1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Yusuf (سورة يوسف), surah ke-12 dalam mushaf Al-Qur'an, adalah salah satu surah yang paling unik dan memikat. Terdiri dari 111 ayat, surah ini secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai surah Makkiyah (diturunkan di Mekah sebelum hijrah Nabi Muhammad ﷺ). Pendapat ini merupakan pandangan mayoritas ulama tafsir dan ahli Al-Qur'an. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menukil konsensus ini dengan menyatakan, "Surah ini seluruhnya Makkiyah, kecuali beberapa ayat yang dikatakan Madaniyah." Beliau kemudian mengutip pendapat dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi yang menegaskan bahwa surah ini turun di Mekah. Sebagian kecil ulama memang berpendapat ada tiga atau empat ayat pertama yang turun di Madinah, namun pandangan ini tidak kuat dan tidak didukung oleh riwayat yang solid.
Penempatan surah ini dalam periode Mekah sangatlah signifikan. Para ulama sirah dan tafsir, termasuk Ibn Ishaq yang karyanya banyak dinukil dalam As-Sirah an-Nabawiyyah oleh Ibn Hisham, menempatkan turunnya Surah Yusuf pada periode akhir dakwah di Mekah. Lebih spesifik lagi, surah ini diyakini turun pada masa yang dikenal sebagai 'Am al-Huzn (Tahun Kesedihan). Ini adalah tahun di mana Rasulullah ﷺ kehilangan dua sosok pelindung dan pendukung utamanya: istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha, dan paman beliau, Abu Thalib, yang selama ini menjadi benteng pelindung dari kekejaman kaum Quraisy.
Konteks ini sangat penting untuk memahami mengapa Allah SWT menurunkan sebuah surah yang secara utuh menceritakan satu kisah panjang. Di tengah puncak kesedihan, pengkhianatan, dan perlawanan dari kaumnya, Rasulullah ﷺ menerima wahyu yang berisi kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam. Kisah ini sarat dengan tema-tema yang relevan dengan kondisi beliau saat itu: pengkhianatan dari orang terdekat (saudara-saudara Yusuf vs kaum Quraisy), kesabaran (sabr) dalam menghadapi ujian yang bertubi-tubi (dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara), keteguhan iman di tengah godaan, dan janji kemenangan serta pertolongan Allah yang datang pada waktu yang tepat. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman, surah ini diturunkan sebagai tasliyah (pelipur lara) bagi Nabi Muhammad ﷺ, untuk menguatkan hatinya bahwa akhir dari kesabaran dan ketakwaan adalah kemenangan dan kemuliaan, sama seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf 'alaihissalam.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
Berbeda dengan banyak surah lain yang ayat-ayatnya turun secara terpisah sebagai respons terhadap berbagai peristiwa, Surah Yusuf memiliki sebab nuzul yang lebih terfokus dan berkaitan dengan turunnya surah ini secara keseluruhan sebagai sebuah narasi utuh.
2.1 Riwayat Utama
Riwayat yang paling masyhur mengenai sebab turunnya Surah Yusuf berkaitan dengan permintaan kaum musyrikin Quraisy yang berkolusi dengan para pemuka Yahudi di Madinah (saat itu masih bernama Yatsrib) untuk menguji kenabian Muhammad ﷺ. Riwayat ini disebutkan oleh banyak mufasir, termasuk Imam Al-Wahidi dalam kitabnya Asbab an-Nuzul dan Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul.
Imam Al-Wahidi meriwayatkan melalui jalur Sa'id bin Jubair, dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang menceritakan bahwa para pemuka Quraisy berkumpul dan berkata, "Mari kita bertanya kepada orang ini (Muhammad ﷺ) tentang sesuatu yang tidak ia ketahui." Mereka kemudian mengutus utusan kepada para pendeta Yahudi di Yatsrib. Para pendeta Yahudi berkata, "Tanyakan kepadanya, mengapa keluarga Ya'qub pindah dari Syam (Suriah) ke Mesir? Dan tanyakan pula tentang kisah Yusuf." Maka, para utusan Quraisy kembali ke Mekah dan mengajukan pertanyaan ini kepada Rasulullah ﷺ. Sebagai jawaban, Allah SWT menurunkan Surah Yusuf secara lengkap.
Versi lain dari riwayat ini, yang juga dinukil oleh Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul, berasal dari riwayat Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata, "Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau membacakannya kepada kami beberapa lama. Lalu para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika engkau menceritakan sebuah kisah kepada kami.' Maka Allah menurunkan ayat: 'Alif Lām Rā, tilka āyātul kitābil mubīn...' hingga ayat 'Naḥnu naquṣṣu ‘alaika aḥsanal qaṣaṣi...'. Kemudian, setelah beberapa waktu, mereka merasa jenuh dan berkata, 'Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika engkau menyampaikan sebuah hadits (pembicaraan) kepada kami.' Maka Allah menurunkan Surah Az-Zumar ayat 23: 'Allāhu nazzala aḥsanal ḥadīṡi kitābam mutasyābihan...' (Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang...)."
Riwayat dari Sa'd bin Abi Waqqas ini, yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan dishahihkannya, lebih menyoroti keinginan para sahabat untuk mendengar sebuah kisah, yang kemudian dijawab oleh Allah dengan menurunkan 'Ahsan al-Qasas' (kisah yang terbaik). Namun, riwayat yang lebih kuat dan lebih sering dikutip sebagai sabab nuzul utama adalah yang berkaitan dengan pertanyaan kaum Yahudi melalui perantara Quraisy.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an juga membawakan riwayat serupa dari Qatadah dan Mujahid bin Jabr. Qatadah menyebutkan bahwa kaum Yahudi berkata kepada kaum musyrikin Quraisy, "Tanyakan kepada Muhammad tentang kisah Yusuf." Pertanyaan ini diajukan karena kisah Nabi Yusuf sangat dikenal dalam tradisi Ahlul Kitab (Taurat), namun tidak dikenal secara luas di kalangan bangsa Arab saat itu. Mereka berharap Nabi Muhammad ﷺ, yang mereka anggap ummi (tidak bisa membaca dan menulis), tidak akan mampu menjawabnya, sehingga kenabiannya dapat diragukan.
Namun, para ulama hadits memberikan catatan mengenai sanad (rantai perawi) dari riwayat-riwayat ini. Sebagian besar riwayat yang secara spesifik menyebutkan pertanyaan Yahudi sebagai sebab turunnya surah ini memiliki sanad yang mursal (terputus di generasi Tabi'in) atau mengandung kelemahan. Misalnya, riwayat yang dinukil Al-Wahidi seringkali melalui jalur-jalur yang diperdebatkan oleh para ahli hadits. Meskipun demikian, Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, setelah menyebutkan riwayat-riwayat ini, tidak menolaknya secara mentah-mentah. Beliau dan banyak ulama lainnya menerima substansi dari riwayat ini karena sangat sesuai dengan konteks historis dan isi surah itu sendiri.
Kombinasi dari dua jenis riwayat (pertanyaan Yahudi dan permintaan sahabat) dapat dipahami secara harmonis. Sangat mungkin bahwa kedua peristiwa ini terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan. Kaum musyrikin mengajukan pertanyaan mereka atas hasutan kaum Yahudi, dan pada saat yang sama, para sahabat yang setia juga merindukan sebuah narasi yang dapat menguatkan iman dan memberikan pelajaran. Allah SWT, dengan hikmah-Nya, menjawab kedua situasi ini dengan menurunkan satu surah yang utuh, yang berfungsi sebagai mukjizat (menjawab tantangan kaum kafir) dan sebagai sumber hikmah serta pelipur lara (memenuhi kebutuhan kaum mukmin).
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Dalam kasus Surah Yusuf, kita memiliki riwayat asbab an-nuzul yang cukup jelas, meskipun dengan beberapa catatan pada sanadnya. Yang lebih penting adalah kesepakatan para ulama mengenai konteks umum penurunannya, yaitu sebagai wahyu yang diturunkan untuk menghibur dan menguatkan Nabi Muhammad ﷺ di masa-masa tersulit dakwah beliau di Mekah. Konteks umum ini, yang didukung oleh sirah nabawiyah yang shahih, jauh lebih fundamental dalam memahami pesan surah ini daripada sekadar detail riwayat sebab nuzulnya.
3. Konteks Historis & Sosial
Turunnya Surah Yusuf pada 'Am al-Huzn menempatkannya dalam salah satu periode paling kritis dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Setelah sekitar sepuluh tahun berdakwah di Mekah, beliau menghadapi eskalasi permusuhan yang luar biasa.
Kehilangan Perlindungan Ganda: Wafatnya Abu Thalib adalah pukulan telak. Meskipun tidak pernah memeluk Islam, Abu Thalib adalah kepala Bani Hasyim yang menggunakan pengaruh dan status kesukuan untuk melindungi keponakannya dari agresi fisik kaum Quraisy. Setelah beliau wafat, perlindungan itu sirna. Kaum Quraisy, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, merasa bebas untuk menyakiti Nabi ﷺ secara fisik dan verbal dengan lebih brutal. Ibn Hisham dalam As-Sirah an-Nabawiyyah mencatat bagaimana setelah kematian Abu Thalib, seorang Quraisy bahkan berani melemparkan tanah ke kepala Rasulullah ﷺ di depan umum, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.
Kehilangan Dukungan Emosional: Wafatnya Khadijah radhiyallahu 'anha dalam tahun yang sama menambah duka yang mendalam. Beliau bukan hanya istri, tetapi juga orang pertama yang beriman, pendukung finansial utama dakwah, dan sumber ketenangan bagi Rasulullah ﷺ. Ketika Nabi ﷺ pulang dengan hati yang gundah atau lelah karena cemoohan kaumnya, Khadijah-lah yang menenangkan dan menguatkan beliau.
Puncak Penolakan dan Perjalanan ke Tha'if: Merasa dakwah di Mekah menemui jalan buntu, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan ke kota Tha'if, berharap penduduknya dari kabilah Tsaqif mau menerima Islam. Namun, yang beliau terima adalah penolakan yang lebih kejam. Para pemimpin Tha'if menghasut anak-anak dan orang-orang bodoh untuk melempari beliau dengan batu hingga kedua kaki beliau berdarah. Dalam keadaan yang sangat terpuruk inilah beliau memanjatkan doa yang sangat terkenal, mengadukan kelemahan dirinya kepada Allah.
Dalam suasana keputusasaan, pengkhianatan, dan kesedihan inilah Surah Yusuf turun. Surah ini seolah-olah menjadi jawaban langsung dari langit. Allah SWT berfirman: "Lihatlah kisah saudaramu, Yusuf. Ia dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri, dibuang, diperbudak, dan difitnah. Namun, ia bersabar dan tetap bertakwa. Lihatlah bagaimana Aku mengangkat derajatnya, memberinya kekuasaan, dan pada akhirnya mempertemukannya kembali dengan keluarganya dalam keadaan mulia." Pesan ini memberikan harapan yang luar biasa kepada Nabi ﷺ dan para sahabat. Jika Yusuf bisa selamat dan menang setelah semua penderitaan itu, maka engkau (Muhammad ﷺ) dan pengikutmu pun pasti akan meraih kemenangan.
4. Tema Sentral Surah
Tema sentral Surah Yusuf adalah keindahan buah dari kesabaran (sabr) dan ketakwaan (taqwa) dalam menghadapi ujian hidup, serta keyakinan penuh pada rencana dan pengaturan Allah SWT yang sempurna (tadbirullah). Allah sendiri menamainya 'Ahsan al-Qasas' (Kisah yang Terbaik) bukan hanya karena alur ceritanya yang dramatis, tetapi karena saratnya pelajaran dan hikmah di setiap episodenya.
Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menekankan bahwa surah ini mengandung pelajaran tentang bagaimana Allah mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya, dari kesulitan menuju kelapangan. Beliau menyoroti perjalanan Yusuf dari dasar sumur ke istana, dari penjara ke kursi pemerintahan, sebagai bukti nyata dari firman Allah: "...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2-3).
Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman memberikan analisis yang mendalam tentang tema luthfullah (kelembutan dan kebijaksanaan Allah yang tersembunyi). Beliau menjelaskan bahwa setiap musibah yang menimpa Yusuf, kedengkian saudaranya, pembuangannya ke sumur, statusnya sebagai budak, fitnah Zulaikha, hingga masa penjaranya, semuanya adalah anak tangga yang telah Allah siapkan untuk mengantarkannya pada kedudukan tinggi sebagai bendahara Mesir dan seorang nabi yang mulia. Apa yang tampak sebagai keburukan pada zahirnya, sesungguhnya adalah bagian dari skenario ilahi yang penuh kebaikan.
Munasabah (Keterkaitan) dengan Surah Sebelumnya/Sesudahnya:
Surah Yusuf terletak di antara Surah Hud dan Surah Ar-Ra'd. Surah Hud sebelumnya menyajikan kisah-kisah beberapa nabi (Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu'aib, Musa) yang ditolak oleh kaumnya, dan diakhiri dengan azab yang menimpa kaum-kaum tersebut. Surah Yusuf melanjutkan tema kenabian, namun dengan fokus pada satu kisah yang sangat detail, menyoroti aspek ujian personal, dinamika keluarga, dan kemenangan yang diraih bukan melalui azab terhadap musuh, melainkan melalui pengampunan dan kekuasaan. Ini memberikan perspektif lain tentang kemenangan para nabi. Surah Ar-Ra'd sesudahnya kembali ke tema umum tentang tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, kebenaran wahyu, dan perumpamaan antara kebenaran dan kebatilan, melengkapi narasi spesifik dalam Surah Yusuf dengan argumen-argumen universal.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Sangat penting untuk dicatat bahwa tidak ada riwayat hadits yang shahih (otentik) dan marfu' (bersambung sampai kepada Nabi ﷺ) yang secara khusus menyebutkan keutamaan tertentu bagi pembaca Surah Yusuf. Banyak hadits yang beredar di kalangan masyarakat mengenai fadhilah surah ini, seperti 'mengajarkannya kepada budak akan meringankan sakaratul maut' atau 'membacanya akan diberikan ketampanan seperti Nabi Yusuf', adalah hadits-hadits yang lemah (dha'if) bahkan palsu (maudhu').
Para ulama ahli hadits seperti Imam Ibn al-Jauzi dalam Al-Maudhu'at dan Imam As-Suyuti dalam Al-La'ali al-Masnu'ah telah memperingatkan umat tentang riwayat-riwayat palsu ini. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim yang berpegang pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita harus berhati-hati dan tidak menyandarkan amalan pada dalil yang tidak terbukti kebenarannya.
Namun, ketiadaan hadits khusus tidak mengurangi sedikit pun kemuliaan surah ini. Keutamaan terbesarnya justru datang langsung dari firman Allah SWT di dalam surah itu sendiri:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
"Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang terbaik..." (QS. Yusuf: 3)
Pujian dari Allah sebagai 'Ahsan al-Qasas' (Kisah yang Terbaik) sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kedudukannya yang agung. Keutamaannya tidak terletak pada 'ritual' membacanya untuk tujuan duniawi tertentu, melainkan pada proses tadabbur (merenungkan) makna-maknanya, mengambil pelajaran (ibrah) dari setiap ayatnya, dan meneladani akhlak mulia Nabi Yusuf 'alaihissalam seperti kesabaran, ketakwaan, profesionalisme (ihsan), dan kemampuan memaafkan.
Keutamaan umumnya sama seperti membaca Al-Qur'an secara keseluruhan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim, no. 804).
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para ulama salaf memberikan banyak catatan berharga dalam menafsirkan Surah Yusuf.
Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, sang Turjuman al-Qur'an (Penerjemah Al-Qur'an), menjelaskan makna 'ta'wil al-ahadits' (ayat 6) sebagai kemampuan menafsirkan mimpi. Kemampuan inilah yang menjadi salah satu mukjizat Nabi Yusuf dan kunci dari banyak peristiwa penting dalam hidupnya.
Mujahid bin Jabr, murid senior Ibn Abbas, ketika menafsirkan ayat 'inna anzalnahu qur'anan 'arabiyyan la'allakum ta'qilun' (ayat 2), menekankan bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas agar kaum yang pertama kali menerimanya (bangsa Arab) dapat memahaminya dengan akal mereka, yang kemudian menjadi hujjah atas mereka dan seluruh umat manusia.
Imam Hasan al-Basri seringkali merenungkan ayat tentang kesabaran Nabi Ya'qub 'alaihissalam: 'faṣabrun jamīl' (maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)). Beliau berkata, "Kesabaran yang baik adalah kesabaran yang tidak disertai dengan keluh kesah kepada makhluk." Ini menunjukkan level kesabaran tertinggi, di mana seseorang hanya mengadukan kesedihannya kepada Allah semata, seperti yang dilakukan Nabi Ya'qub: 'Innamā asykū baṡṡī wa ḥuznī ilallāh' (Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku).
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an mengambil banyak sekali pelajaran hukum dan akhlak dari surah ini. Salah satunya adalah dari nasihat Nabi Ya'qub kepada Yusuf (ayat 5), 'la taqsus ru'yaka 'ala ikhwatika' (jangan ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu). Beliau menyimpulkan bahwa boleh hukumnya menyembunyikan nikmat yang Allah berikan jika dikhawatirkan akan menimbulkan kedengkian dari orang lain. Ini adalah bentuk kehati-hatian yang dibenarkan syariat.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya memberikan penekanan pada konsep ihsan (berbuat baik secara profesional dan maksimal) yang dipraktikkan oleh Nabi Yusuf. Baik saat di rumah Al-'Aziz maupun di dalam penjara, Yusuf selalu melakukan yang terbaik, sehingga orang-orang di sekitarnya mengakuinya sebagai 'minal muhsinin' (termasuk orang-orang yang berbuat baik). Sikap inilah yang menjadi salah satu sebab Allah mengangkat derajatnya.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Surah Yusuf adalah lautan hikmah yang tak pernah kering. Beberapa pelajaran konkret yang sangat relevan bagi kehidupan modern adalah:
Resiliensi di Tengah Badai Kehidupan: Kisah Yusuf adalah masterclass dalam resiliensi. Dari pengkhianatan keluarga, perbudakan, fitnah keji, hingga penjara yang panjang, setiap ujian justru menempa karakternya menjadi lebih kuat dan imannya lebih dalam. Pelajarannya bagi kita adalah bahwa ujian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses pembentukan dari Allah untuk mempersiapkan kita bagi peran yang lebih besar. Kuncinya adalah sabr dan taqwa.
Menghadapi 'Racun' Iri Hati dalam Keluarga dan Lingkungan Kerja: Iri hati (hasad) adalah pemicu pertama tragedi dalam kisah ini. Saudara-saudara Yusuf tidak tahan melihat cinta ayah mereka yang lebih besar kepada Yusuf. Di zaman sekarang, hasad merusak hubungan keluarga, pertemanan, dan profesional. Surah ini mengajarkan bahaya destruktif dari membanding-bandingkan diri dan tidak ridha dengan takdir Allah. Ia juga mengajarkan kehati-hatian (seperti nasihat Ya'qub) dan kekuatan memaafkan untuk memutus siklus kebencian.
Menjaga Kehormatan Diri ('Iffah) di Era Penuh Godaan: Episode Nabi Yusuf dengan istri Al-'Aziz adalah pelajaran abadi tentang 'iffah (kesucian diri). Di tengah godaan yang sangat besar, wanita cantik, berkuasa, di dalam rumah yang terkunci, Yusuf memilih penjara daripada bermaksiat kepada Allah. "Rabbi, as-sijnu ahabbu ilayya mimma yad'unani ilaih" (Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka). Ini adalah inspirasi luar biasa bagi pemuda-pemudi Muslim hari ini untuk menjaga kehormatan di tengah derasnya arus pornografi dan pergaulan bebas, dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang bagi mereka yang menjaga diri.
Harapan Tidak Pernah Padam: Nabi Ya'qub, meskipun telah kehilangan Yusuf selama puluhan tahun dan kemudian kehilangan Bunyamin, tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Beliau berkata kepada anak-anaknya, "...wa la tai'asu mir rauhillah, innahu la yai'asu mir rauhillahi illal-qaumul-kafirun" (dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir). Ini adalah pesan optimisme ilahi yang sangat kuat: selama kita beriman, pintu harapan dan pertolongan Allah tidak akan pernah tertutup.
8. Penutup & Doa
Surah Yusuf, Ahsan al-Qasas, adalah sebuah cermin yang merefleksikan perjalanan hidup setiap insan yang beriman. Ia adalah kisah tentang bagaimana kegelapan tergelap sekalipun, dasar sumur, sel penjara, malam kesedihan, pasti akan disusul oleh fajar kemenangan bagi mereka yang berpegang teguh pada tali Allah dengan kesabaran dan ketakwaan. Surah ini bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan sebuah peta jalan ilahi untuk menavigasi kompleksitas ujian, fitnah, dan harapan dalam kehidupan kita.
Semoga Allah SWT memberikan kita pemahaman yang mendalam terhadap kitab-Nya, menjadikan kita orang-orang yang sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi nikmat, serta meneladani akhlak mulia para nabi-Nya.
Allahumma faqqihna fid-din wa 'allimna at-ta'wil.
(Ya Allah, berikanlah kami pemahaman yang mendalam dalam agama dan ajarkanlah kami takwil/pemahaman yang benar).
والله أعلم
(Dan Allah Maha Mengetahui yang sebenarnya).