Surah Nuh (71) memiliki korelasi kuat dengan surah sebelumnya, Al-Ma'arij (70), melalui tema peringatan akan azab Allah bagi kaum yang mendustakan rasul. Jika Al-Ma'arij menggambarkan kengerian hari Kiamat dan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, Surah Nuh secara spesifik mengisahkan bagaimana azab tersebut benar-benar ditimpakan kepada kaum Nabi Nuh yang ingkar, sebagai contoh nyata dari janji dan ancaman Allah. Ini memberikan konteks historis dan bukti empiris terhadap peringatan yang bersifat umum di surah sebelumnya.
Secara internal, ayat-ayat dalam Surah Nuh mengalir secara kronologis dan tematis. Dimulai dengan perintah Allah kepada Nabi Nuh untuk memberi peringatan (ayat 1), kemudian dilanjutkan dengan isi dakwah Nabi Nuh yang meliputi tauhid, takwa, dan ketaatan (ayat 2-4), serta janji-janji kebaikan bagi yang beriman. Setelah itu, surah ini beralih ke keluhan Nabi Nuh kepada Allah tentang penolakan dan kesombongan kaumnya (ayat 5-9), lalu kembali menyoroti argumen-argumen dakwah Nuh yang berfokus pada tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta dan penciptaan manusia (ayat 10-20). Transisi ini menunjukkan kesabaran dan strategi dakwah Nabi Nuh yang beragam, serta keteguhan kaumnya dalam kesesatan.
Tema dakwah para nabi yang gigih menghadapi penolakan kaumnya, serta konsekuensi dari kesombongan dan kekafiran, juga terhubung dengan banyak surah Makkiyah lainnya seperti Surah Hud, Al-A'raf, dan Al-Qamar. Surah Nuh secara khusus menyoroti aspek kesabaran seorang rasul dalam berdakwah selama berabad-abad dan bagaimana penolakan yang terus-menerus akhirnya membawa pada keputusan Allah untuk menimpakan azab yang tidak dapat ditunda, menegaskan prinsip keadilan ilahi.