← Daftar Pelajaran
Hari 33 · Al-Mutaffifin · Ayat 1–36

Orang-orang yang curang (Al-Mutaffifin)

Ancaman bagi yang curang dalam takaran, keadilan ekonomi dan akhirat para shiddiqin di 'Illiyyin.

Niat Hari 33 · Al-Mutaffifin ayat 1–36

Tetapkan niat sebelum mulai

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”

(HR. Bukhari & Muslim)

Du'a sebelum membaca Al-Quran:

رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Rabbi zidni ‘ilma

Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. (QS. Taha: 114)

Pilih niat hari ini:

Maqasid Surah Al-Mutaffifin المطفّفين
Orang-Orang Curang · Makkiyyah · 36 ayat

Tema sentral

Surah Al-Mutaffifin mengancam para penipu dalam takaran dan timbangan, mengingatkan akan Hari Pembalasan ketika amal perbuatan akan dihisab. Surah ini menekankan bahwa setiap tindakan akan dicatat, baik oleh orang durhaka maupun orang baik, dan menggambarkan ganjaran yang berbeda untuk kedua kelompok tersebut.

Maqasid (tujuan surah)

  • Mencela kecurangan dalam transaksi dan menegakkan keadilan.
  • Mengingatkan tentang hari kebangkitan dan pembalasan.
  • Membedakan tempat kembali orang durhaka dan orang bertakwa.

Ayat kunci

Tujuan & Pesan Inti

Maqasid Surah, Al-Mutaffifin

Peringatan keras bagi orang yang curang dalam takaran dan janji balasan bagi orang-orang yang berbakti.

Tema Sentral

Surah ini berpusat pada peringatan keras Allah terhadap praktik kecurangan, sekecil apa pun, dalam muamalah atau interaksi sosial. Allah menegaskan bahwa setiap tindakan manusia diawasi dan akan dicatat secara detail dalam buku catatan amal, baik Sijjin bagi pendosa maupun Illiyyin bagi orang berbakti.

Selain itu, surah ini menyoroti kontras nasib antara orang-orang yang durhaka dan orang-orang yang taat pada Hari Kiamat. Orang beriman yang dahulu ditertawakan di dunia akan mendapatkan kenikmatan abadi, sementara para pendosa akan merasakan penyesalan atas kesombongan mereka.

Konteks Turunnya

Surah ini diturunkan di Makkah ketika masyarakatnya terbiasa melakukan kecurangan dalam berdagang. Penduduk Makkah sering menuntut hak mereka secara penuh, namun mengurangi takaran saat menjual kepada orang lain. Surah ini hadir untuk meluruskan moralitas ekonomi dan mengingatkan mereka akan Hari Kebangkitan.

Tujuan / Maqasid (5)
  • Menegaskan larangan berbuat curang dalam segala bentuk interaksi dan transaksi.
  • Mengingatkan manusia akan adanya Hari Kebangkitan di mana semua amal akan dipertanggungjawabkan.
  • Menjelaskan pembagian catatan amal manusia menjadi Sijjin untuk pendosa dan Illiyyin untuk orang berbakti.
  • Menggugah hati dengan gambaran kenikmatan surga bagi orang-orang yang jujur dan taat.
  • Menghibur orang beriman yang sering diejek oleh orang kafir di dunia.
Hikmah Utama (4)
  • Kejujuran dalam pekerjaan dan bisnis adalah wujud keimanan kepada Hari Akhir.
  • Dosa dan maksiat yang terus dilakukan akan menjadi karat yang menutupi hati dari cahaya kebenaran.
  • Kesabaran menghadapi ejekan karena berpegang pada agama akan berbuah manis di akhirat.
  • Mengingat bahwa setiap detail perbuatan dicatat akan membuat kita lebih berhati-hati dalam bertindak.
Munasabah

Surah Al-Mutaffifin berhubungan erat dengan surah sebelumnya, Al-Infitar, yang membahas tentang malaikat pencatat amal. Surah ini merinci lebih lanjut hasil dari catatan amal tersebut, yaitu Sijjin dan Illiyyin. Kemudian, surah ini dilanjutkan oleh Al-Insyiqaq yang kembali menggambarkan kedahsyatan Hari Kiamat dan penyerahan buku catatan amal.

Kaitan Sehari-Hari
  • Situasi Bekerja sebagai pedagang atau penyedia jasa yang menetapkan harga dan kualitas.

    Pesan surah Jangan mengurangi kualitas atau kuantitas yang menjadi hak pembeli demi keuntungan sesaat.

    Langkah kecil Pastikan timbangan, ukuran, atau janji layanan diberikan secara penuh dan jujur hari ini.

  • Situasi Merasa sedih karena diejek saat mencoba hijrah atau berbuat baik.

    Pesan surah Ejekan di dunia adalah ujian sementara, kelak keadilan Allah akan berpihak pada orang beriman.

    Langkah kecil Maafkan mereka yang mengejek dan doakan agar mereka mendapat hidayah.

  • Situasi Sering melakukan dosa kecil yang dianggap remeh dalam keseharian.

    Pesan surah Dosa yang menumpuk akan menjadi noda yang menutupi hati dari menerima kebenaran.

    Langkah kecil Segera beristighfar dan berbuat kebaikan setiap kali menyadari telah melakukan kesalahan.

Amalan dari Maqasid

Evaluasi Hak dan Kewajiban

Surah ini mengajarkan agar kita tidak egois dengan menuntut hak secara penuh namun abai dalam menunaikan kewajiban. Prinsip ini berlaku dalam bisnis, pekerjaan, maupun hubungan keluarga.

Cara praktis Tuliskan satu kewajiban Anda yang sering tertunda, lalu selesaikan hari ini tanpa menuntut hak Anda terlebih dahulu.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, periksa kembali pekerjaan Anda dan pastikan tidak ada hak orang lain yang Anda kurangi walau sedikit.

Ayat Kunci (3)
  • Ayat 1 Menjadi peringatan tegas dari Allah tentang bahaya kecurangan dalam muamalah sekecil apa pun.
  • Ayat 14 Menjelaskan konsep bahwa dosa yang menumpuk akan menjadi karat yang menutupi hati manusia.
  • Ayat 34 Memberikan kepastian tentang keadilan akhirat di mana orang beriman akan mendapatkan kemenangan sejati.

Al-Mutaffifin · 1
﴿ 1 ﴾

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ

Wailul lil-muṭaffifīn(a).

Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

Al-Mutaffifin · 2
﴿ 2 ﴾

الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ

Allażīna iżaktālū ‘alan-nāsi yastaufūn(a).

(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi.

Al-Mutaffifin · 3
﴿ 3 ﴾

وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ

Wa iżā kālūhum au wazanūhum yukhsirūn(a).

(Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.

Al-Mutaffifin · 4
﴿ 4 ﴾

اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ

Alā yaẓunnu ulā'ika annahum mab‘ūṡūn(a).

Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan

Al-Mutaffifin · 5
﴿ 5 ﴾

لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ

Liyaumin ‘aẓīm(in).

pada suatu hari yang besar (Kiamat),

Al-Mutaffifin · 6
﴿ 6 ﴾

يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

Yauma yaqūmun-nāsu lirabbil-‘ālamīn(a).

(yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?

Al-Mutaffifin · 7
﴿ 7 ﴾

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ

Kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn(in).

Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.

Al-Mutaffifin · 8
﴿ 8 ﴾

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ

Wa mā adrāka mā sijjīn(un).

Tahukah engkau apakah Sijjīn itu?

Al-Mutaffifin · 9
﴿ 9 ﴾

كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ

Kitābum marqūm(un).

(Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).

Al-Mutaffifin · 10
﴿ 10 ﴾

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ

Wailuy yauma'iżil lil-mukażżibīn(a).

Celakalah pada hari itu bagi para pendusta,

Al-Mutaffifin · 11
﴿ 11 ﴾

الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ

Allażīna yukażżibūna biyaumid-dīn(i).

yaitu orang-orang yang mendustakan hari Pembalasan.

Al-Mutaffifin · 12
﴿ 12 ﴾

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ

Wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu‘tadin aṡīm(in).

Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa.

Al-Mutaffifin · 13
﴿ 13 ﴾

اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ

Iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn(a).

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.”

Al-Mutaffifin · 14
﴿ 14 ﴾

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Kallā bal…rāna ‘alā qulūbihim mā kānū yaksibūn(a).

Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.

Al-Mutaffifin · 15
﴿ 15 ﴾

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ

Kallā innahum ‘ar rabbihim yauma'iżil lamaḥjūbūn(a).

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya.

Al-Mutaffifin · 16
﴿ 16 ﴾

ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ

Ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm(i).

Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.

Al-Mutaffifin · 17
﴿ 17 ﴾

ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ

Ṡumma yuqālu hāżal-lażī kuntum bihī tukażżibūn(a).

Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.”

Al-Mutaffifin · 18
﴿ 18 ﴾

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ

Kallā inna kitābal-abrāri lafī ‘illiyyīn(a).

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyīn.

Al-Mutaffifin · 19
﴿ 19 ﴾

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ

Wa mā adrāka mā ‘illiyyūn(a).

Tahukah engkau apakah ‘Illiyyīn itu?

Al-Mutaffifin · 20
﴿ 20 ﴾

كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ

Kitābum marqūm(un).

(Itulah) kitab yang berisi catatan (amal)

Al-Mutaffifin · 21
﴿ 21 ﴾

يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ

Yasyhaduhul-muqarrabūn(a).

yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).

Al-Mutaffifin · 22
﴿ 22 ﴾

اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ

Innal-abrāra lafī na‘īm(in).

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.

Al-Mutaffifin · 23
﴿ 23 ﴾

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ

‘Alal-arā'iki yanẓurūn(a).

Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.

Al-Mutaffifin · 24
﴿ 24 ﴾

تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ

Ta‘rifu fī wujūhihim naḍratan na‘īm(i).

Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.

Al-Mutaffifin · 25
﴿ 25 ﴾

يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ

Yusqauna mir raḥīqim makhtūm(in).

Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya).

Al-Mutaffifin · 26
﴿ 26 ﴾

خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ

Khitāmuhū misk(un), wa fī żālika falyatanāfasil-mutanāfisūn(a).

Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.

Al-Mutaffifin · 27
﴿ 27 ﴾

وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ

Wa mizājuhū min tasnīm(in).

Campurannya terbuat dari tasnīm,

Al-Mutaffifin · 28
﴿ 28 ﴾

عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ

‘Ainay yasyrabu bihal-muqarrabūn(a).

(yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).

Al-Mutaffifin · 29
﴿ 29 ﴾

اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ

Innal-lażīna ajramū kānū minal-lażīna āmanū yaḍḥakūn(a).

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu mentertawakan orang-orang yang beriman.

Al-Mutaffifin · 30
﴿ 30 ﴾

وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ

Wa iżā marrū bihim yatagāmazūn(a).

Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.

Al-Mutaffifin · 31
﴿ 31 ﴾

وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ

Wa iżanqalabū ilā ahlihimunqalabū fakihīn(a).

Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).

Al-Mutaffifin · 32
﴿ 32 ﴾

وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ

Wa iżā ra'auhum qālū inna hā'ulā'i laḍāllūn(a).

Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,”

Al-Mutaffifin · 33
﴿ 33 ﴾

وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ

Wa mā ursilū ‘alaihim ḥāfiẓīn(a).

padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).

Al-Mutaffifin · 34
﴿ 34 ﴾

فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ

Fal-yaumal-lażīna āmanū minal kuffāri yaḍḥakūn(a).

Pada hari ini (hari Kiamat), orang-orang yang berimanlah yang mentertawakan orang-orang kafir.

Al-Mutaffifin · 35
﴿ 35 ﴾

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ

‘Alal-arā'iki yanẓurūn(a).

Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.

Al-Mutaffifin · 36
﴿ 36 ﴾

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ

Hal ṡuwwibal-kuffāru mā kānū yaf‘alūn(a).

Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?

Langkah Tadabbur

  1. 1
    Bacaan
    +10 XP
  2. 2
    Kosakata
    +20 XP
  3. 3
    Asbab an-Nuzul
    +10 XP
  4. 4
    Tafsir
    +15 XP
  5. 5
    Munasabah
    +10 XP
  6. 6
    Kuis
    +30 XP
  7. 7
    Renungan
    +25 XP
  8. 8
    Amalan
    +15 XP
  9. 9
    Hafalan
    +20 XP
Eksplorasi lanjutan

Setelah Hari 33, lanjutkan tema Surat Al-Mutaffifin