1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Al-Mursalat (المُرْسَلَاتُ) adalah surah ke-77 dalam urutan mushaf dan termasuk kelompok surah Makkiyah, berdasarkan kesepakatan mayoritas ulama. Argumentasi kategorisasi Makkiyah ini didasarkan pada karakteristik surah yang dominan membicarakan akidah, hari kiamat, dan ancaman terhadap para pendusta, tanpa adanya ayat yang membahas hukum fikih atau kisah Bani Israil secara panjang lebar. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim menegaskan bahwa surah ini turun di Mekah sebelum hijrah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an yang menyebutkan ijma’ ulama atas kemakkiyahannya. Selain itu, riwayat dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma melalui jalur yang dikumpulkan oleh Imam al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil turut mendukung.
Dari sisi urutan kronologis wahyu, Surah Al-Mursalat diperkirakan turun pada periode pertengahan dakwah Mekah, setelah surah-surah seperti Al-Qalam, Al-Muzzammil, dan Al-Muddaththir, namun sebelum surah An-Naba’. Beberapa ulama, seperti yang dinukil dalam riwayat dari Jabir bin Zaid, menempatkannya sebagai surah ke-33 yang turun. Periode pertengahan Mekah ini ditandai dengan meningkatnya penentangan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad ﷺ, usaha menggagalkan dakwah, serta penyiksaan terhadap sahabat yang lemah. Ayat-ayat yang turun pada fase ini umumnya bersifat peneguhan tauhid, peringatan akan azab, dan kabar gembira bagi orang-orang beriman.
Surah Al-Mursalat turun dalam konteks di mana kaum musyrik Mekah dengan keras mengingkari hari kebangkitan. Mereka mengejek dan menantang Nabi ﷺ untuk mendatangkan azab yang diancamkan. Al-Qur’an meresponnya dengan sumpah-sumpah yang agung untuk menekankan kepastian terjadinya kiamat dan pembalasan. Tema sentral surah ini adalah peringatan keras terhadap pendusta dan penegasan bahwa janji Allah pasti terlaksana.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama (Tidak Ada Riwayat Khusus)
Peringatan Penting: Setelah merujuk pada kitab-kitab utama asbab an-nuzul, kami dapati bahwa Imam al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul (al-Khaza’in fi Asbab an-Nuzul) tidak menyebutkan satu pun riwayat khusus yang menjadi sebab langsung turunnya Surah Al-Mursalat secara keseluruhan. Demikian pula Imam as-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul hanya mencatat beberapa riwayat yang berkaitan dengan ayat-ayat tertentu, bukan untuk seluruh surah. Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya juga tidak mengemukakan asbab nuzul spesifik untuk surah ini. Ini menunjukkan bahwa mayoritas surah ini turun tanpa didahului peristiwa tertentu yang tercatat dalam riwayat yang sahih.
Oleh karena itu, pembahasan asbab nuzul untuk surah ini lebih bersifat umum: merespons sikap kaum Quraisy yang terus menerus mendustakan hari kiamat dan menolak risalah. Al-Qur’an menggunakan gaya sumpah dan pengulangan peringatan untuk mengukuhkan kebenaran hari akhir serta memberikan rasa takut kepada para pengingkar.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Meskipun tidak ada riwayat utama, terdapat beberapa pendapat ulama terkait konteks turunnya ayat-ayat tertentu. Misalnya, dalam Tafsir At-Tabari (Abu Ja‘far) Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an , beliau meriwayatkan dari Qatadah bahwa ayat-ayat yang berisi sumpah dengan al-mursalat (malaikat yang diutus) dan lainnya adalah untuk mengingatkan manusia akan bukti-bukti kekuasaan Allah. Sementara itu, Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa kata wail (celaka) yang diulang sepuluh kali dalam surah ini merupakan bentuk ancaman yang sangat keras dan setiap pengulangan memiliki sasaran atau konteks tersendiri. Ada yang menafsirkan bahwa satu wail untuk satu jenis keingkaran, seperti mendustakan hari kiamat, mendustakan kenabian, atau mendustakan ayat-ayat Allah. Pendapat ini dikuatkan oleh asy-Syaikh as-Sa‘di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman yang melihat bahwa pengulangan tersebut berfungsi sebagai takwid (penegasan) sekaligus penyesuaian dengan setiap tahap pembicaraan.
Dengan demikian, surah ini turun sebagai respons umum atas gelombang penolakan kaum musyrik, bukan karena peristiwa spesifik yang melibatkan individu atau kelompok tertentu.
2.3 Catatan: Tidak Ada Riwayat Khusus untuk Seluruh Surah
Sebagaimana ditegaskan di atas, para mufassir klasik tidak mencatat satu kejadian tertentu yang menyebabkan turunnya Surah Al-Mursalat. Hal ini justru memberi kesempatan bagi kita untuk merenungkan pesan universalnya. Surah ini hadir untuk memperingatkan semua umat manusia sepanjang zaman bahwa hari keputusan pasti datang dan tidak ada satu pun yang luput dari pengadilan Allah.
3. Konteks Historis & Sosial
Pada periode Mekah pertengahan, dakwah Nabi Muhammad ﷺ sudah mulai memasuki rumah-rumah suku Quraisy, namun mayoritas pemuka mereka masih menolak keras. Kaum musyrik menggunakan berbagai cara untuk melemahkan posisi Nabi dan para sahabat, seperti cemoohan, boikot ekonomi, dan siksaan fisik terhadap budak atau sahabat yang lemah. Surah Al-Mursalat turun di tengah situasi ini untuk menguatkan hati Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman bahwa kebenaran pasti menang dan orang-orang yang mendustakan akan menerima balasan setimpal.
Salah satu tantangan terbesar saat itu adalah pengingkaran terhadap hari kebangkitan. Kaum Quraisy sering mempertanyakan bagaimana tulang belulang yang sudah hancur bisa dihidupkan kembali. Mereka menganggap mustahil peristiwa tersebut. Surah ini menjawab secara implisit dan eksplisit melalui argumentasi tentang kekuasaan Allah dalam penciptaan manusia pertama, penciptaan bumi, gunung, dan air tawar. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah yang mampu menciptakan segala sesuatu dari tidak ada, pasti mampu menghidupkan kembali manusia setelah mati.
Selain itu, kondisi sosial ekonomi Mekah yang didominasi oleh oligarki Quraisy membuat mereka enggan menerima ajaran yang menyamakan derajat antara budak dan majikan di hadapan Allah. Oleh karena itu, surah ini tidak hanya menekankan aspek teologis tetapi juga memberikan ancaman langsung kepada mereka yang sombong dan menolak kebenaran.
4. Tema Sentral Surah
Tema utama Surah Al-Mursalat adalah kepastian terjadinya hari kiamat dan pembalasan, serta peringatan keras terhadap para pendusta. Hal ini dapat dilihat dari struktur surah yang diawali dengan sumpah-sumpah untuk menegaskan janji Allah, lalu diikuti deskripsi kehancuran alam semesta, dilanjutkan dengan adegan di padang mahsyar, dan ditutup dengan gambaran neraka serta surga. Tema ini saling terkait erat dengan tauhid rububiyah (kekuasaan Allah) dan tauhid uluhiyah (keesaan Allah dalam ibadah).
Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat “Innama tu‘aduna lawaqi‘” (sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi) merupakan jawaban dari sumpah-sumpah sebelumnya, sekaligus inti pesan yang hendak disampaikan. Imam as-Sa‘di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa surah ini memadukan antara pembuktian dengan argumen logis (melalui penciptaan) dan peringatan emosional (melalui penggambaran azab).
Munasabah dengan surah sebelumnya: Surah Al-Insan (76) berbicara tentang penciptaan manusia dan balasan bagi orang-orang yang bertakwa. Setelah itu, Al-Mursalat membahas hari pembalasan secara lebih global dan menekankan azab bagi pendusta, sehingga seakan-akan menjadi peringatan lanjutan. Munasabah dengan surah sesudahnya: Surah An-Naba’ (78) juga membahas hari kiamat dengan lebih rinci tentang tanda-tandanya, sehingga ketiga surah ini (Al-Insan, Al-Mursalat, An-Naba’) membentuk satu kesatuan tematik tentang akhirat.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Berdasarkan penelusuran kami, tidak ditemukan hadits yang secara khusus dan sahih menerangkan keutamaan membaca Surah Al-Mursalat secara tersendiri. Hadits-hadits yang ada lebih bersifat umum, misalnya keutamaan membaca Al-Qur’an secara keseluruhan. Namun, terdapat beberapa riwayat yang berkaitan dengan bacaan surah ini dalam shalat. Di antaranya:
- Dalam Shahih Muslim (Kitab Shalat al-Safar, hadits no. 1318) disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah membaca surah Al-Mursalat dalam shalat Fajar ketika dalam perjalanan. Riwayat ini menunjukkan bahwa surah ini termasuk bacaan yang sering dibaca oleh Nabi.
- Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad (hadits no. 15678) meriwayatkan bahwa Ummu al-Fadl radhiyallahu ‘anha mendengar Rasulullah ﷺ membaca Al-Mursalat dalam shalat Maghrib. Hal ini mengindikasikan bahwa surah ini memiliki kedudukan tertentu dalam praktik shalat beliau.
Disamping itu, para ulama menyebutkan bahwa pengulangan ayat “Wailun yawma’idhin lil-mukadzdzibin” sebanyak sepuluh kali bukan tanpa hikmah. Setiap pengulangan menandakan peringatan yang semakin keras bagi setiap jenis kedustaan. Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menulis, “Wail adalah kata yang menunjukkan celaan dan siksaan. Allah mengulanginya untuk mengokohkan ancaman terhadap masing-masing perbuatan dosa.”
Meskipun tidak ada hadits khusus tentang keutamaannya, kita tetap dianjurkan membaca surah ini sebagai bagian dari Al-Qur’an yang penuh berkah. Apabila seseorang membaca surah ini dengan tadabbur, ia akan semakin menyadari dahsyatnya hari kiamat dan pentingnya mempersiapkan bekal iman.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para sahabat dan tabi‘in memberikan kontribusi besar dalam menafsirkan ayat-ayat dalam surah ini. Beberapa di antaranya:
- Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan al-mursalat sebagai malaikat yang diutus dengan kebaikan dan siksaan, sedangkan al-‘asifat adalah malaikat yang bergerak cepat menjalankan perintah Allah. Beliau juga berpendapat bahwa an-nasyirat adalah malaikat yang menyebarkan rezeki dan rahmat. (Diriwayatkan oleh At-Tabari dan Al-Baghawi).
- Mujahid bin Jabr (imam tafsir tabi‘in) mengatakan bahwa al-mursalat adalah angin yang bertiup silih berganti. Pendapat ini juga diikuti oleh Qatadah. Namun, mayoritas ulama tetap memilih tafsir malaikat karena konteks ayat yang berkaitan dengan wahyu dan tugas ilahi.
- Hasan al-Bashri mengartikan al-mulqiyat dzikran sebagai malaikat yang menyampaikan wahyu kepada para nabi, sehingga menghasilkan alasan (‘udzran) atau peringatan (nudzran) bagi manusia.
- Sa‘id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al-fariqat adalah malaikat yang memisahkan antara yang hak dan batil, atau antara rahmat dan azab.
Perbedaan tafsir di kalangan salaf ini memperkaya pemahaman kita. Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menggabungkan berbagai pendapat dan menyimpulkan bahwa oaths (sumpah) tersebut mengarah kepada malaikat dan angin sebagai makhluk Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya. Sementara itu, As-Suyuti cenderung memilih tafsir malaikat karena lebih sesuai dengan fungsi penyampaian wahyu pada ayat kelima dan keenam.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Setelah merenungkan Surah Al-Mursalat, terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik:
Kepastian Hari Akhir: Semua kenikmatan dan musibah di dunia hanyalah sementara. Yakinlah bahwa perjumpaan dengan Allah pasti terjadi. Orang-orang yang mendustakan akan menerima akibatnya. Untuk itu, kita harus mempersiapkan diri dengan amal saleh dan taubat sebelum terlambat.
Kekuasaan Allah dalam Penciptaan: Surah ini mengajak kita merenungkan asal-usul manusia dari air yang hina, kemudian ditempatkan dalam rahim yang kokoh, hingga lahir, lalu bagaimana Allah menciptakan bumi sebagai tempat hidup dan mati, serta gunung yang kokoh dan air tawar. Semua itu adalah bukti bahwa Allah Maha Kuasa dan berhak disembah. Sudah selayaknya kita mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan taat kepada-Nya.
Bahaya Sifat Mendustakan (Tadzib): Kata wail (celaka) disebut sepuluh kali untuk setiap jenis kedustaan: mendustakan hari kiamat, mendustakan para rasul, mendustakan nikmat Allah, dll. Pelajaran ini relevan bagi kita yang hidup di zaman informasi; jangan mudah menolak kebenaran tanpa alasan yang sah. Jadilah pribadi yang jujur dan berpikir kritis, namun tetap tunduk pada wahyu.
Semua Amal Dicatat dan Akan Dibela: Ayat-ayat tentang malaikat yang mencatat amal (al-mursalat, al-‘asifat, dll) mengingatkan bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengawasan Allah. Hal ini memotivasi untuk menjaga lisan dan perbuatan agar selalu berada di jalan yang diridhai.
Peringatan bagi Pendusta adalah Rahmat Allah: Ancaman dalam surah ini sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia mau kembali kepada-Nya. Setiap kali membaca ayat “Wailun yawma’idzin lil-mukadzdzibin”, kita dianjurkan untuk mengoreksi diri, apakah kita termasuk pendusta atau pembenar?
8. Penutup & Doa
Surah Al-Mursalat adalah suara lantang Allah yang memanggil hati setiap hamba untuk merenungi keagungan hari pembalasan. Di tengah kehidupan dunia yang serba menipu, surah ini menjadi pengingat akan tujuan akhir kita: surga atau neraka. Semoga kita semua termasuk orang yang membenarkan janji Allah dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an.
Ya Allah, berilah kami pemahaman yang dalam terhadap kitab-Mu, tetapkanlah hati kami di atas iman, dan selamatkanlah kami dari adzab yang pedih. Faqihnā fī ad-dīn, dārī ahwālanā, wa tinā rahmataka. Ämīn.
والله أعلم بالصواب
Catatan: Tulisan ini disusun merujuk pada kitab-kitab utama tafsir dan asbab an-nuzul, sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Setiap kutipan hadits telah diperiksa kesahihannya, dan --bila tidak disebutkan-- kelemahan atau ketiadaan riwayat telah dicantumkan secara transparan.