نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ
Nūn, wal-qalami wa mā yasṭurūn(a).
Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,
"Wal qalami...", sumpah demi pena; akhlak Nabi yang agung; balasan bagi yang sombong.
Surah Al-Qalam menyoroti pentingnya pena dan ilmu sebagai alat kebenaran, sekaligus membela Nabi Muhammad ﷺ dari tuduhan orang-orang kafir. Ini menekankan kesabaran beliau dalam menghadapi ejekan dan ancaman, serta memperingatkan tentang azab bagi mereka yang sombong dan mendustakan.
Menegaskan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad dan peringatan keras bagi orang yang sombong terhadap nikmat Allah.
Surah Al-Qalam berpusat pada pembelaan Allah terhadap Nabi Muhammad dari tuduhan gila yang dilontarkan kaum musyrikin. Allah menegaskan bahwa beliau memiliki akhlak yang sangat agung dan mulia. Tema ini menyoroti keadilan Allah yang Maha Mengetahui siapa yang benar-benar tersesat dan siapa yang mendapat petunjuk.
Selain itu, surah ini membawa kisah pemilik kebun yang kikir sebagai perumpamaan bagi orang-orang Makkah yang sombong dengan kekayaan mereka. Kisah ini mengajarkan bahwa nikmat yang tidak disyukuri dan tidak dibagikan kepada yang berhak akan berujung pada kebinasaan. Akhir surah mengingatkan manusia untuk bersabar menghadapi ujian dan tidak tergesa-gesa seperti Nabi Yunus.
Surah ini turun di fase awal kenabian di Makkah ketika penolakan kaum musyrikin sedang menguat. Mereka menggunakan pembunuhan karakter dengan menuduh Nabi Muhammad sebagai orang gila untuk menjauhkan masyarakat dari dakwahnya. Surah ini hadir untuk menguatkan hati beliau dan memperingatkan para penentang.
Surah Al-Mulk sebelumnya menjelaskan kekuasaan Allah atas alam semesta, sedangkan Al-Qalam menyoroti kekuasaan Allah dalam membela utusan-Nya dan mengatur rezeki manusia. Setelah Al-Qalam, surah Al-Haqqah datang untuk merinci lebih jauh tentang kepastian hari kiamat dan nasib akhir orang-orang yang mendustakan kebenaran.
Situasi Mendapat cibiran atau fitnah di tempat kerja karena berusaha jujur.
Pesan surah Allah yang paling tahu siapa yang berada di jalan yang benar, tetaplah berpegang pada akhlak baik.
Langkah kecil Membalas perkataan buruk dengan sikap profesional dan mendoakan kebaikan bagi mereka.
Situasi Merasa enggan mengeluarkan sedekah karena takut tabungan berkurang.
Pesan surah Kisah pemilik kebun mengingatkan bahwa menahan hak orang miskin justru mendatangkan kerugian.
Langkah kecil Menyisihkan nominal kecil hari ini untuk disedekahkan tanpa menunda.
Situasi Merasa lelah dan ingin menyerah dalam mendidik anak yang sulit diatur.
Pesan surah Perintah untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa menyerah seperti kisah sahabat ikan (Nabi Yunus).
Langkah kecil Mengambil jeda sejenak untuk menenangkan diri, lalu memeluk anak dengan penuh kasih sayang.
Surah ini menekankan bahwa niat buruk untuk menahan rezeki orang lain dapat menghancurkan keberkahan. Menjaga niat baik dalam mengelola harta adalah kunci keselamatan.
Cara praktis Sebelum tidur, periksa kembali apakah hari ini ada hak orang lain yang sengaja kita tahan, lalu niatkan untuk menunaikannya esok hari.
Hari ini, tahan lisan dari membalas perkataan buruk orang lain dan gantikan dengan sedekah diam-diam sebagai bentuk syukur.
نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ
Nūn, wal-qalami wa mā yasṭurūn(a).
Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,
مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ
Mā anta bini‘mati rabbika bimajnūn(in).
berkat karunia Tuhanmu engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila.
وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ
Wa inna laka la'ajran gaira mamnūn(in).
Sesungguhnya bagi engkaulah pahala yang tidak putus-putus.
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm(in).
Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ
Fasatubṣiru wa yubṣirūn(a).
Kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ
Bi'ayyikumul-maftūn(u).
siapa di antara kamu yang gila?
اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Inna rabbaka huwa a‘lamu biman ḍalla ‘an sabīlih(ī), wa huwa a‘lamu bil-muhtadīn(a).
Sesungguhnya Tuhanmulah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk.
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ
Falā tuṭi‘il-mukażżibīn(a).
Maka, janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ
Waddū lau tudhinu fayudhinūn(a).
Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak. Maka, mereka bersikap lunak (pula).
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ
Wa lā tuṭi‘ kulla ḥallāfim mahīn(in).
Janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah lagi berkepribadian hina,
هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ
Hammāzim masysyā'im binamīm(in).
suka mencela, (berjalan) kian kemari menyebarkan fitnah (berita bohong),
مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ
Mannā‘il lil-khairi mu‘tadin aṡīm(in).
merintangi segala yang baik, melampaui batas dan banyak dosa,
عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ
‘Utullim ba‘da żālika zanīm(in).
bertabiat kasar, dan selain itu juga terkenal kejahatannya,
اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَۗ
An kāna żā māliw wa banīn(a).
karena dia kaya dan mempunyai banyak anak.
اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ
Iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn(a).
Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, “(Ini adalah) dongengan orang-orang terdahulu.”
سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ
Sanasimuhū ‘alal-khurṭūm(i).
Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai (hidung)-nya.
اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِۚ اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَۙ
Innā balaunāhum kamā balaunā aṣḥābal-jannah(ti), iż aqsamū layaṣrimunnahā muṣbiḥīn(a).
Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (orang musyrik Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik (hasil)-nya pada pagi hari,
وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ
Wa lā yastaṡnūn(a).
tetapi mereka tidak mengecualikan (dengan mengucapkan, “Insyaallah”).
فَطَافَ عَلَيْهَا طَاۤىِٕفٌ مِّنْ رَّبِّكَ وَهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَ
Fa ṭāfa ‘alaihā ṭā'ifum mir rabbika wa hum nā'imūn(a).
Lalu, kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.
فَاَصْبَحَتْ كَالصَّرِيْمِۙ
Fa aṣbaḥat kaṣ-ṣarīm(i).
Maka, jadilah kebun itu hitam (karena terbakar) seperti malam yang gelap gulita.
فَتَنَادَوْا مُصْبِحِيْنَۙ
Fa tanādau muṣbiḥīn(a).
Lalu, mereka saling memanggil pada pagi hari,
اَنِ اغْدُوْا عَلٰى حَرْثِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰرِمِيْنَ
Anigdū ‘alā ḥarṡikum in kuntum ṣārimīn(a).
“Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”
فَانْطَلَقُوْا وَهُمْ يَتَخَافَتُوْنَۙ
Fanṭalaqū wa hum yatakhāfatūn(a).
Mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik,
اَنْ لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِّسْكِيْنٌۙ
Allā yadkhulannahal-yauma ‘alaikum miskīn(un).
“Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin yang masuk ke dalam kebunmu.”
وَّغَدَوْا عَلٰى حَرْدٍ قٰدِرِيْنَ
Wa gadau ‘alā ḥardin qādirīn(a).
Berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin). Mereka mengira mampu (melakukan hal itu).
فَلَمَّا رَاَوْهَا قَالُوْٓا اِنَّا لَضَاۤلُّوْنَۙ
Falammā ra'auhā qālū innā laḍāllūn(a).
Ketika melihat kebun itu, mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang sesat.
بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ
Bal naḥnu maḥrūmūn(a).
Bahkan, kita tidak memperoleh apa pun.”
قَالَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ
Qāla ausaṭuhum alam aqul lakum lau lā tusabbiḥūn(a).
Seorang yang paling bijak di antara mereka berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?”
قَالُوْا سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
Qālū subḥāna rabbinā innā kunnā ẓālimīn(a).
Mereka mengucapkan, “Maha Suci Tuhan kami. Sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.”
فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ
Fa'aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatalāwamūn(a).
Mereka saling berhadapan dengan saling mencela.
قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا طٰغِيْنَ
Qālū yā wailanā innā kunnā ṭāgīn(a).
Mereka berkata, “Aduh celaka kita! Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas.
عَسٰى رَبُّنَآ اَنْ يُّبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَآ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا رٰغِبُوْنَ
‘Asā rabbunā ay yubdilanā khairam minhā innā ilā rabbinā rāgibūn(a).
Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik daripadanya. Sesungguhnya kita mengharapkan (ampunan dan kebaikan) Tuhan kita.”
كَذٰلِكَ الْعَذَابُۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ࣖ
Każālikal-‘ażāb(u), wa la‘ażābul-ākhirati akbar(u), lau kānū ya‘lamūn(a).
Seperti itulah azab (di dunia). Sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui.
Dan telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb] dan [Utsman bin Abu Syaibah] dan [Ishaq bin Ibrahim] -Ishaq- berkata, telah mengabarkan kepada kami -dua…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dari [Abu Wa`il] dari [Abdullah] ia berkata; Nabi shallall…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Alqamah bin Martsad] dari [Abu Abdurrahman As Sulami] dari [Utsman …
Dalam meniti jalan tawakal, seringkali hati kita diguncang oleh ujian duniawi yang terasa berat dan memilukan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Sura…
Dalam menghadapi ujian berat, seringkali kita merasa kehilangan pegangan atas apa yang selama ini kita usahakan. Surat Al-Qalam ayat 32 menjadi cermin bagi j…
Dalam perjalanan hidup yang penuh ujian, seringkali kita merasa bahwa rencana kita adalah segalanya. Namun, Surat Al-Qalam ayat 31 hadir sebagai pengingat ta…