← Kembali ke pelajaran
Hari 105 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Qalam (68) adalah surah Makkiyah, turun di Mekah pada awal masa kenabian, sebelum hijrah ke Madinah. Mayoritas ulama, termasuk Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, dan Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil, sepakat bahwa surah ini Makkiyah. Dalilnya antara lain karena gaya bahasa dan temanya yang khas Makkiyah, seperti penekanan pada tauhid, ancaman bagi orang kafir, serta kisah-kisah perumpamaan. Dari segi urutan nuzul, surah ini termasuk yang awal diturunkan. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa surah Al-Qalam turun setelah surah Al-Alaq (96) dan sebelum surah Al-Muzzammil (73), menjadikannya surah kedua atau ketiga yang diterima Nabi Muhammad ﷺ. Periode ini adalah fase awal dakwah di Mekah, ketika Nabi ﷺ mulai menyampaikan wahyu secara terbuka dan mendapat tentangan keras dari kaum Quraisy. Tuduhan bahwa Nabi gila (majnun) sering dilontarkan untuk mendiskreditkan risalah beliau, dan surah ini turun sebagai jawaban langsung atas tuduhan tersebut.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Terdapat riwayat yang jelas tentang asbab nuzul awal surah ini. Imam Al-Wahidi dalam kitabnya Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ketika kaum Quraisy berkumpul di Dar an-Nadwah dan mengatakan, "Muhammad telah menjadi orang gila," maka Allah SWT menurunkan awal surah Al-Qalam, yaitu ayat 1 sampai 7, yang menegaskan bahwa Nabi ﷺ bukanlah orang gila. Riwayat ini juga disebut oleh Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, dengan sanad yang sampai kepada Ibn Abbas. As-Suyuti menambahkan bahwa turunnya ayat ini memberikan ketenangan hati kepada Nabi ﷺ dan membantah tuduhan musuh-musuh beliau.

Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an juga mengutip riwayat serupa dari para tabi'in, seperti Mujahid bin Jabr dan Qatadah bin Di'amah, bahwa ayat-ayat pertama surah ini turun untuk menolak tuduhan gila yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. At-Tabari menekankan bahwa sumpah Allah dengan pena dan tulisan bertujuan untuk menunjukkan kemuliaan ilmu dan wahyu, serta membersihkan nama Nabi dari fitnah.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain riwayat umum tersebut, ada pula riwayat yang lebih spesifik terkait ayat 8-16. Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat-ayat yang melarang mengikuti setiap orang yang suka bersumpah lagi hina (ayat 10) turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah, seorang tokoh Quraisy yang dikenal kaya raya dan memiliki banyak anak, namun sangat keras menentang Islam. Pendapat ini didukung oleh Imam Al-Qurthubi yang menyebutkan bahwa sifat-sifat buruk yang disebutkan dalam ayat 10-16 sangat cocok dengan karakter al-Walid. Namun, ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut turun mengenai al-Ash bin Wail atau Umayyah bin Khalaf. Perbedaan ini tidak mengubah inti pesan bahwa Allah melarang Nabi ﷺ mengikuti tekanan kaum musyrikin.

Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil mencatat bahwa ayat 8-16 merupakan perintah tegas kepada Nabi untuk tidak menuruti keinginan orang-orang yang mendustakan ayat Allah, meskipun mereka memiliki harta dan anak. Hal ini memperkuat sikap istiqamah dalam dakwah.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk bagian tengah surah, yakni ayat 17-33 tentang kisah pemilik kebun (ashab al-jannah), para ulama seperti Ibn Kathir, As-Suyuti, dan Al-Wahidi tidak menyebutkan riwayat sebab khusus yang turun secara terpisah. Kisah ini merupakan perumpamaan (amtsal) yang Allah buat untuk mengingatkan orang-orang musyrik Mekah akan akibat dari keangkuhan dan kekikiran mereka. Imam At-Tabari menafsirkan bahwa kebun tersebut melambangkan nikmat yang Allah berikan kepada Quraisy, dan ketika mereka enggan bersyukur serta menghalangi hak fakir miskin, maka Allah akan mencabut nikmat itu sebagaimana kebun itu hangus terbakar. Dengan demikian, konteks historisnya tetap terkait dengan kondisi masyarakat Mekah yang sombong dengan harta dan kedudukan, serta menolak mengikuti seruan Nabi.

3. Konteks Historis & Sosial

Pada masa awal kenabian di Mekah, Nabi Muhammad ﷺ menghadapi penolakan dan ejekan dari kaum Quraisy. Mereka menuduh beliau sebagai tukang sihir, penyair, dan terutama orang gila yang kerasukan jin. Tuduhan ini sangat menyakitkan, namun Allah segera membela Nabi-Nya. Surah Al-Qalam turun untuk memperkuat hati Nabi dan para sahabat yang baru beriman, seperti Khadijah, Abu Bakar, dan Ali. Situasi sosial saat itu sangat sulit; kaum Muslim minoritas sering mendapat siksaan fisik dan psikis. Surah ini mengajarkan bahwa meskipun orang kafir memiliki kekuatan duniawi, Allah Maha Mengetahui siapa yang sesat dan yang mendapat petunjuk. Kisah pemilik kebun menjadi pelajaran bahwa harta dan anak tidak akan menolong jika seseorang kufur nikmat dan menghalangi kebaikan.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral surah Al-Qalam adalah pembelaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ dari tuduhan gila, serta penegasan bahwa beliau memiliki akhlak yang agung (khuluq 'azhim). Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa pujian Allah atas akhlak Nabi merupakan bukti kenabian yang paling nyata, karena seorang yang gila tidak mungkin memiliki budi pekerti mulia. Selain itu, surah ini menekankan beberapa tema lain:

  • Tauhid dan Kekuasaan Allah: Allah bersumpah dengan pena dan tulisan, yang menunjukkan pentingnya ilmu dan wahyu sebagai sumber petunjuk.
  • Ancaman bagi Orang Kafir: Bahwa mereka akan mengetahui siapa yang sesat di akhirat nanti, dan di dunia pun mereka akan mendapat kehinaan.
  • Akhlak Mulia Nabi: Ayat 4 adalah pujian langsung dari Allah, yang menjadi dasar akhlak Islami.
  • Perumpamaan Pemilik Kebun: Pelajaran tentang bahaya kikir dan lalai bersyukur, serta pentingnya berbagi dengan sesama.

Imam Ibn Kathir menyebutkan bahwa surah ini memiliki munasabah (korelasi) dengan surah sebelumnya, Al-Qiyamah (75) yang berbicara tentang hari kebangkitan, karena surah Al-Qalam mengingatkan bahwa kenabian Muhammad adalah benar, dan siapa yang menentangnya akan merugi di akhirat. Sementara dengan surah sesudahnya, Al-Haqqah (69), keduanya sama-sama menguatkan kebenaran Al-Qur'an dan ancaman bagi pendusta.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak banyak hadits shahih yang secara khusus membahas keutamaan surah Al-Qalam, namun ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa membaca surah ini memiliki keutamaan. Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi (Kitab Fada'il al-Qur'an) dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Surah Al-Qalam adalah surah yang agung, barangsiapa membacanya, Allah akan memberinya pahala seperti pahala orang-orang yang berakal dan berilmu." Namun hadits ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama. Lebih baik merujuk kepada keutamaan umum membaca Al-Qur'an, seperti sabda Nabi ﷺ, "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang memberi syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat" (HR. Muslim, no. 804).

Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (Kitab Tafsir) meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ketika turun ayat 2 ("Makaa anta bini'mati rabbika bimajnun"), Nabi ﷺ bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah membersihkan namaku dari tuduhan gila." Riwayat ini menunjukkan betapa dalam dampak psikologis ayat ini bagi Nabi.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para sahabat dan tabi'in memberikan tafsir yang mendalam terhadap surah ini. Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa sumpah dengan qalam (pena) merujuk kepada pena yang digunakan malaikat untuk mencatat takdir. Mujahid bin Jabr berkata bahwa nun adalah nama ikan yang menopang bumi, namun pendapat ini tidak kuat. Qatadah menafsirkan bahwa "pahala yang tidak putus-putus" (ayat 3) adalah pahala surga yang abadi. Hasan al-Bashri sering menjadikan ayat 4 sebagai dalil bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur'an.

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip pendapat bahwa kisah pemilik kebun adalah contoh nyata dari orang-orang yang kufur nikmat, dan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi di Yaman, namun ada pula yang mengatakan bahwa itu hanya perumpamaan. Perbedaan ini tidak mengurangi pelajaran yang dapat diambil.

Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa surah ini mengandung bantahan terhadap semua tuduhan musyrikin dan sekaligus menunjukkan jalan keselamatan dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan akhlak mulia.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

Beberapa pelajaran konkret yang dapat diambil dari surah Al-Qalam:

  1. Jangan Peduli Hinaan – Sebagai seorang mukmin, kita harus tetap teguh dalam kebenaran meskipun dihina dan dituduh gila atau sesat. Allah akan membela hamba-Nya yang ikhlas.
  2. Pelajari Akhlak Nabi – Ayat 4 mengajarkan bahwa akhlak mulia adalah bukti keimanan dan kenabian. Kita harus meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Bersyukur dan Berbagi – Kisah pemilik kebun mengingatkan agar tidak kikir dan selalu menyisihkan rezeki untuk orang miskin. Menahan hak orang lain bisa mendatangkan bencana.
  4. Jauhi Sifat Tercela – Ayat 10-16 menyebutkan sifat-sifat buruk seperti suka bersumpah palsu, mencela, mengadu domba, dan menghalangi kebaikan. Seorang Muslim wajib menjauhi semua itu.
  5. Bergantung pada Allah – Ketika menghadapi tekanan, janganlah mengikuti keinginan musuh, melainkan berserah diri kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Relevansi dengan pembaca modern sangat kuat, terutama dalam menghadapi tekanan sosial dan cacian di media sosial. Akhlak Nabi menjadi contoh ideal bagaimana merespon hinaan dengan kesabaran dan keluhuran budi.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Qalam adalah surah yang sarat dengan pelajaran tauhid, akhlak, dan peringatan. Pesan utamanya adalah kebenaran kenabian Muhammad ﷺ, keagungan akhlak beliau, dan ancaman bagi yang mendustakan. Semoga kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur'an.

Allahumma faqqihna fi diinika wa 'allimna ta'wila kitabik. Wahai Tuhan kami, jadikanlah Al-Qur'an sebagai penuntun hidup kami, dan jauhkanlah kami dari sifat-sifat tercela. Aamiin.

والله أعلم (Wallahu a'lam).