اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ
Iżas-samā'unfaṭarat.
Apabila langit terbelah,
Apa yang menipumu dari Tuhanmu Yang Maha Mulia?, peringatan keras atas kelalaian manusia.
Surah Al-Infitar secara sentral membahas tentang hari Kiamat dan perubahan-perubahan kosmik yang dahsyat yang akan menyertainya, menekankan kehancuran tatanan duniawi dan penegasan kembali kekuasaan Allah. Ayat-ayatnya mengingatkan manusia akan pentingnya mempersiapkan diri untuk hari penghisaban dengan merenungkan tujuan penciptaan mereka dan tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan.
Mengingatkan manusia akan hari kiamat dan menegur mereka yang terperdaya dari Tuhan Yang Maha Pemurah.
Surah Al-Infitar menggambarkan dengan dahsyat peristiwa kehancuran alam semesta saat kiamat tiba. Langit terbelah, bintang-bintang berserakan, dan lautan meluap, menandakan berakhirnya kehidupan dunia yang fana. Di tengah gambaran mengerikan ini, Allah memberikan teguran keras namun penuh kasih kepada manusia yang sering kali terperdaya oleh gemerlap dunia.
Allah mempertanyakan apa yang membuat manusia berani durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah (Al-Karim), yang telah menciptakan, menyempurnakan, dan menyeimbangkan bentuk mereka. Pertanyaan ini bukanlah untuk mencari jawaban, melainkan untuk menggugah hati yang mati agar kembali menyadari kelemahan dirinya di hadapan Sang Pencipta.
Surah ini juga menegaskan adanya malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin) yang mengawasi setiap perbuatan. Pengawasan ini memastikan keadilan mutlak di hari pembalasan kelak, di mana nasib manusia akan terbagi menjadi dua golongan yang jelas: golongan yang berbakti akan berada dalam kenikmatan, dan yang durhaka akan masuk ke dalam neraka.
Surah ini diturunkan di Makkah untuk merespons kaum musyrikin yang mengingkari hari kebangkitan dan meremehkan nikmat penciptaan. Umat saat itu tenggelam dalam kesombongan dan lupa bahwa setiap amal mereka diawasi. Pesan ini hadir untuk menggoncang kesadaran mereka agar kembali menyembah Allah semata.
Surah Al-Infitar melanjutkan tema hari kiamat dari surah sebelumnya, At-Takwir, dengan fokus pada teguran atas kelalaian manusia. Setelahnya, surah Al-Mutaffifin memberikan contoh nyata dari kelalaian tersebut, yaitu kecurangan dalam takaran akibat tidak meyakini hari pembalasan.
Situasi Terlalu sibuk mengejar karir hingga mengabaikan kewajiban ibadah.
Pesan surah Jangan sampai gemerlap dunia memperdaya kita dari Allah Yang Maha Pemurah.
Langkah kecil Hentikan pekerjaan sejenak saat azan berkumandang dan segera dirikan shalat.
Situasi Merasa aman melakukan kesalahan kecil karena tidak ada orang yang melihat.
Pesan surah Malaikat pencatat amal selalu mengawasi dan mencatat segalanya.
Langkah kecil Istighfar segera setelah menyadari niat buruk atau kesalahan tersembunyi.
Situasi Merasa bangga dengan kecerdasan atau penampilan fisik yang dimiliki.
Pesan surah Allah-lah yang menciptakan, menyempurnakan, dan menyeimbangkan bentuk kita.
Langkah kecil Ucapkan alhamdulillah saat bercermin dan gunakan kelebihan untuk kebaikan.
Surah ini menegaskan adanya malaikat pencatat yang mulia. Menyadari hal ini akan menumbuhkan rasa pengawasan batin yang mencegah kita dari perbuatan sia-sia.
Cara praktis Sebelum berbicara atau memposting sesuatu di media sosial, tanyakan pada diri sendiri apakah ini layak dicatat sebagai amal baik.
Hari ini, catatlah tiga nikmat fisik yang Anda miliki dan gunakan salah satunya untuk membantu orang lain sebagai bentuk syukur.
اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ
Iżas-samā'unfaṭarat.
Apabila langit terbelah,
وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ
Wa iżal-kawākibuntaṡarat.
apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ
Wa iżal-biḥāru fujjirat.
apabila lautan diluapkan,
وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ
Wa iżal-qubūru bu‘ṡirat.
dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ
‘Alimat nafsum mā qaddamat wa akhkharat.
setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).
يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ
Yā ayyuhal-insānu mā garraka birabbikal-karīm(i).
Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia,
الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ
Allażī khalaqaka fa sawwāka fa ‘adalak(a).
yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?
فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ
Fī ayyi ṣūratim mā syā'a rakkabak(a).
Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.
كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ
Kallā bal tukażżibūna bid-dīn(i).
Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kamu mendustakan hari Pembalasan.
وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ
Wa inna ‘alaikum laḥāfiẓīn(a).
Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas
كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ
Kirāman kātibīn(a).
yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).
يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ
Ya‘lamūna mā taf‘alūn(a).
Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ
Innal-abrāra lafī na‘īm(in).
Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.
وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ
Wa innal-fujjāra lafī jaḥīm(in).
Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.
يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّيْنِ
Yaṣlaunahā yaumad-dīn(i).
Mereka memasukinya pada hari Pembalasan.
وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ
Wa mā hum ‘anhā bigā'ibīn(a).
Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ
Wa mā adrāka mā yaumud-dīn(i).
Tahukah engkau apakah hari Pembalasan itu?
ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ
Ṡumma mā adrāka mā yaumud-dīn(i).
Kemudian, tahukah engkau apakah hari Pembalasan itu?
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ
Yauma lā tamliku nafsul linafsin syai'ā(n), wal-amru yauma'iżil lillāh(i).
(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.
Telah menceritakan kepadaku [Ziyad bin Ayyub] telah menceritakan kepada kami [Husyaim] telah mengabarkan kepada kami [Abu Bisyir] dari [Sa'id bin Jubair] dar…
Telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Musa] dari [Al A'masy] dari [Abu Zhabyan] dari [Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma] mengenai firman Allah: Sebag…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Mushir] dari [Dawud] dari [Asy Sya'bi] dari [Masruq] dari …
Surah Al-Infitar diakhiri dengan ayat 19 yang menegaskan realitas mutlak hari kiamat: yauma la tamliku nafsun linafsin syai-an, wal-amru yauma-idzin lillah.…
Dalam Surat Al-Infitar ayat 18, Allah berfirman: thumma maa adraaka maa yawmud-diin (Kemudian, tahukah engkau apakah hari Pembalasan itu?). Ayat ini merupaka…
Dalam surat Al-Infitar ayat 17, Allah berfirman, wa maa adraaka maa yaumud diin, "Dan tahukah engkau apakah hari pembalasan itu?" Ayat ini hadir sebagai peng…