1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Al-Muddassir (المدّثر) adalah surah Makkiyah menurut kesepakatan ulama. Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul dan As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul menegaskan bahwa seluruh ayatnya turun di Mekah. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim juga mengklasifikasikannya sebagai Makkiyah, dengan alasan bahwa surah ini turun pada awal masa kenabian, tepatnya setelah Surah Al-Alaq. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Al-Muddassir adalah surah kedua atau keempat yang diturunkan, tetapi riwayat yang paling kuat dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu menyatakan bahwa wahyu pertama adalah Al-Alaq, kemudian setelah masa fatrah (terhentinya wahyu), turunlah Al-Muddassir. Periode ini adalah awal dakwah Islam di Mekah, ketika Nabi Muhammad ﷺ baru saja menerima perintah untuk menyampaikan risalah secara terbuka. Masyarakat Quraisy saat itu hidup dalam kemusyrikan dan kebodohan (jahiliyyah), dan kaum Muslim awal menghadapi tekanan dan ejekan.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Ayat 1-7 (Seruan kepada Nabi ﷺ)
Riwayat utama mengenai turunnya ayat pertama surah ini berasal dari Jabir bin Abdullah, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab at-Tafsir, no. 4924) dan Muslim (Kitab al-Iman, no. 161). Jabir menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ menggambarkan bagaimana wahyu pertama (Al-Alaq) datang, lalu setelah itu wahyu terhenti untuk beberapa waktu. Kemudian saat beliau berjalan, beliau mendengar suara dari langit. Beliau menengadah dan melihat malaikat Jibril duduk di kursi di antara langit dan bumi. Beliau gemetar dan pulang menemui Khadijah sambil berkata, "Datsiruni, datsiruni (Selimuti aku, selimuti aku)!" Lalu Allah menurunkan ayat Ya ayyuhal-muddassir... (Wahai orang yang berselimut). At-Tabari dalam Jami' al-Bayan jilid 29 halaman 94 meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi ﷺ ketika itu berselimut dengan kain burdah, lalu turun perintah untuk bangun dan memberi peringatan.
Ayat 11-25 (Tentang Al-Walid bin al-Mughirah)
Riwayat tentang turunnya ayat-ayat yang mencela Al-Walid bin al-Mughirah dinukil dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu. Al-Wahidi menyebutkan dalam Asbab an-Nuzul halaman 252 bahwa ketika Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an, Al-Walid mendengarnya dan berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Muhammad telah membacakan kepada kami suatu perkataan yang bukan dari manusia dan bukan dari jin. Sungguh ia memiliki kelezatan dan keindahan, pohonnya berbuah lebat, dan cabangnya menjulang.” Kemudian ia menyebut bahwa Al-Qur'an itu sihir yang dipelajari dari orang-orang terdahulu. Maka Allah menurunkan ayat Dzarni wa man khalaqtu wahida... hingga akhir. Riwayat dari At-Tabari juga menguatkan bahwa Al-Walid memikirkan Al-Qur'an dan kemudian menuduhnya sebagai sihir. As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul halaman 198 menambahkan bahwa Al-Walid adalah seorang Quraisy kaya yang memiliki tujuh anak, dan ia sangat menentang dakwah. Ayat-ayat ini sindiran keras terhadap kesombongannya.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa ayat 1-7 turun berkaitan dengan kebiasaan Nabi ﷺ yang sering berselimut di malam hari, baik karena kedinginan maupun karena ketakutan setelah pengalaman wahyu pertama. Ibn Kathir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa 'muddassir' berarti orang yang berselimut dengan kain. Ia menegaskan bahwa riwayat dari Jabir adalah sahih. Riwayat lain dari Zaid bin Aslam menyatakan bahwa Nabi ﷺ berselimut ketika turun wahyu, lalu akhirnya beliau melepas selimut dan melaksanakan perintah. Sementara untuk ayat tentang Al-Walid, mayoritas ulama menerima riwayat tersebut. Namun ada juga pendapat yang menghubungkan ayat 18-25 dengan tokoh lain, seperti Abu Jahal, tetapi jumhur ulama menetapkan bahwa itu adalah Al-Walid. Al-Qurtubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an jilid 19 halaman 72 menegaskan bahwa riwayat yang paling sahih adalah mengenai Al-Walid bin al-Mughirah.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Untuk ayat-ayat lain seperti 8-10 tentang hari Kiamat dan 26-30 tentang neraka Saqar, para ulama tidak menyebutkan sebab khusus. Ayat-ayat tersebut bersifat umum sebagai peringatan bagi orang-orang kafir. As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman halaman 885 menyatakan bahwa setelah perintah kepada Nabi ﷺ, Allah memberitakan tentang kedahsyatan hari Kiamat agar manusia takut dan segera bertobat. Bagian ini merupakan kelanjutan dari seruan untuk beriman.
3. Konteks Historis & Sosial
Ketika surah ini turun, Nabi ﷺ telah menerima wahyu pertama dan mulai berdakwah secara pribadi. Fatrah (masa terhentinya wahyu) membuat beliau cemas. Setelah turunnya Al-Muddassir, beliau diperintahkan untuk dakwah secara terbuka. Masyarakat Mekah saat itu dipimpin oleh bangsawan Quraisy yang sangat mempertahankan tradisi penyembahan berhala. Al-Walid bin al-Mughirah adalah salah satu pemuka Quraisy yang kaya raya dan berpengaruh. Ia memiliki kebun dan anak-anak yang menjadi kebanggaan. Ketika mendengar Al-Qur'an, ia sebenarnya terkesan, tetapi kesombongan dan takut kehilangan statusnya mencegahnya untuk beriman. Ia lalu menyusun siasat untuk merendahkan Al-Qur'an dengan menyebutnya sihir dan perkataan manusia. Para pemuka Quraisy lainnya pun sepakat untuk menentang Nabi. Kondisi sosial ekonomi Mekah didominasi oleh sistem kabilah dan perdagangan. Kaum Muslim awal berasal dari kalangan lemah dan budak yang mendapatkan perlakuan kasar. Surah ini memberikan kekuatan kepada Nabi ﷺ dan para sahabat bahwa Allah akan membela mereka dan menghinakan musuh-musuh yang sombong.
4. Tema Sentral Surah
Tema utama surah Al-Muddassir adalah perintah untuk berdakwah dan peringatan keras terhadap mereka yang menolak kebenaran. Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surah ini mengandung tiga pokok: (1) Tugas seorang rasul: bangun, beri peringatan, agungkan Allah, bersihkan diri, tinggalkan dosa, jangan berharap balasan dunia, dan sabar; (2) Peringatan tentang hari Kiamat yang pasti datang; (3) Ancaman bagi orang yang mendustakan Al-Qur'an seperti yang dilakukan Al-Walid. At-Tabari menekankan bahwa seruan qum fa-andzir (bangun dan beri peringatan) merupakan titik awal perubahan sosial, dari dakwah sembunyi-sembunyi ke terang-terangan. As-Sa'di menyebutkan bahwa surah ini menggerakkan jiwa untuk memurnikan tauhid dan menjauhi kesyirikan. Munasabah dengan surah sebelumnya (Al-Muzzammil) sangat jelas: di Al-Muzzammil Nabi ﷺ diperintahkan untuk shalat malam, lalu di Al-Muddassir diperintahkan untuk berdakwah secara aktif. Keduanya dalam konteks awal kenabian.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Tidak ada hadits shahih khusus yang menyebutkan keutamaan membaca surah Al-Muddassir secara spesifik. Namun, surah ini termasuk dalam Al-Qur'an yang secara umum memiliki keutamaan. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari no. 5010 disebutkan, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Membaca surah ini adalah bagian dari ibadah. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surah ini dalam shalat, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 765) dari Jabir bahwa beliau membaca surah ini di dalam shalat. Ini menunjukkan bahwa surah ini termasuk bacaan yang diajarkan. Disebutkan pula bahwa ketika turun ayat wa tsiyabaka fathahhir, para sahabat memahaminya sebagai perintah untuk membersihkan pakaian dan hati. Keutamaan lainnya adalah sebagai peringatan agar tidak menjadi seperti Al-Walid yang sombong dan celaka.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu menafsirkan tsiyabaka fathahhir dengan “bersihkanlah pakaianmu dari najis, dan juga bersihkan hatimu dari dosa.” Mujahid bin Jabr berkata bahwa ar-rujza adalah perbuatan syirik, oleh karena itu diperintahkan untuk menjauhinya. Qatadah rahimahullah menafsirkan wala tamnun tastaktsir dengan janganlah kamu memberi sedekah dengan mengharap ganti yang lebih banyak. Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menukil dari Sa'id bin Jubair bahwa muddassir artinya orang yang berselimut dengan pakaian bagus. Al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa ayat wala tamnun juga berarti jangan menghitung-hitung amalmu. Terhadap ayat-ayat yang mencela Al-Walid, para ulama sepakat bahwa ia adalah pemuka Quraisy yang keras kepala. Ibnu Zaid mengatakan bahwa Al-Walid adalah orang yang paling keras menentang Nabi ﷺ. Perbedaan pendapat hanya pada detail siapa yang dimaksud dalam ayat man khalaqtu wahida. Sebagian mengatakan Al-Walid, sebagian lain mengatakan Umayyah bin Khalaf. Namun jumhur menetapkan Al-Walid.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
- Kewajiban Berdakwah: Setiap Muslim terinspirasi oleh perintah qum fa-andzir untuk menyampaikan kebenaran sesuai kemampuannya. Tidak ada kata malas dalam dakwah; Nabi ﷺ tetap berdakwah meskipun mendapat tentangan.
- Pembersihan Diri: Perintah membersihkan pakaian dan menjauhkan dosa (ar-rujz) mengajarkan pentingnya kesucian lahir dan batin dalam berdakwah. Seorang dai harus menjadi teladan.
- Keikhlasan: Larangan wala tamnun tastaktsir menekankan bahwa dakwah tidak boleh dijadikan alat mencari keuntungan duniawi. Niat harus lurus karena Allah.
- Kesabaran dan Tawakal: Ayat wa lirabbika fashbir mengajarkan bahwa kesabaran adalah kunci menghadapi ujian. Dakwah pasti berat, tetapi Allah bersama orang-orang sabar.
- Bahaya Kesombongan dan Harta: Kisah Al-Walid menjadi peringatan bahwa kekayaan dan jabatan bisa menjadi sumber kehancuran jika tidak disertai iman. Manusia harus rendah hati dan menerima kebenaran.
Pelajaran-pelajaran ini sangat relevan bagi pembaca modern. Kita diharapkan tidak tenggelam dalam kenikmatan duniawi tetapi tetap mengutamakan perintah Allah. Dalam menghadapi ejekan atau penolakan, kita harus bersabar dan terus berbuat baik.
8. Penutup & Doa
Surah Al-Muddassir merupakan fondasi dakwah Islam: perintah untuk bangkit, memperingatkan, dan membersihkan diri. Pesan utamanya adalah kewajiban berdakwah dan konsekuensi bagi yang menolak. Semoga kita termasuk dalam golongan yang menjalankan perintah dan selamat dari azab. Allahumma faqqihna fi dini wa 'allimna at-ta'wil. Allahumma inni as'aluka al-'afwa wal 'afiyah fid dunya wal akhirah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran. والله أعلم.
Sumber utama: Tafsir Ibn Kathir, Tafsir At-Tabari, Asbab an-Nuzul Al-Wahidi, Lubab an-Nuqul As-Suyuti, Shahih Bukhari dan Muslim.
Catatan: Beberapa nomor hadits disebutkan secara umum; pembaca dapat merujuk langsung ke kitab hadits untuk verifikasi.
(Ditulis dengan merujuk pada sumber-sumber klasik dan kontemporer yang shahih.)