1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Ali 'Imran (Keluarga 'Imran) adalah surah ketiga dalam mushaf Al-Qur'an dan tergolong sebagai surah Madaniyah, yaitu surah yang diturunkan setelah hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Kesepakatan para ulama mengenai status Madaniyah surah ini sangat kuat, didasarkan pada konten dan riwayat-riwayat asbab an-nuzul yang secara eksplisit menempatkan turunnya ayat-ayat ini pada periode Madinah. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menukil ijma' (konsensus) bahwa surah ini adalah Madaniyah. Demikian pula, para ulama seperti Qatadah bin Di'amah as-Sadusi dan lainnya menegaskan hal yang sama, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan.
Secara spesifik, bagian awal dari Surah Ali 'Imran, yang mencakup ayat 1 hingga lebih dari 80 ayat, diyakini turun berkaitan dengan peristiwa kedatangan delegasi kaum Nasrani dari Najran. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-9 atau ke-10 Hijriyah, yang dikenal sebagai 'Am al-Wufud (Tahun Para Delegasi). Pada periode ini, negara Islam di Madinah telah kokoh, dan pengaruhnya telah menyebar ke seluruh Jazirah Arab setelah penaklukan Makkah (Fath Makkah). Banyak suku dan komunitas dari berbagai penjuru Arab datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman mereka atau menjalin perjanjian dengan Nabi ﷺ. Kedatangan delegasi Najran merupakan salah satu momen dialog teologis paling signifikan dalam sirah Nabi ﷺ, di mana Islam berhadapan langsung dengan pemikiran Kristen Arab pada masa itu.
Oleh karena itu, konteks turunnya ayat-ayat pembuka ini adalah fase akhir dari dakwah Nabi ﷺ di Madinah. Umat Islam bukan lagi komunitas yang tertindas seperti di Makkah, melainkan sebuah kekuatan politik dan spiritual yang diakui. Tantangan dakwah pada masa ini bergeser dari sekadar menghadapi penyembahan berhala kaum Quraisy menjadi dialog dan perdebatan dengan kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengenai dasar-dasar akidah, kenabian, dan kebenaran wahyu terakhir, yaitu Al-Qur'an.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama: Dialog dengan Delegasi Najran
Riwayat yang paling masyhur dan diterima oleh mayoritas ahli tafsir sebagai sebab turunnya bagian awal Surah Ali 'Imran adalah kisah tentang delegasi Nasrani dari Najran. Najran adalah sebuah daerah di Yaman yang pada saat itu menjadi pusat komunitas Kristen yang mapan. Riwayat ini dipaparkan secara rinci oleh sejarawan sirah seperti Ibn Ishaq, yang dinukil oleh Ibn Hisham dalam As-Sirah an-Nabawiyyah, dan juga menjadi landasan utama para mufasir seperti Imam At-Tabari, Al-Wahidi, Ibn Kathir, dan As-Suyuti.
Imam As-Suyuti dalam kitabnya Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul menukil riwayat dari Ibn Ishaq melalui jalur Muhammad bin Ja'far bin az-Zubair yang berkata:
"Telah datang kepada Rasulullah ﷺ delegasi dari Najran. Mereka terdiri dari 60 orang pengendara, di antara mereka ada 14 orang dari kalangan bangsawan mereka... Di antara 14 orang itu, ada tiga orang yang menjadi pemimpin utama mereka, yaitu al-'Aqib, yang bernama 'Abdul Masih, yang menjadi amir dan penasihat kaumnya; as-Sayyid, yang bernama al-Ayham, yang menjadi pemimpin dan pengurus perjalanan mereka; dan Abu Haritsah bin 'Alqamah, seorang uskup dan cendekiawan agung mereka... Ketika mereka datang ke Madinah, mereka memasuki masjid Rasulullah ﷺ saat beliau sedang shalat Ashar. Mereka mengenakan pakaian mewah dari Yaman. Para sahabat Nabi ﷺ yang melihat mereka berkomentar, 'Kami belum pernah melihat delegasi seindah mereka.' Ketika tiba waktu shalat mereka, mereka berdiri untuk shalat di dalam masjid Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda, 'Biarkan mereka.' Maka mereka pun shalat menghadap ke timur."
Setelah itu, terjadilah dialog antara Nabi ﷺ dengan para pemimpin delegasi tersebut. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menguraikan dialog ini. Mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang pandangannya mengenai 'Isa bin Maryam 'alayhissalam. Nabi ﷺ menjawab, "Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dan Kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya." Mereka menolak jawaban ini dan berkata, "Bagaimana mungkin dia menjadi manusia tanpa memiliki ayah?"
Sebagai respons atas argumen dan penolakan mereka inilah, Allah SWT menurunkan ayat-ayat pembuka Surah Ali 'Imran. Imam al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul menegaskan bahwa sekitar 83 ayat pertama dari surah ini turun berkenaan dengan delegasi Najran dan perdebatan mereka.
Kaitan ayat 1-9 dengan peristiwa ini sangat jelas:
Ayat 1-2:
الۤمّۤ ۚ اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ
Ayat ini langsung membantah inti dari akidah trinitas yang mereka anut. Allah memulai dengan menegaskan keesaan-Nya yang absolut (Tauhid). Dia adalah Al-Hayy (Yang Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Yang Maha Mengurus Makhluk-Nya), tidak memerlukan anak atau sekutu. Ini adalah pukulan telak terhadap konsep 'anak Tuhan'.Ayat 3-4:
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ
Allah menegaskan otoritas Al-Qur'an sebagai wahyu yang haq, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil) dalam versi aslinya, sekaligus menjadi Al-Furqan (Pembeda) antara yang benar dan yang batil. Ini adalah pernyataan bahwa Al-Qur'an adalah hakim final atas perselisihan akidah yang terjadi, termasuk penyimpangan yang telah masuk ke dalam ajaran Ahli Kitab.Ayat 5-6:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ... هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُ
Ayat ini secara langsung membantah keistimewaan penciptaan 'Isa 'alayhissalam sebagai dalil ketuhanannya. Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dialah yang membentuk setiap janin di dalam rahim sesuai kehendak-Nya. Sebagaimana Dia menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu, Dia juga mampu menciptakan 'Isa tanpa ayah. Kekuasaan-Nya tidak terbatas, dan penciptaan 'Isa adalah tanda kekuasaan-Nya, bukan bukti bahwa 'Isa adalah anak-Nya.Ayat 7:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ...
Ini adalah ayat kunci yang membongkar metodologi sesat mereka. Allah menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur'an (dan kitab-kitab suci lainnya) ada ayat-ayat muhkamat (jelas, tegas, menjadi pokok ajaran) dan mutasyabihat (samar, multi-interpretasi). Orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan (zaygh) akan fokus pada ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari-cari takwil yang sesuai hawa nafsu mereka dan untuk menimbulkan fitnah. Inilah yang dilakukan oleh delegasi Najran; mereka berpegang pada istilah-istilah seperti "Ruh dari Allah" atau "Kalimat Allah" untuk menuhankan 'Isa, sementara mereka mengabaikan ayat-ayat yang jelas yang menyatakan bahwa 'Isa adalah hamba dan utusan Allah. Imam At-Tabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk menegur Ahli Kitab yang menggunakan ayat-ayat mutasyabihat dari kitab mereka untuk mendukung kesesatan mereka.Ayat 8-9:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا...
Ayat-ayat ini menampilkan doa orang-orang yang ilmunya mendalam (ar-rasikhuna fil-'ilm). Sikap mereka berkebalikan total dengan para pencari fitnah. Mereka beriman pada seluruh isi Kitab, baik yang muhkam maupun mutasyabih, dan memohon kepada Allah agar hati mereka tidak dicondongkan kepada kesesatan setelah mendapat petunjuk. Ini adalah teladan bagi kaum muslimin dalam berinteraksi dengan wahyu.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Tidak ada riwayat alternatif yang signifikan untuk sebab nuzul ayat-ayat ini. Para ulama tafsir dan sirah hampir sepakat bahwa konteksnya adalah dialog dengan delegasi Najran. Kekuatan riwayat ini terletak pada kesesuaian yang sangat erat antara teks ayat-ayat dengan detail peristiwa dan argumen teologis yang terjadi. Ini adalah contoh klasik di mana konteks historis (asbab an-nuzul) memberikan penerangan yang sangat kaya terhadap makna ayat.
Para ulama, seperti Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil, juga mengonfirmasi riwayat ini dan menjadikannya sebagai pembuka tafsir surah ini. Mereka melihat surah ini sebagai jawaban komprehensif dari Allah terhadap keraguan dan klaim kaum Nasrani, sekaligus sebagai panduan bagi umat Islam dalam berdialog dengan Ahli Kitab.
3. Konteks Historis & Sosial
Periode turunnya Surah Ali 'Imran adalah puncak dari keberhasilan dakwah Nabi ﷺ di Jazirah Arab. Madinah telah menjadi ibu kota negara Islam yang stabil dan berwibawa. Perjanjian Hudaibiyah, penaklukan Makkah, dan kemenangan dalam Pertempuran Hunain telah mengukuhkan posisi umat Islam. Suku-suku Arab yang sebelumnya memusuhi atau ragu-ragu, kini berbondong-bondong mengirimkan delegasi ke Madinah.
Dalam konteks inilah, delegasi dari Najran, sebuah entitas politik dan keagamaan yang kuat di selatan, datang bukan untuk berperang, melainkan untuk berdialog. Ini menunjukkan pergeseran dinamika kekuatan. Islam tidak lagi hanya bertahan, tetapi telah menjadi pusat gravitasi baru di Arabia yang menarik perhatian kekuatan-kekuatan regional.
Sikap Nabi ﷺ dalam menerima mereka sangatlah mulia. Beliau menjamu mereka, memberikan tempat yang aman, dan bahkan mengizinkan mereka untuk melakukan ritual ibadah mereka di dalam Masjid Nabawi. Ini adalah cerminan dari etika dialog dalam Islam yang diatur dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik..." (QS. Al-'Ankabut: 46). Dialog yang terjadi bukanlah dialog yang dangkal, melainkan perdebatan teologis yang mendalam mengenai isu paling fundamental yang membedakan Islam dan Kristen: sifat Allah dan status 'Isa 'alayhissalam.
Turunnya ayat-ayat ini memberikan kaum muslimin kerangka intelektual dan teologis yang kokoh untuk menghadapi argumen Ahli Kitab. Ayat-ayat ini tidak hanya menjawab klaim mereka, tetapi juga mengoreksi metodologi berpikir mereka, menunjukkan di mana letak kesalahan mereka dalam menafsirkan wahyu, dan pada akhirnya menegaskan superioritas dan kebenaran ajaran Tauhid yang murni.
4. Tema Sentral Surah
Tema sentral Surah Ali 'Imran secara keseluruhan adalah keteguhan (tsabat) di atas kebenaran dan metode mempertahankannya. Tema ini terwujud dalam dua sumbu utama yang dibahas dalam surah ini:
Keteguhan dalam Akidah (Sumbu Intelektual): Bagian awal surah (termasuk ayat 1-9) berfokus pada pembelaan terhadap akidah Tauhid dari syubhat (kerancuan) yang dilontarkan oleh Ahli Kitab, khususnya kaum Nasrani. Surah ini menetapkan prinsip-prinsip dasar iman, seperti keesaan Allah, kebenaran wahyu, dan status para nabi sebagai manusia. Ayat ke-7 tentang muhkamat dan mutasyabihat adalah fondasi metodologis untuk menjaga kemurnian akidah.
Keteguhan dalam Perjuangan (Sumbu Praktis): Bagian selanjutnya dari surah ini banyak membahas tentang Perang Uhud. Di sini, tema keteguhan beralih dari ranah intelektual ke ranah fisik dan mental di medan jihad. Surah ini menganalisis sebab-sebab kekalahan parsial di Uhud, mengobati luka-luka psikologis kaum muslimin, dan memberikan pelajaran tentang pentingnya ketaatan, kesabaran, dan tawakal.
Imam As-Sa'di dalam tafsirnya, Taysir al-Karim ar-Rahman, menjelaskan bahwa surah ini mengandung dasar-dasar penting yang dibutuhkan oleh seorang mukmin, yaitu ilmu yang bermanfaat yang menghasilkan keyakinan (al-'ilmu an-nafi') dan amal shalih. Bagian awalnya membangun fondasi ilmu dan keyakinan dengan membantah syubhat, sementara bagian selanjutnya mendorong amal shalih berupa jihad, kesabaran, dan ketaatan.
Adapun munasabah (keterkaitan) dengan surah sebelumnya, Surah Al-Baqarah, sangatlah erat. Jika Al-Baqarah banyak berfokus pada dialog dan kritik terhadap Bani Israil (kaum Yahudi), maka Ali 'Imran lebih banyak berfokus pada dialog dengan kaum Nasrani. Keduanya bersama-sama membentuk argumen yang lengkap terhadap Ahli Kitab secara keseluruhan. Keduanya juga disebut Az-Zahrawan (dua yang cemerlang) oleh Nabi ﷺ, menunjukkan kesatuan tema dan fungsi mereka sebagai pelindung dan peneguh iman.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Surah Ali 'Imran memiliki banyak keutamaan yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih:
Sebagai Az-Zahrawan (Dua yang Cemerlang) Bersama Al-Baqarah:
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا»
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah Az-Zahrawan (dua yang cemerlang), yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali 'Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seolah-olah keduanya adalah dua awan atau dua naungan, atau dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya, keduanya akan membela para pembacanya." (HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashriha, no. 804).Dibaca oleh Nabi ﷺ saat Shalat Malam:
Nabi Muhammad ﷺ sering membaca ayat-ayat terakhir dari Surah Ali 'Imran ketika bangun untuk shalat malam (Tahajjud). Diriwayatkan dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ia pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah, istri Nabi ﷺ. Ia melihat Nabi ﷺ bangun di tengah malam, lalu duduk, mengusap wajahnya dengan tangannya untuk menghilangkan kantuk, kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali 'Imran, lalu berwudhu dan shalat. (HR. Bukhari, Kitab at-Tafsir, no. 4569; Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin, no. 763).
Keutamaan-keutamaan ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan surah ini. Ia tidak hanya berisi argumen teologis, tetapi juga menjadi sumber kekuatan spiritual, perlindungan, dan syafaat bagi orang-orang yang membacanya, merenungkannya, dan mengamalkannya.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Ayat ke-7 dari Surah Ali 'Imran menjadi salah satu pusat diskusi teologis dan metodologis di kalangan para ulama. Diskusi utama berkisar pada makna mutasyabihat dan di mana seharusnya berhenti (waqf) saat membaca kalimat وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ.
Pendapat Mayoritas (Berhenti pada
اِلَّا اللّٰهُ):
Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf, termasuk 'Aisyah, Ibn 'Abbas (dalam salah satu riwayat), 'Urwah bin az-Zubair, dan Umar bin 'Abdul 'Aziz. Menurut pandangan ini, makna hakiki atau kaifiyyah (bagaimana) dari ayat-ayat mutasyabihat (seperti tentang sifat-sifat Allah, hakikat ruh, atau perkara gaib lainnya) hanya diketahui oleh Allah semata. Adapun ar-rasikhuna fil-'ilm (orang yang ilmunya mendalam), tugas mereka adalah beriman dan berserah diri. Mereka berkata,اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا("Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami"). Sikap inilah yang dipuji oleh Allah. Ibn Kathir dalam tafsirnya sangat mendukung pandangan ini, karena inilah yang paling aman dan paling sesuai dengan keagungan Allah serta keterbatasan akal manusia.Pendapat Minoritas (Menyambung Bacaan):
Sebagian ulama, termasuk Mujahid bin Jabr dan Ar-Rabi' bin Anas, berpendapat bahwa waqf (berhenti) dilakukan setelahوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ. Menurut mereka, orang-orang yang ilmunya mendalam juga mengetahui takwil dari ayat-ayat mutasyabihat. Namun, para ulama yang memegang pendapat ini, seperti Imam At-Tabari, menjelaskan bahwa "takwil" yang dimaksud di sini bukanlah hakikat gaibnya, melainkan tafsir atau penjelasan makna yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan konteks syariat, yang memalingkan makna dari zahir yang tidak layak bagi Allah ke makna yang layak.
Imam Al-Qurthubi mencoba menggabungkan kedua pandangan ini dengan menyatakan bahwa ada dua jenis mutasyabih. Pertama, yang tak seorang pun bisa mengetahuinya kecuali Allah, seperti waktu kiamat. Kedua, yang bisa diketahui oleh para ulama yang mendalam ilmunya melalui penelitian dan ijtihad. Namun, pandangan pertama (berhenti pada اِلَّا اللّٰهُ) tetap menjadi yang paling kuat dan dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai prinsip dasar dalam menyikapi sifat-sifat Allah, yaitu mengimaninya sebagaimana datangnya tanpa takyif (menanyakan bagaimana), tasybih (menyerupakan), ta'thil (menolak), dan tahrif (mengubah makna).
Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata, "Tafsir itu ada empat macam: tafsir yang diketahui oleh orang Arab dari bahasanya, tafsir yang tidak ada seorang pun yang boleh tidak mengetahuinya (halal-haram), tafsir yang diketahui oleh para ulama, dan tafsir yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah."
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Ayat-ayat pembuka Surah Ali 'Imran menawarkan pelajaran abadi bagi setiap muslim di setiap zaman:
Pentingnya Membangun Akidah di Atas Fondasi yang Kokoh: Islam berdiri di atas prinsip-prinsip yang muhkam (jelas dan tegas), terutama Tauhid. Sebelum terjun ke dalam perdebatan atau diskusi yang rumit, seorang muslim harus mengokohkan imannya pada pilar-pilar ini. Jangan biarkan kerancuan (syubhat) yang dilemparkan oleh orang-orang yang hatinya sakit menggoyahkan keyakinan kita pada hal-hal yang sudah pasti dan fundamental.
Adab dan Metodologi dalam Memahami Wahyu: Ayat ke-7 memberikan kita manhaj (metodologi) ilahi dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an. Kembalikanlah ayat-ayat yang mutasyabih kepada yang muhkam. Jangan mengikuti hawa nafsu dengan mencari-cari penafsiran ganjil untuk membenarkan pemikiran yang menyimpang. Sikap seorang mukmin sejati adalah
sami'na wa atha'na(kami dengar dan kami taat) danamanna bih(kami beriman padanya), dengan penuh penyerahan diri kepada Allah.Keberanian dalam Dialog dan Dakwah yang Berbasis Ilmu: Kisah dialog dengan delegasi Najran mengajarkan kita untuk tidak takut berhadapan dengan ideologi atau keyakinan lain. Namun, dialog harus dilakukan dengan cara yang terbaik, penuh hormat, dan yang terpenting, berlandaskan pada argumen yang kuat dari wahyu (hujjah). Dakwah Islam bukanlah dakwah yang emosional semata, tetapi dakwah yang rasional dan berbasis ilmu yang kokoh.
Kerendahan Hati dan Ketergantungan kepada Allah: Doa penutup dari ar-rasikhuna fil-'ilm (
Rabbana la tuzigh qulubana...) adalah pengingat bahwa hidayah dan keteguhan hati adalah murni karunia dari Allah. Sehebat apapun ilmu seseorang, ia tetap harus senantiasa memohon kepada Allah agar hatinya tidak tergelincir. Ini mengajarkan kita untuk menjauhi kesombongan intelektual dan selalu merasa butuh akan rahmat dan bimbingan Allah.
8. Penutup & Doa
Ayat-ayat pembuka Surah Ali 'Imran adalah deklarasi agung akan keesaan Allah dan kebenaran wahyu-Nya. Ia berfungsi sebagai benteng akidah yang kokoh, membantah keraguan yang dilontarkan oleh para penentang, dan memberikan panduan metodologis yang lurus dalam memahami Kitabullah. Surah ini meletakkan fondasi intelektual yang kuat bagi seorang mukmin untuk berdiri tegar di atas kebenaran, baik dalam menghadapi perdebatan pemikiran maupun dalam menghadapi ujian kehidupan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan ar-rasikhuna fil-'ilm, yang beriman kepada seluruh Kitab-Nya, yang lisannya senantiasa basah dengan doa, "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."
Allahumma faqqihna fi diinika wa 'allimna at-ta'wil.
والله أعلم