← Kembali ke pelajaran
Hari 31 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Buruj (سورة البروج), surah ke-85 dalam mushaf Al-Qur'an, adalah surah yang disepakati oleh mayoritas ulama (jumhur) sebagai surah Makkiyah. Kesepakatan ini didasarkan pada riwayat-riwayat dari para sahabat dan tabi'in terkemuka. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menyatakan, "Ia adalah surah Makkiyah menurut kesepakatan mereka (para ulama)." Pendapat ini juga dikuatkan oleh para mufasir klasik seperti Imam At-Tabari, Al-Baghawi, dan Ibn Kathir. Dalil utamanya adalah konten dan gaya bahasa surah ini, yang sangat khas dengan surah-surah yang turun di Mekah. Di dalamnya terdapat penekanan kuat pada pilar-pilar akidah seperti keimanan kepada Allah, Hari Kebangkitan, dan balasan di akhirat. Selain itu, surah ini berisi tentang kisah-kisah umat terdahulu sebagai tasliyah (penghiburan) bagi Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat yang sedang mengalami penindasan hebat dari kaum kafir Quraisy.

Dari sisi urutan turunnya wahyu (tartib an-nuzul), para ulama seperti Jabir bin Zaid menempatkan Surah Al-Buruj sebagai surah ke-27 yang diwahyukan, yaitu setelah Surah Asy-Syams dan sebelum Surah At-Tin. Posisi ini menempatkannya pada periode pertengahan dakwah di Mekah. Periode ini adalah masa di mana eskalasi permusuhan dan penyiksaan dari kaum Quraisy terhadap kaum muslimin yang lemah semakin menjadi-jadi. Setelah dakwah secara terang-terangan dimulai, para pemuka Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan Umayyah bin Khalaf melancarkan berbagai bentuk intimidasi fisik dan psikologis. Para sahabat seperti Bilal bin Rabah, keluarga Yasir (Ammar, Yasir, dan Sumayyah), Khabbab bin al-Aratt, dan lainnya menjadi sasaran kebrutalan mereka. Mereka disiksa di tengah terik matahari, ditindih batu besar, dan dicambuk, semata-mata karena mereka mengucapkan "Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa). Dalam suasana yang penuh tekanan dan penderitaan inilah Surah Al-Buruj diturunkan. Ia datang bukan hanya sebagai ancaman bagi orang-orang kafir, tetapi juga sebagai peneguh hati dan penguat jiwa bagi orang-orang beriman, mengingatkan mereka bahwa jalan keimanan memang menuntut pengorbanan, dan kesabaran mereka akan berbuah kemenangan abadi di sisi Allah.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

Para ulama tafsir terkemuka seperti Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul dan Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul tidak menyebutkan adanya satu peristiwa spesifik (sabab nuzul khas) yang menjadi latar belakang turunnya Surah Al-Buruj secara keseluruhan. Tidak ada riwayat shahih yang menyatakan bahwa surah ini turun sebagai respons langsung terhadap satu kejadian tertentu yang dialami oleh Nabi ﷺ atau para sahabatnya pada saat itu. Namun, para ulama sepakat bahwa konteks umum (sabab nuzul 'am) turunnya surah ini adalah untuk menghibur dan menguatkan kaum muslimin yang sedang ditindas di Mekah, dengan menyajikan sebuah kisah monumental tentang keteguhan iman dari umat terdahulu.

Fokus utama dari asbab an-nuzul dalam surah ini tertuju pada ayat 4-8, yang mengisahkan tentang Ashab al-Ukhdud (أصحاب الأخدود), atau para pembuat parit.

2.1 Riwayat Utama: Kisah Pemuda, Penyihir, dan Raja

Riwayat paling shahih dan terperinci mengenai Ashab al-Ukhdud adalah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa'iq, hadits no. 3005) dari sahabat Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Dahulu, ada seorang raja pada zaman sebelum kalian yang memiliki seorang penyihir. Ketika penyihir itu sudah tua, ia berkata kepada sang raja, 'Aku sudah tua, maka kirimkanlah kepadaku seorang pemuda untuk aku ajari sihir.' Raja pun mengirimkan seorang pemuda kepadanya. Di tengah perjalanannya (untuk belajar sihir), pemuda itu bertemu dengan seorang rahib (ahli ibadah yang beriman). Ia duduk dan mendengarkan perkataan rahib itu yang membuatnya kagum. Setiap kali datang ke penyihir, ia mampir dulu ke rahib dan duduk bersamanya. Jika ia datang ke penyihir, penyihir itu akan memukulnya (karena terlambat). Pemuda itu mengadukan hal ini kepada sang rahib. Rahib itu berkata, 'Jika engkau takut kepada penyihir, katakanlah, 'Keluargaku menahanku.' Dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakanlah, 'Penyihir menahanku.'

Dalam keadaan seperti itu, suatu hari ia bertemu dengan seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang-orang. Pemuda itu berkata, 'Hari ini aku akan tahu, apakah ajaran penyihir yang lebih baik atau ajaran rahib.' Ia pun mengambil sebuah batu dan berkata, 'Ya Allah, jika ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada ajaran penyihir, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Lalu ia melempar batu itu dan binatang itu pun mati. Orang-orang pun bisa lewat. Pemuda itu kemudian mendatangi sang rahib dan menceritakan kejadian tersebut. Sang rahib berkata, 'Wahai anakku, hari ini engkau lebih utama dariku. Urusanmu telah mencapai tingkat yang aku lihat. Sungguh, engkau akan diuji. Jika engkau diuji, janganlah engkau menunjukkan keberadaanku.'

Pemuda itu kemudian bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir, orang yang berpenyakit kusta, dan mengobati berbagai macam penyakit. Salah seorang teman dekat raja yang buta mendengar tentangnya. Ia datang membawa banyak hadiah dan berkata, 'Semua ini untukmu jika engkau bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu menjawab, 'Aku tidak bisa menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya, dan Dia akan menyembuhkanmu.' Orang itu pun beriman kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya. Ia kemudian datang kepada raja dan duduk di tempat biasanya. Raja bertanya, 'Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?' Ia menjawab, 'Tuhanku.' Raja bertanya lagi, 'Apakah engkau punya tuhan selain aku?' Ia menjawab, 'Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Raja pun menangkapnya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan keberadaan sang pemuda.

Pemuda itu pun didatangkan. Raja berkata kepadanya, 'Wahai anakku, sihirmu telah mencapai tingkat bisa menyembuhkan orang buta dan kusta, serta melakukan ini dan itu.' Pemuda itu menjawab, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah.' Raja menangkapnya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan keberadaan sang rahib. Rahib itu pun didatangkan, dan diperintahkan, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia menolak. Raja meminta gergaji, lalu meletakkannya di tengah kepalanya dan membelahnya menjadi dua. Kemudian teman dekat raja itu didatangkan dan diperintahkan, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Gergaji diletakkan di tengah kepalanya dan ia dibelah menjadi dua.

Kemudian pemuda itu didatangkan dan diperintahkan, 'Tinggalkan agamamu!' Ia menolak. Raja menyerahkannya kepada beberapa pengawalnya dan berkata, 'Bawalah ia ke puncak gunung ini. Jika ia meninggalkan agamanya (maka biarkan), jika tidak, lemparkan ia dari atas.' Mereka membawanya ke puncak gunung. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, cukupilah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.' Gunung itu pun bergetar dan mereka semua jatuh (mati). Pemuda itu kembali berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada teman-temanmu?' Ia menjawab, 'Allah telah mencukupiku dari mereka.'

Raja kembali menyerahkannya kepada sekelompok pengawal lain dan berkata, 'Bawalah ia dengan sebuah perahu ke tengah laut. Jika ia meninggalkan agamanya, (biarkan), jika tidak, tenggelamkan ia.' Mereka membawanya. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, cukupilah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.' Perahu itu pun terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu kembali berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada teman-temanmu?' Ia menjawab, 'Allah telah mencukupiku dari mereka.'

Lalu pemuda itu berkata kepada raja, 'Engkau tidak akan bisa membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apa itu?' Ia menjawab, 'Kumpulkan semua orang di satu tanah lapang, salib aku di sebatang pohon, lalu ambillah anak panah dari tempat panahku, letakkan di busur, dan ucapkanlah: 'Bismillahi Rabbil ghulam' (Dengan nama Allah, Tuhannya pemuda ini), lalu panahlah aku. Jika engkau melakukan itu, engkau akan bisa membunuhku.'

Raja pun mengumpulkan orang-orang di tanah lapang, menyalibnya di sebatang pohon, mengambil anak panah dari tempatnya, meletakkannya di busur, lalu mengucapkan, 'Bismillahi Rabbil ghulam,' dan memanahnya. Anak panah itu mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya dan meninggal. Melihat itu, orang-orang serentak berkata, 'Kami beriman kepada Tuhannya pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhannya pemuda ini! Kami beriman kepada Tuhannya pemuda ini!'

Seseorang datang kepada raja dan berkata, 'Tahukah engkau apa yang engkau takutkan? Demi Allah, itu telah terjadi. Semua orang telah beriman.' Maka, raja memerintahkan untuk menggali parit-parit (ukhdud) di pinggir jalan, lalu menyalakan api di dalamnya. Raja berkata, 'Siapa pun yang tidak meninggalkan agamanya, lemparkan ia ke dalamnya!' Mereka pun melakukannya, hingga datang seorang wanita bersama bayinya. Wanita itu ragu-ragu untuk masuk ke dalam api. Bayinya pun berkata (dengan izin Allah), 'Wahai ibuku, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'"

Hadits yang agung ini menjadi penjelasan utama bagi ayat-ayat tentang Ashab al-Ukhdud. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menegaskan bahwa kisah ini adalah tafsir yang paling kuat untuk ayat tersebut.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain hadits Shuhaib, para ahli sejarah dan tafsir seperti At-Tabari dalam Jami' al-Bayan dan Ibn Hisham dalam As-Sirah an-Nabawiyyah menyebutkan riwayat lain yang menunjuk pada sebuah peristiwa historis di Najran, Yaman, yang terjadi sekitar sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Menurut riwayat ini, seorang raja Yahudi bernama Dzu Nuwas (Yusuf As'ar Yath'ar) memaksa penduduk Najran yang beragama Nasrani (Kristen tauhid) untuk murtad dan memeluk agama Yahudi. Ketika mereka menolak, Dzu Nuwas memerintahkan pasukannya untuk menggali parit besar, mengisinya dengan api, dan melemparkan setiap orang yang beriman ke dalamnya. Diperkirakan puluhan ribu orang dibakar hidup-hidup. Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu kejahatan genosida terbesar pada masa itu dan menjadi latar belakang historis yang sering dirujuk oleh para mufasir ketika menjelaskan ayat-ayat ini. Imam Al-Qurthubi dan Al-Baghawi juga menukil kisah ini dalam tafsir mereka. Meskipun detailnya berbeda, esensi dari kedua riwayat (hadits Shuhaib dan kisah Dzu Nuwas) adalah sama: penindasan brutal terhadap orang-orang beriman yang teguh memegang akidah mereka hingga akhir hayat.

Para ulama menyimpulkan bahwa meskipun ada beberapa versi kisah, yang terpenting adalah pelajaran di baliknya. Tidak ada pertentangan antara riwayat-riwayat tersebut; bisa jadi peristiwa serupa terjadi di beberapa tempat dan zaman yang berbeda. Al-Qur'an menyebutkan kisah ini secara umum tanpa merinci nama, tempat, atau waktu, agar pelajarannya bersifat universal dan abadi.

3. Konteks Historis & Sosial

Turunnya Surah Al-Buruj di Mekah terjadi pada saat dakwah Islam berada dalam fase yang sangat kritis. Kaum muslimin, yang saat itu mayoritas terdiri dari orang-orang lemah, budak, dan orang-orang tanpa perlindungan suku yang kuat, menjadi bulan-bulanan kaum Quraisy. Mereka menghadapi berbagai bentuk penyiksaan yang bertujuan untuk memaksa mereka kembali kepada kemusyrikan.

  1. Penyiksaan Fisik yang Kejam: Sebagaimana dicatat oleh Ibn Hisham dalam As-Sirah an-Nabawiyyah, Bilal bin Rabah dijemur di padang pasir dengan batu besar di dadanya. Keluarga Yasir disiksa hingga Sumayyah, ibunda Ammar, menjadi syahidah pertama dalam Islam setelah ditikam oleh Abu Jahal. Khabbab bin al-Aratt dipaksa berbaring di atas bara api hingga lemak punggungnya meleleh. Ini adalah realitas sehari-hari bagi para sahabat awal.

  2. Tekanan Psikologis dan Boikot Sosial: Selain siksaan fisik, kaum muslimin juga menghadapi tekanan mental, cemoohan, dan isolasi sosial. Mereka dianggap sebagai pengkhianat tradisi nenek moyang dan pemecah belah masyarakat. Puncaknya adalah pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib, yang membuat mereka terkurung di sebuah lembah selama tiga tahun, menderita kelaparan dan kesulitan yang luar biasa.

Dalam konteks yang mencekam inilah Surah Al-Buruj hadir sebagai sumber kekuatan. Kisah Ashab al-Ukhdud bukanlah sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin bagi para sahabat. Mereka melihat diri mereka dalam kisah orang-orang beriman yang dibakar itu. Mereka belajar bahwa:

  • Perjuangan mempertahankan iman bukanlah hal baru. Umat-umat terdahulu telah menghadapi ujian yang jauh lebih berat.
  • Kemenangan sejati tidak selalu berarti kemenangan fisik di dunia. Kemenangan hakiki adalah keteguhan memegang iman hingga akhir hayat, meskipun harus dibayar dengan nyawa. Ini adalah pesan yang sangat kuat bagi para sahabat yang sedang diuji.
  • Allah Maha Melihat dan Maha Menyaksikan. Tidak ada satu pun penderitaan orang beriman yang luput dari pengawasan-Nya. Allah adalah Syahid (Maha Menyaksikan), dan Dia akan memberikan balasan yang setimpal.
  • Ancaman bagi para penindas. Sebagaimana Allah melaknat Ashab al-Ukhdud (قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ), Allah juga mengancam para penindas Quraisy dengan azab yang pedih (فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ). Ini adalah peringatan keras bagi Abu Jahal dan para kroninya.

Surah ini, oleh karena itu, berfungsi sebagai peneguh iman (tathbit al-iman), penghibur jiwa (tasliyah an-nufus), dan ancaman bagi musuh (tahdid al-a'da'). Ia mengubah perspektif para sahabat dari melihat penderitaan sebagai kekalahan menjadi melihatnya sebagai ujian menuju kemenangan abadi.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral Surah Al-Buruj adalah keteguhan iman (ats-tsabat 'ala al-haqq) dalam menghadapi ujian dan tirani, serta kepastian balasan Allah bagi orang-orang beriman dan orang-orang kafir.

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya, Taysir al-Karim ar-Rahman, menjelaskan bahwa surah ini mengandung janji bagi orang-orang beriman dan ancaman bagi orang-orang kafir. Ia memaparkan kisah Ashab al-Ukhdud sebagai contoh nyata bagaimana orang-orang beriman rela mengorbankan nyawa mereka demi mempertahankan akidah, dan bagaimana para tiran akan mendapatkan balasan yang setimpal. Seluruh struktur surah ini dibangun di atas tema ini:

  1. Sumpah Agung (Ayat 1-3): Surah dibuka dengan sumpah Allah dengan langit yang memiliki gugusan bintang (al-buruj), hari yang dijanjikan (Hari Kiamat), serta yang menyaksikan (syahid) dan yang disaksikan (masyhud). Sumpah ini mengisyaratkan keagungan, kekuasaan, dan pengawasan Allah yang mutlak atas segala peristiwa di alam semesta, termasuk ujian yang menimpa hamba-hamba-Nya.

  2. Kisah Puncak Keteguhan (Ayat 4-11): Inti surah ini adalah kisah Ashab al-Ukhdud. Ayat-ayat ini menyoroti kontras tajam antara keimanan yang kokoh dan kekufuran yang brutal. Puncak pesannya adalah bahwa satu-satunya "kesalahan" orang-orang beriman itu adalah karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ). Kemudian, Allah langsung menjanjikan balasan yang setimpal: azab neraka yang membakar bagi para penindas, dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai bagi orang-orang beriman. Ini adalah kemenangan yang besar (ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ).

  3. Penegasan Kekuasaan Allah (Ayat 12-20): Setelah kisah tersebut, Allah menegaskan sifat-sifat-Nya yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang absolut. Siksa-Nya amat keras (inna bathsya rabbika lasyadid), Dia-lah yang memulai penciptaan dan mengembalikannya, Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih (al-Ghafur al-Wadud), Pemilik 'Arsy, dan Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki. Penegasan ini dilanjutkan dengan menyebutkan kebinasaan Firaun dan Tsamud sebagai contoh nyata dari siksa-Nya di dunia, sambil menegaskan bahwa Allah meliputi orang-orang kafir dari segala arah (وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ).

  4. Penutup tentang Kemuliaan Al-Qur'an (Ayat 21-22): Surah ditutup dengan pernyataan bahwa Al-Qur'an bukanlah kebohongan, melainkan kitab yang mulia (Qur'anun Majid) yang terjaga di Lauh Mahfuzh. Ini adalah penegasan bahwa sumber kekuatan, petunjuk, dan penghiburan bagi orang-orang beriman (yaitu Al-Qur'an) adalah wahyu yang asli, terjaga, dan datang dari Allah Yang Maha Perkasa.

Munasabah (Keterkaitan): Surah Al-Buruj memiliki kaitan erat dengan surah sebelumnya, Al-Inshiqaq, yang berfokus pada detail peristiwa Hari Kiamat dan pembalasan amal. Al-Buruj memberikan contoh historis nyata tentang bagaimana prinsip pembalasan itu berlaku, dengan menyajikan kisah kaum yang diuji dan bagaimana kesudahan mereka di akhirat. Ia juga terkait dengan surah sesudahnya, At-Tariq, yang menekankan pengawasan Allah yang ketat atas setiap jiwa, sejalan dengan tema Allah sebagai Syahid (Maha Menyaksikan) dalam Al-Buruj.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak ditemukan hadits shahih yang secara spesifik menyebutkan keutamaan khusus bagi orang yang membaca Surah Al-Buruj, seperti pahala tertentu atau manfaat duniawi tertentu. Namun, terdapat riwayat shahih yang menunjukkan bahwa surah ini termasuk surah yang sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ dalam shalat.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (hadits no. 762) dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim (hadits no. 467) dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ membaca dalam shalat Zhuhur dan Ashar: Was-sama'i wat-thariq dan Was-sama'i dzatil buruj dan surah-surah semisalnya."

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membaca surah-surah al-mufasshal (surah-surah pendek di akhir Al-Qur'an) dalam shalat Isya. Beliau bersabda: "Rasulullah ﷺ membaca dalam shalat Isya yang terakhir Was-sama'i dzatil buruj dan Was-sama'i wat-thariq." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan dinilai shahih oleh para ulama hadits).

Fakta bahwa Rasulullah ﷺ sering membacanya dalam shalat menunjukkan pentingnya kandungan surah ini untuk direnungkan secara berulang-ulang oleh setiap muslim. Membaca surah ini dalam shalat membantu mengingatkan diri akan hakikat ujian, pentingnya kesabaran, dan keagungan kekuasaan Allah. Selain itu, Surah Al-Buruj termasuk dalam keumuman hadits tentang keutamaan membaca Al-Qur'an, di mana setiap hurufnya diganjar dengan sepuluh kebaikan.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para ulama salaf memberikan perhatian khusus dalam menafsirkan beberapa ayat kunci dalam Surah Al-Buruj, terutama pada ayat-ayat sumpah di awal surah.

  • Tentang 'Syahid wa Masyhud' (وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ): Terdapat beragam penafsiran dari para sahabat dan tabi'in mengenai makna ayat ini, yang menunjukkan betapa luasnya makna yang terkandung di dalamnya. Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan merangkum beberapa pendapat utama:

    1. Pendapat yang paling populer, dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, Ikrimah, dan Adh-Dhahhak, adalah bahwa asy-Syahid (yang menyaksikan) adalah Hari Jumat, dan al-Masyhud (yang disaksikan) adalah Hari Arafah. Ini didukung oleh hadits, meskipun statusnya diperselisihkan.
    2. Pendapat lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan Sa'id bin al-Musayyab, asy-Syahid adalah Hari Jumat dan al-Masyhud adalah Hari Kiamat (al-Yawm al-Maw'ud).
    3. Mujahid bin Jabr dan beberapa tabi'in lainnya berpendapat bahwa asy-Syahid adalah manusia (yang akan menjadi saksi), dan al-Masyhud adalah Hari Kiamat.
    4. Pendapat lain dari Ibn Abbas dan Sa'id bin Jubair adalah bahwa asy-Syahid adalah Allah, dan al-Masyhud adalah seluruh makhluk.
    5. Ada juga yang menafsirkan asy-Syahid adalah Nabi Muhammad ﷺ dan al-Masyhud adalah umatnya.
      Imam At-Tabari, setelah memaparkan semua pendapat ini, cenderung pada pandangan bahwa ayat ini bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang menyaksikan dan disaksikan. Sumpah ini, dengan segala kemungkinan maknanya, bertujuan untuk menunjukkan keagungan Allah yang menciptakan segala saksi dan apa yang dipersaksikan.
  • Tentang 'Al-Ghafur Al-Wadud' (وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ): Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan Al-Wadud sebagai Al-Habib (Yang Maha Mencintai). Para ulama seperti Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menjelaskan bahwa Al-Wadud memiliki dua makna: (1) Yang Mencintai hamba-hamba-Nya yang shaleh, dan (2) Yang Dicintai oleh hamba-hamba-Nya. Penempatan sifat Al-Wadud setelah Al-Ghafur (Maha Pengampun) memberikan pesan harapan yang luar biasa. Allah tidak hanya mengampuni dosa hamba-Nya yang bertaubat, tetapi Dia juga mencintainya. Ini adalah pesan yang sangat kuat, terutama setelah ayat-ayat yang berbicara tentang azab yang keras. Ia menunjukkan keseimbangan antara keadilan dan rahmat Allah.

  • Tentang 'Wallahu min wara'ihim muhith' (وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ): Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini adalah penegasan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah bisa lari dari kekuasaan dan azab Allah. Mujahid dan Qatadah berkata, "(Allah) meliputi mereka, sehingga mereka tidak dapat melemahkan-Nya." Imam Al-Qurthubi menambahkan, "Ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi mereka, tidak ada satu pun urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya." Ini adalah pesan yang menenangkan bagi kaum beriman bahwa musuh-musuh mereka, sekuat apa pun kelihatannya, berada sepenuhnya dalam genggaman Allah.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

Surah Al-Buruj bukanlah sekadar catatan sejarah, melainkan sumber pelajaran abadi yang sangat relevan bagi setiap muslim di setiap zaman. Beberapa ibrah yang dapat dipetik adalah:

  1. Harga Sebuah Keimanan: Kisah Ashab al-Ukhdud mengajarkan bahwa iman adalah aset paling berharga yang melebihi nyawa itu sendiri. Mereka memilih dibakar hidup-hidup daripada harus melepaskan akidah tauhid. Di zaman modern, ujian keimanan mungkin tidak selalu berbentuk parit api, tetapi bisa berupa tekanan sosial untuk meninggalkan syariat, godaan materi untuk mengkompromikan prinsip, atau cemoohan karena memegang teguh nilai-nilai Islam. Surah ini mengingatkan kita untuk bertanya pada diri sendiri: Seberapa besar nilai iman kita? Apakah kita siap berkorban untuk mempertahankannya?

  2. Kemenangan Sejati Adalah Keteguhan (Tsabat): Surah ini mendefinisikan ulang arti kemenangan. Secara kasat mata, Ashab al-Ukhdud terlihat kalah; mereka semua mati dibunuh. Namun, di mata Allah, mereka adalah pemenang sejati (ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ). Kemenangan mereka terletak pada keteguhan mereka untuk tidak tunduk pada kekufuran. Ini adalah pelajaran penting bagi kaum muslimin hari ini agar tidak mengukur keberhasilan dakwah atau perjuangan hanya dari hasil duniawi. Istiqamah di atas kebenaran hingga akhir hayat adalah kemenangan itu sendiri, terlepas dari apa pun hasilnya di dunia.

  3. Allah Maha Menyaksikan dan Keadilan-Nya Pasti Datang: Di tengah kezaliman yang merajalela di dunia, seringkali muncul perasaan putus asa. Surah ini adalah obatnya. Allah bersumpah dengan Syahid dan Masyhud, dan menegaskan bahwa Dia Maha Menyaksikan perbuatan para tiran (وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ). Tidak ada setetes darah, sebutir air mata, atau sebuah doa orang yang terzalimi yang sia-sia. Keadilan mungkin tertunda menurut perhitungan manusia, tetapi ia pasti akan datang pada al-Yawm al-Maw'ud (hari yang dijanjikan). Keyakinan ini memberikan ketenangan dan kekuatan untuk terus bersabar dan berjuang di jalan yang benar.

  4. Keseimbangan antara Harapan dan Peringatan: Surah ini secara indah menyeimbangkan antara ancaman keras bagi para penindas (عَذَابُ الْحَرِيقِ) dan janji yang penuh kasih bagi orang beriman (جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ). Bahkan setelah mengancam para penindas, Allah masih membuka pintu taubat (ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا), menunjukkan betapa luasnya rahmat-Nya. Ia juga menyebut Diri-Nya Al-Ghafur Al-Wadud. Ini mengajarkan kita untuk memiliki sikap yang seimbang: rasa takut (khauf) kepada azab-Nya yang membuat kita menjauhi maksiat, dan rasa harap (raja') kepada rahmat-Nya yang membuat kita tidak pernah putus asa.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Buruj adalah sebuah deklarasi agung tentang harga dan kemuliaan iman. Ia adalah surat cinta dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang sabar dan teguh di tengah badai ujian. Melalui kisah Ashab al-Ukhdud, Allah mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah fana, sementara keteguhan iman akan mengantarkan pada kemenangan abadi di surga-Nya. Surah ini adalah pengingat bagi setiap penindas bahwa kekuasaan mereka terbatas dan mereka berada dalam kepungan Allah, sekaligus penghiburan bagi setiap orang yang terzalimi bahwa Allah Maha Menyaksikan dan keadilan-Nya tidak akan pernah alpa.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang teguh di atas agama-Nya, sabar dalam menghadapi ujian, dan meraih kemenangan sejati di sisi-Nya. Allahumma faqqihna fi diinika wa 'allimna at-ta'wil.

والله أعلم بالصواب
(Dan Allah lebih mengetahui apa yang benar).