← Kembali ke pelajaran
Hari 108 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Nuh (نوح) adalah surah ke-71 dalam mushaf Al-Qur’an, terdiri dari 28 ayat. Para ulama sepakat bahwa surah ini termasuk golongan surah Makkiyah, yaitu surah yang turun sebelum hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menyatakan bahwa surah ini Makkiyah berdasarkan ijma’ ulama. Demikian pula Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim menegaskan kesepakatan ini. Tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan adanya ayat Madaniyah dalam surah ini.

Mengenai urutan turunnya, tidak ada riwayat yang pasti dan shahih. Namun, dalam beberapa riwayat yang disebutkan oleh Imam As-Suyuti dalam Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, surah Nuh termasuk dalam kelompok surah-surah yang turun setelah surah Al-Mu’minun dan sebelum surah Al-Ahzab. Wallahu a’lam.

Surah ini turun pada periode dakwah di Mekah, yaitu ketika kaum musyrikin Quraisy menentang dakwah Nabi Muhammad ﷺ dengan keras. Kisah Nabi Nuh dihadirkan sebagai pelajaran dan hiburan bagi Rasulullah, bahwa para nabi sebelumnya juga menghadapi penolakan dan penganiayaan dari kaumnya, namun akhirnya pertolongan Allah datang. Hal ini menjadi penguat hati bagi Nabi Muhammad dan para sahabat yang saat itu mengalami tekanan berat dari kaum kafir Quraisy.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Imam Al-Wahidi dalam kitab Asbab an-Nuzul (al-Khaza’in) tidak menyebutkan adanya sebab khusus turunnya surah Nuh secara keseluruhan. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, di mana tidak ada riwayat yang mengkaitkan surah ini dengan peristiwa tertentu. Dengan demikian, surah ini termasuk surah yang turun tanpa peristiwa spesifik sebagai latar belakangnya, melainkan lebih merupakan peringatan dan kisah yang ingin disampaikan Allah kepada umat manusia.

2.2 Riwayat Ayat 23 tentang Nama-nama Berhala

Meskipun tidak ada asbab nuzul untuk surah secara keseluruhan, terdapat riwayat penting yang menjelaskan latar belakang penyebutan lima berhala dalam ayat 23, yaitu Wadd, Suwa‘, Yaguts, Ya‘uq, dan Nasr. Riwayat ini berasal dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih (Kitab Tafsir, no. 4920). Berikut redaksinya:

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Patung-patung yang disembah oleh kaum Nuh itu kemudian menjadi berhala-berhala yang disembah oleh bangsa Arab setelahnya. Adapun Wadd adalah patung yang disembah oleh kabilah Kalb di Daumat al-Jandal; Suwa‘ disembah oleh kabilah Hudzail; Yaguts disembah oleh kabilah Murad, kemudian beralih kepada Bani Ghuthai’ di Jarasy (Yaman); Ya‘uq disembah oleh kabilah Hamdan; dan Nasr disembah oleh kabilah Dzi al-Kila‘ di Himyar. Nama-nama itu adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum Nuh untuk membuat patung-patung mereka di tempat duduk mereka sebagai pengingat, lalu mereka membuatnya dan menyembahnya.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa asal-usul penyembahan berhala pada kaum Nuh adalah berawal dari pengagungan berlebihan terhadap orang-orang saleh yang akhirnya berujung pada kesyirikan. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tabari dalam Jami’ al-Bayan dengan sanad yang serupa.

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya mengomentari riwayat ini dengan mengatakan bahwa kisah ini shahih dan menjadi pelajaran bahwa wasilah (perantara) yang tidak disyariatkan dapat menjerumuskan pada syirik.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Sebagaimana telah disebutkan, surah Nuh tidak memiliki asbab nuzul yang spesifik. Namun, konteks historis Makkiyah memberikan pemahaman bahwa surah ini berfungsi sebagai mau’izhah (peringatan) bagi kaum musyrikin Mekah agar mereka tidak mengulangi kesalahan kaum Nuh. Allah menyampaikan kisah Nuh secara panjang lebar untuk menunjukkan bahwa meskipun seorang nabi berdakwah selama 950 tahun, kaumnya tetap ingkar, dan akhirnya Allah mengazab mereka dengan banjir besar. Ini merupakan pelajaran yang amat berharga bagi setiap generasi.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah Nuh turun di Mekah pada saat dakwah Islam menghadapi tantangan berat dari kaum Quraisy. Kaum Quraisy menolak ajaran tauhid, mengolok-olok Nabi Muhammad, dan menyiksa para pengikutnya. Dalam situasi seperti ini, Allah menurunkan surah yang menceritakan perjuangan Nabi Nuh, seorang nabi yang berdakwah selama berabad-abad namun hanya mendapatkan sedikit pengikut. Hal ini memberikan hiburan (tasliyah) bagi Nabi Muhammad, bahwa beliau tidak sendirian dalam menghadapi penolakan. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-An’am: “Dan sungguh telah didustakan (pula) para rasul sebelummu, lalu mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” (Al-An’am: 34).

Kaum Nuh digambarkan sebagai masyarakat yang sangat keras kepala dan sombong. Mereka menolak dakwah Nuh yang disampaikan secara terus-menerus. Para pemimpin mereka (para pembesar) memiliki harta dan anak yang banyak, namun semua itu justru menambah kesesatan mereka. Mereka menggunakan tipu daya yang besar untuk menghalangi dakwah Nuh. Ini mirip dengan sikap para pembesar Quraisy yang juga kaya dan berpengaruh, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan lainnya.

Surah ini juga menyoroti kesyirikan kaum Nuh yang menyembah berhala-berhala. Dalam konteks Mekah, kaum Quraisy juga memiliki berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Dengan menceritakan asal-usul penyembahan berhala dari kaum Nuh, Allah mengingatkan bahwa kesyirikan adalah dosa besar yang telah ada sejak zaman dahulu dan selalu berakhir dengan kehancuran.

4. Tema Sentral Surah

Surah Nuh memiliki beberapa tema sentral yang saling terkait:

  • Tauhid dan Larangan Syirik: Dakwah Nabi Nuh berpusat pada ajakan untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan thaghut. Ia menyeru kaumnya dengan berbagai cara, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Namun, mereka semakin keras kepala. Seruan tauhid ini adalah inti dari seluruh ajaran para nabi.
  • Peringatan Azab: Nabi Nuh diperintahkan untuk memberi peringatan sebelum azab yang pedih datang. Ia menyampaikan bahwa jika mereka beriman, Allah akan mengampuni dosa dan memberikan keberkahan berupa hujan, harta, anak-anak, kebun, dan sungai. Namun jika ingkar, mereka akan ditimpa azab yang dahsyat. Ini menunjukkan sunnatullah bahwa kesyirikan mendatangkan kebinasaan.
  • Kekuasaan Allah dalam Penciptaan: Ayat 13-20 menunjukkan bukti-bukti kekuasaan Allah melalui penciptaan langit, bumi, bulan, matahari, dan manusia. Hal ini dimaksudkan untuk menggugah akal manusia agar merenungkan kebesaran-Nya dan beriman.
  • Doa sebagai Senjata Mukmin: Doa Nabi Nuh yang dipanjatkan setelah sekian lama berdakwah menjadi contoh kekuatan doa. Ia berdoa terhadap kaumnya yang zalim, juga mendoakan diri dan orang-orang beriman.
  • Kehancuran Orang Zalim: Akhir surah menggambarkan bagaimana orang-orang yang zalim ditenggelamkan dan dimasukkan ke dalam neraka. Ini adalah peringatan keras bagi setiap orang yang menentang kebenaran.

Imam As-Sa’di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa surah ini adalah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, karena Dia mengutus rasul dan memberi peringatan sebelum azab turun. Surah ini juga menjadi motivasi bagi para dai untuk bersabar dan tidak putus asa.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

  • Dibaca dalam Shalat Subuh: Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ membaca surah Nuh dan surah ‘Amma yatasa’alun (An-Naba’) dalam shalat Subuh. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih (Kitab Shalat, no. 465) dan juga dalam Sunan Abu Daud, Tirmidzi, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa surah Nuh termasuk surah yang sering dibaca oleh Nabi pada rakaat pertama shalat Subuh. Sanad hadits ini shahih.
  • Keutamaan Umum: Tidak ada hadits khusus yang menyebutkan keutamaan surah Nuh secara spesifik, seperti fadhilah tertentu bagi pembacanya. Namun, secara umum membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia, dan setiap hurufnya mengandung kebaikan. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Tirmidzi, Nabi bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.” Ini mencakup seluruh surah.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Imam Ibnu Abbas, sahabat yang paling ahli dalam tafsir, memberikan penjelasan mengenai asal-usul berhala pada ayat 23, sebagaimana telah disebutkan. Imam Mujahid bin Jabr, seorang tabi’in, menafsirkan bahwa “Wadd” adalah berhala yang berbentuk laki-laki, dan “Suwa‘” berbentuk perempuan. Qatadah berpendapat bahwa berhala-berhala itu adalah nama-nama yang diambil dari orang-orang saleh.

Imam At-Tabari dalam Tafsir Jami’ al-Bayan mengumpulkan berbagai riwayat tentang kisah Nuh dan memberikan analisis bahwa dakwah Nuh adalah dakwah tauhid yang murni dan perjuangannya adalah contoh kesabaran. Beliau juga menyebutkan riwayat dari Sa’id bin Jubair tentang tafsir ayat-ayat penciptaan.

Imam Ibn Katsir memberikan tafsir yang panjang lebar tentang surah ini, menekankan bahwa doa Nuh terhadap kaumnya adalah karena putus asa setelah berdakwah selama 950 tahun, dan itu menunjukkan bahwa setelah usaha maksimal, seorang nabi boleh memohon kehancuran bagi kaum yang terus-menerus ingkar. Beliau juga menukil riwayat dari Al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil yang menjelaskan hikmah penciptaan langit berlapis.

Imam Al-Qurthubi membahas masalah perintah istigfar yang diikuti dengan janji hujan, harta, dan anak. Ia menjelaskan bahwa istigfar bisa mendatangkan rezeki yang banyak, dan ini adalah sunnatullah yang nyata.

Imam As-Sa’di menekankan hikmah dari penciptaan manusia melalui tahapan, yang menunjukkan kekuasaan Allah dan perlunya beriman kepada-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang alam adalah bukti yang jelas bagi orang yang berpikir.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Kesabaran dalam Berdakwah: Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Ini mengajarkan bahwa kesabaran adalah kunci dakwah. Seorang muslim tidak boleh cepat putus asa meskipun hasilnya belum terlihat. Kesuksesan dakwah tidak selalu diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari keteguhan menjalankan perintah Allah.
  2. Tauhid sebagai Fondasi Hidup: Seluruh dakwah para nabi adalah tauhid. Segala bentuk kesyirikan, baik yang nyata maupun tersembunyi, harus dijauhi. Wasilah yang berlebihan bisa menjadi pintu syirik, sebagaimana terjadi pada kaum Nuh. Ini relevan dengan praktik-praktik yang mendekati syirik pada zaman sekarang.
  3. Memanfaatkan Alam sebagai Bukti Kekuasaan Allah: Ayat-ayat tentang langit, bumi, bulan, matahari, dan penciptaan manusia mengajak kita untuk bertafakur. Dalam kehidupan modern yang cenderung materialistis, merenungkan ciptaan Allah dapat menguatkan iman.
  4. Kekuatan Doa: Doa Nabi Nuh menunjukkan bahwa ketika manusia telah berusaha maksimal, maka hanya Allah tempat memohon. Doa untuk kebaikan diri, keluarga, dan kaum mukminin adalah amalan yang sangat dianjurkan. Jangan pernah meremehkan kekuatan doa.
  5. Waspada terhadap Tipu Daya Musuh: Ayat 22 menyebutkan makar (tipu daya) kaum Nuh yang besar. Dalam setiap zaman, musuh Islam selalu merencanakan strategi untuk merusak dakwah. Umat Islam harus cerdas, waspada, dan tetap berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah.

8. Penutup & Doa

Surah Nuh adalah surah yang agung yang mengandung kisah perjuangan seorang nabi yang sabar dan teguh. Ia mengajarkan kita untuk tetap istiqamah di atas tauhid, bersabar dalam kesulitan, dan selalu berdoa memohon pertolongan Allah. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari surah ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Allahumma faqqihna fi diinika wa ‘allimna ta’wil al-Qur’an, wa innashurna ‘ala al-qawm al-kafirin.

والله أعلم (Wallahu a’lam).