia berbohong, apabila dia berjanji niscaya mengingkari, dan apabila dia dipercaya niscaya dia berkhianat."