← Kembali ke pelajaran
Hari 41 Langkah 1 / 9 +10 XP

Bacaan

Baca pelan. Tap setiap kata untuk lihat arti per-kata. Resapi makna sebelum lanjut.

Panduan warna Tajwid
  • Ghunnah (dengung)
  • Qalqalah (pantulan)
  • Ikhfa' (samar)
  • Ikhfa' Syafawi
  • Iqlab (pembalikan)
  • Idgham Bighunnah
  • Idgham Bilaghunnah
  • Idgham Syafawi
  • Idgham Mutajanisain / Mutaqaribain
  • Mad Thabi'i (2 harakat)
  • Mad Jaiz (2/4/6 harakat)
  • Mad Wajib Muttasil (4-5)
  • Mad Lazim (6 harakat)
  • Hamzah Wasl / huruf tak dibaca / Lam Syamsiyah

Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).

An-Nisa' · 1
﴿ 1 ﴾

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٲحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَـٰٓأَيُّهَا
yāayyuhā
Wahai
ٱلنَّاسُ
l-nāsu
manusia
ٱتَّقُوا۟
ittaqū
Takutlah
رَبَّكُمُ
rabbakumu
Tuhan kalian
ٱلَّذِى
alladhī
Yang
خَلَقَكُم
khalaqakum
menciptakan kalian
مِّن
min
dari
نَّفْسٍۢ
nafsin
وَٰحِدَةٍۢ
wāḥidatin
satu
وَخَلَقَ
wakhalaqa
dan menciptakan
مِنْهَا
min'hā
darinya
زَوْجَهَا
zawjahā
pasangannya
وَبَثَّ
wabatha
dan menyebarkan
مِنْهُمَا
min'humā
dari keduanya
رِجَالًۭا
rijālan
laki-laki
كَثِيرًۭا
kathīran
banyak
وَنِسَآءًۭ ۚ
wanisāan
dan wanita
وَٱتَّقُوا۟
wa-ittaqū
Dan bertakwalah
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
ٱلَّذِى
alladhī
melalui siapa
تَسَآءَلُونَ
tasāalūna
kamu bertanya
بِهِۦ
bihi
dengannya
وَٱلْأَرْحَامَ ۚ
wal-arḥāma
dan rahim
إِنَّ
inna
Sesungguhnya
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
كَانَ
kāna
adalah
عَلَيْكُمْ
ʿalaykum
atas kamu
رَقِيبًۭا
raqīban
Maha Mengawasi

Yā ayyuhan-nāsuttaqū rabbakumul-lażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa khalaqa minhā zaujahā wa baṡṡa minhumā rijālan kaṡīraw wa nisā'ā(n), wattaqullāhal-lażī tasā'alūna bihī wal-arḥām(a), innallāha kāna ‘alaikum raqībā(n).

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

An-Nisa' · 2
﴿ 2 ﴾

وَءَاتُواْ ٱلْيَتَـٰمَىٰٓ أَمْوَٲلَهُمْ‌ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُواْ ٱلْخَبِيثَ بِٱلطَّيِّبِ‌ۖ وَلَا تَأْكُلُوٓاْ أَمْوَٲلَهُمْ إِلَىٰٓ أَمْوَٲلِكُمْ‌ۚ إِنَّهُۥ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا

وَءَاتُوا۟
waātū
Dan berikanlah
ٱلْيَتَـٰمَىٰٓ
l-yatāmā
anak-anak yatim
أَمْوَٰلَهُمْ ۖ
amwālahum
harta mereka
وَلَا
walā
dan jangan
تَتَبَدَّلُوا۟
tatabaddalū
kalian bertukar
ٱلْخَبِيثَ
l-khabītha
yang buruk
بِٱلطَّيِّبِ ۖ
bil-ṭayibi
dengan yang baik
وَلَا
walā
dan jangan
تَأْكُلُوٓا۟
takulū
kalian makan
أَمْوَٰلَهُمْ
amwālahum
harta mereka
إِلَىٰٓ
ilā
dengan
أَمْوَٰلِكُمْ ۚ
amwālikum
hartamu
إِنَّهُۥ
innahu
Sesungguhnya itu
كَانَ
kāna
adalah
حُوبًۭا
ḥūban
dosa
كَبِيرًۭا
kabīran
besar

Wa ātul-yatāmā amwālahum wa lā tatabaddalul-khabīṡa biṭ-ṭayyib(i), wa lā ta'kulū amwālahum ilā amwālikum, innahū kāna ḥūban kabīrā(n).

Berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah dewasa) harta mereka. Janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya (tindakan menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar.

An-Nisa' · 3
﴿ 3 ﴾

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُواْ فِى ٱلْيَتَـٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ‌ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُواْ فَوَٲحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ‌ۚ ذَٲلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ

وَإِنْ
wa-in
Dan jika
خِفْتُمْ
khif'tum
kamu takut
أَلَّا
allā
bahwa tidak
تُقْسِطُوا۟
tuq'siṭū
kalian akan dapat berbuat adil
فِى
dengan
ٱلْيَتَـٰمَىٰ
l-yatāmā
anak-anak yatim
فَٱنكِحُوا۟
fa-inkiḥū
maka nikahilah
مَا
apa
طَابَ
ṭāba
tampak cocok
لَكُم
lakum
kepadamu
مِّنَ
mina
dari
ٱلنِّسَآءِ
l-nisāi
para wanita
مَثْنَىٰ
mathnā
dua-dua
وَثُلَـٰثَ
wathulātha
atau tiga
وَرُبَـٰعَ ۖ
warubāʿa
atau empat
فَإِنْ
fa-in
Maka jika
خِفْتُمْ
khif'tum
kamu takut
أَلَّا
allā
bahwa tidak
تَعْدِلُوا۟
taʿdilū
kalian bisa berbuat adil
فَوَٰحِدَةً
fawāḥidatan
maka satu
أَوْ
aw
atau
مَا
apa
مَلَكَتْ
malakat
memiliki
أَيْمَـٰنُكُمْ ۚ
aymānukum
tangan kananmu
ذَٰلِكَ
dhālika
Itu
أَدْنَىٰٓ
adnā
Lebih pantas
أَلَّا
allā
agar tidak
تَعُولُوا۟
taʿūlū
kalian menzalimi

Wa in khiftum allā tuqsiṭū fil-yatāmā fankiḥū mā ṭāba lakum minan-nisā'i maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā‘(a), fa in khiftum allā ta‘dilū fa wāḥidatan au mā malakat aimānukum, żālika adnā allā ta‘ūlū.

Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim.

An-Nisa' · 4
﴿ 4 ﴾

وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَـٰتِهِنَّ نِحْلَةً‌ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيٓــًٔا مَّرِيٓــًٔا

وَءَاتُوا۟
waātū
Dan berikanlah
ٱلنِّسَآءَ
l-nisāa
para wanita
صَدُقَـٰتِهِنَّ
ṣaduqātihinna
mahar mereka
نِحْلَةًۭ ۚ
niḥ'latan
dengan murah hati
فَإِن
fa-in
Maka jika
طِبْنَ
ṭib'na
mereka merelakan
لَكُمْ
lakum
bagi kalian
عَن
ʿan
dari
شَىْءٍۢ
shayin
sesuatu
مِّنْهُ
min'hu
darinya
نَفْسًۭا
nafsan
sendiri
فَكُلُوهُ
fakulūhu
maka makanlah itu
هَنِيٓـًۭٔا
hanīan
(dalam) kepuasan
مَّرِيٓـًۭٔا
marīan
dan kemudahan

Wa ātun-nisā'a ṣaduqātihinna niḥlah(tan), fa in ṭibna lakum ‘an syai'im minhu nafsan fa kulūhu hanī'am marī'ā(n).

Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (mahar) itu dengan senang hati, terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.

An-Nisa' · 5
﴿ 5 ﴾

وَلَا تُؤْتُواْ ٱلسُّفَهَآءَ أَمْوَٲلَكُمُ ٱلَّتِى جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ قِيَـٰمًا وَٱرْزُقُوهُمْ فِيهَا وَٱكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا

وَلَا
walā
Dan jangan
تُؤْتُوا۟
tu'tū
memberikan
ٱلسُّفَهَآءَ
l-sufahāa
orang-orang bodoh
أَمْوَٰلَكُمُ
amwālakumu
harta kalian
ٱلَّتِى
allatī
yang
جَعَلَ
jaʿala
dijadikan
ٱللَّهُ
l-lahu
demi Allah
لَكُمْ
lakum
bagi kalian
قِيَـٰمًۭا
qiyāman
penopang
وَٱرْزُقُوهُمْ
wa-ur'zuqūhum
dan berilah mereka rezeki
فِيهَا
fīhā
di dalamnya
وَٱكْسُوهُمْ
wa-ik'sūhum
dan pakaikan mereka
وَقُولُوا۟
waqūlū
dan katakanlah
لَهُمْ
lahum
bagi mereka
قَوْلًۭا
qawlan
perkataan
مَّعْرُوفًۭا
maʿrūfan
kebaikan

Wa lā tu'tus-sufahā'a amwālakumul-latī ja‘alallāhu lakum qiyāmaw warzuqūhum fīhā waksūhum wa qūlū lahum qaulam ma‘rūfā(n).

Janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaan)-mu yang Allah jadikan sebagai pokok kehidupanmu. Berilah mereka belanja dan pakaian dari (hasil harta) itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

An-Nisa' · 6
﴿ 6 ﴾

وَٱبْتَلُواْ ٱلْيَتَـٰمَىٰ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغُواْ ٱلنِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَٱدْفَعُوٓاْ إِلَيْهِمْ أَمْوَٲلَهُمْ‌ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُواْ‌ۚ وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ‌ۖ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِٱلْمَعْرُوفِ‌ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَٲلَهُمْ فَأَشْهِدُواْ عَلَيْهِمْ‌ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ حَسِيبًا

وَٱبْتَلُوا۟
wa-ib'talū
Dan ujilah
ٱلْيَتَـٰمَىٰ
l-yatāmā
anak-anak yatim
حَتَّىٰٓ
ḥattā
hingga
إِذَا
idhā
ketika
بَلَغُوا۟
balaghū
mereka mencapai
ٱلنِّكَاحَ
l-nikāḥa
pernikahan
فَإِنْ
fa-in
maka jika
ءَانَسْتُم
ānastum
kalian melihat
مِّنْهُمْ
min'hum
di dalamnya
رُشْدًۭا
rush'dan
petunjuk
فَٱدْفَعُوٓا۟
fa-id'faʿū
maka serahkanlah
إِلَيْهِمْ
ilayhim
kepada mereka
أَمْوَٰلَهُمْ ۖ
amwālahum
harta mereka
وَلَا
walā
Dan jangan
تَأْكُلُوهَآ
takulūhā
memakannya
إِسْرَافًۭا
is'rāfan
berlebihan
وَبِدَارًا
wabidāran
dan tergesa-gesa
أَن
an
bahwa
يَكْبَرُوا۟ ۚ
yakbarū
mereka akan tumbuh dewasa
وَمَن
waman
Dan barangsiapa
كَانَ
kāna
adalah
غَنِيًّۭا
ghaniyyan
kaya
فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ
falyastaʿfif
maka dia harus menahan diri
وَمَن
waman
dan barangsiapa
كَانَ
kāna
adalah
فَقِيرًۭا
faqīran
miskin
فَلْيَأْكُلْ
falyakul
maka biarkan dia makan
بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ
bil-maʿrūfi
dengan cara yang baik
فَإِذَا
fa-idhā
Maka ketika
دَفَعْتُمْ
dafaʿtum
kamu menyampaikan
إِلَيْهِمْ
ilayhim
kepada mereka
أَمْوَٰلَهُمْ
amwālahum
harta mereka
فَأَشْهِدُوا۟
fa-ashhidū
maka ambillah saksi
عَلَيْهِمْ ۚ
ʿalayhim
atas mereka
وَكَفَىٰ
wakafā
Dan cukuplah
بِٱللَّهِ
bil-lahi
Allah
حَسِيبًۭا
ḥasīban
penghitung

Wabtalul-yatāmā ḥattā iżā balagun-nikāḥ(a), fa in ānastum minhum rusydan fadfa‘ū ilaihim amwālahum, wa lā ta'kulūhā isrāfaw wa bidāran ay yakbarū, wa man kāna ganiyyan falyasta‘fif, wa man kāna faqīran falya'kul bil-ma‘rūf(i), fa iżā dafa‘tum ilaihim amwālahum fa asyhidū ‘alaihim, wa kafā billāhi ḥasībā(n).

Ujilah anak-anak yatim itu (dalam hal mengatur harta) sampai ketika mereka cukup umur untuk menikah. Lalu, jika menurut penilaianmu mereka telah pandai (mengatur harta), serahkanlah kepada mereka hartanya. Janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menghabiskannya) sebelum mereka dewasa. Siapa saja (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan siapa saja yang fakir, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang baik. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Cukuplah Allah sebagai pengawas.