1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Al-Anbiya' (الأنبياء), yang berarti "Para Nabi", adalah surah ke-21 dalam mushaf Al-Qur'an. Berdasarkan kesepakatan mayoritas ulama tafsir dan ahli 'ulum al-Qur'an, surah ini tergolong sebagai surah Makkiyah, yaitu surah yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menyatakan, "Surah ini adalah Makkiyah menurut kesepakatan mereka semua." Pendapat serupa juga dikemukakan oleh para ulama salaf seperti Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, sebagaimana dinukil oleh Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan. Ke-Makkiyah-an surah ini sangat jelas terlihat dari tema-tema yang diusungnya: penegasan pilar-pilar akidah seperti tauhid, kenabian (nubuwwah), dan hari kebangkitan (al-ba'ts), serta bantahan-bantahan keras terhadap syirik dan argumen kaum musyrikin Quraisy.
Dalam urutan kronologis penurunan wahyu (tartib an-nuzul), para ulama seperti yang disebutkan oleh Jalaluddin as-Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an, menempatkan Surah Al-Anbiya' setelah Surah Ibrahim dan sebelum Surah Al-Mu'minun. Ini mengindikasikan bahwa surah ini turun pada periode pertengahan hingga akhir dari fasa dakwah di Mekah. Pada periode ini, konfrontasi antara Nabi ﷺ dan kaum musyrikin Quraisy semakin menajam. Intimidasi, cemoohan, dan penolakan terhadap dakwah tauhid telah menjadi pemandangan sehari-hari. Kaum musyrikin tidak lagi sekadar meragukan, tetapi telah melancarkan serangan verbal yang sistematis, menuduh Nabi ﷺ sebagai penyair, tukang sihir, atau orang yang mengada-ada. Mereka juga menuntut mukjizat-mukjizat fisik sebagai bukti kenabian, sama seperti yang mereka dengar dari kisah-kisah umat terdahulu. Suasana dakwah pada masa ini dipenuhi dengan ujian berat bagi Rasulullah ﷺ dan segelintir sahabat yang telah beriman. Oleh karena itu, Surah Al-Anbiya' turun sebagai peneguh hati Nabi ﷺ, pengingat akan sunnatullah dalam perjuangan para nabi terdahulu, sekaligus sebagai peringatan keras bagi kaum Quraisy yang semakin tenggelam dalam kelalaian.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Catatan Penting: Konteks Umum, Bukan Riwayat Khusus
Sebuah poin krusial yang harus dipahami terkait ayat-ayat pembuka Surah Al-Anbiya' (ayat 1-10) adalah bahwa para ulama pakar asbab an-nuzul tidak meriwayatkan adanya satu peristiwa atau insiden spesifik yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat ini. Imam Al-Wahidi dalam kitabnya yang monumental, Asbab an-Nuzul, tidak mencantumkan riwayat khusus untuk permulaan surah ini. Demikian pula Imam As-Suyuti dalam ringkasannya, Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, juga tidak menyebutkan adanya sebab nuzul yang bersifat partikular. Hal yang sama juga ditemukan dalam kitab-kitab tafsir induk seperti Jami' al-Bayan karya At-Tabari dan Tafsir al-Qur'an al-'Azim karya Ibn Kathir.
Ketiadaan riwayat sabab nuzul yang spesifik ini bukanlah suatu kekurangan, melainkan menunjukkan bahwa ayat-ayat ini turun sebagai respons terhadap kondisi umum dan sikap kolektif kaum musyrikin Mekah pada saat itu. Ayat-ayat ini merupakan sebuah teguran dan peringatan ilahiah yang ditujukan kepada sikap lalai (ghaflah), berpaling (i'radh), dan memperolok-olok (istiḥzā') yang telah menjadi karakter utama masyarakat Quraisy dalam menyikapi dakwah Al-Qur'an. Dengan demikian, sabab an-nuzul dari ayat-ayat ini adalah keadaan spiritual dan sosial kaum kafir Mekah secara keseluruhan, bukan sebuah kejadian tunggal. Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa surah ini dimulai dengan peringatan kepada seluruh manusia yang lalai tentang dekatnya hari perhitungan, sebuah deskripsi yang sangat cocok dengan kondisi masyarakat yang dihadapi oleh Nabi ﷺ di Mekah.
2.2 Analisis Kontekstual Berdasarkan Teks Ayat
Meskipun tidak ada riwayat spesifik, isi dari ayat-ayat 1-10 itu sendiri memberikan petunjuk yang sangat jelas mengenai konteks penurunannya. Mari kita urai satu per satu:
Ayat 1:
اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ("Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amalan mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling.") Ayat ini secara langsung menggambarkan diagnosis ilahi terhadap kondisi kaum Quraisy: mereka terbuai oleh kehidupan duniawi, lalai akan akhirat, dan secara sadar memilih untuk berpaling dari peringatan yang datang kepada mereka.Ayat 2-3:
مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّهِمْ مُّحْدَثٍ اِلَّا اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ ۙ لَاهِيَةً قُلُوْبُهُمْۗ("Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya sambil bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai.") Frasa dzikrin muhdats (peringatan yang baru) merujuk pada turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur. Setiap kali ayat baru turun, bukannya menjadi bahan renungan, ia justru menjadi bahan olok-olok dan permainan bagi mereka. Hati mereka, sebagaimana digambarkan, sibuk dengan hal-hal lain (lahiyah).Ayat 3 (lanjutan):
وَاَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا هَلْ هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ("Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: ‘Orang ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia biasa seperti kamu.’") Ini adalah cerminan dari propaganda yang mereka bisikkan di antara mereka sendiri di majelis-majelis seperti Darun Nadwah. Argumen bahwa seorang nabi tidak mungkin berasal dari kalangan manusia biasa adalah salah satu syubhat utama mereka untuk menolak kenabian Muhammad ﷺ.Ayat 5:
بَلْ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍۢ بَلِ افْتَرٰىهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌۚ فَلْيَأْتِنَا بِاٰيَةٍ كَمَآ اُرْسِلَ الْاَوَّلُوْنَ("Bahkan mereka berkata (pula): ‘(Al Qur'an itu) adalah mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus.’") Ayat ini merangkum eskalasi tuduhan mereka. Mereka bingung dan tidak konsisten: dari menyebutnya sihir, lalu mimpi kosong, lalu rekayasa, hingga tuduhan sebagai penyair. Puncaknya, mereka menuntut mukjizat fisik (ayah), yang menunjukkan penolakan mereka terhadap Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar.
Dengan demikian, ayat-ayat ini berfungsi sebagai rekaman ilahi yang membongkar keadaan, argumen, dan tuntutan kaum musyrikin Quraisy, sekaligus memberikan jawaban dan bantahan telak atas semuanya.
3. Konteks Historis & Sosial
Turunnya Surah Al-Anbiya' berada pada salah satu fase terberat dalam sejarah dakwah Islam di Mekah. Setelah beberapa tahun dakwah secara sembunyi-sembunyi dan kemudian terang-terangan, permusuhan kaum Quraisy telah mencapai puncaknya. Situasi sosial dan historis saat itu dapat dirangkum sebagai berikut:
Intensifikasi Perlawanan Quraisy: Para pemuka Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, dan Umayyah bin Khalaf, tidak lagi memandang dakwah Nabi ﷺ sebagai ancaman minor. Mereka melihatnya sebagai bahaya eksistensial yang mengancam tatanan sosial, ekonomi (terkait status Ka'bah dan haji), dan politik mereka. Oleh karena itu, mereka melancarkan kampanye perlawanan yang terorganisir.
Perang Psikologis dan Propaganda: Sebagaimana direkam dalam ayat 3 dan 5, metode utama mereka adalah perang psikologis. Mereka menyebarkan berbagai tuduhan untuk merusak kredibilitas Nabi Muhammad ﷺ. Dalam kitab sirah seperti As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibn Hisham, diceritakan bagaimana para pemuka Quraisy berkumpul untuk menyepakati satu narasi tunggal yang akan mereka sampaikan kepada para peziarah yang datang ke Mekah. Mereka bingung antara menyebutnya penyihir, orang gila, atau penyair, yang mana kebingungan ini justru diabadikan oleh Al-Qur'an dalam surah ini.
Tuntutan Mukjizat Material: Kaum Quraisy seringkali menantang Nabi ﷺ untuk menunjukkan mukjizat-mukjizat fisik seperti yang mereka dengar dari kisah Nabi Musa 'alayhissalam (tongkat menjadi ular) atau Nabi Isa 'alayhissalam (menghidupkan orang mati). Tuntutan ini, sebagaimana disebutkan dalam ayat 5, bukanlah lahir dari pencarian tulus akan kebenaran, melainkan sebagai bentuk pembangkangan dan upaya untuk melemahkan posisi Nabi ﷺ. Mereka menolak untuk menerima bahwa Al-Qur'an, dengan keindahan bahasa, kedalaman makna, dan kebenaran isinya, adalah mukjizat yang lebih besar.
Kondisi Para Sahabat: Para sahabat, terutama yang lemah dan tidak memiliki perlindungan suku, mengalami penyiksaan yang luar biasa. Keluarga Yasir, Bilal bin Rabah, Khabbab bin al-Aratt, adalah contoh-contoh nyata dari penderitaan fisik yang mereka alami. Surah ini, dengan menceritakan kisah-kisah para nabi yang juga ditolak dan dimusuhi kaumnya, menjadi sumber tasliyah (penghiburan) dan peneguhan iman bagi mereka. Pesannya jelas: jalan dakwah memang dipenuhi ujian, dan kesabaran akan berbuah kemenangan, sebagaimana janji Allah kepada para rasul-Nya (ayat 9).
Surah Al-Anbiya' merespons situasi ini secara komprehensif. Ia dimulai dengan sebuah 'lonceng peringatan' yang mengejutkan (ayat 1), kemudian membongkar argumen-argumen kosong kaum musyrikin (ayat 2-5), membantah logika mereka dengan merujuk pada sunnatullah terhadap umat-umat terdahulu (ayat 6), menegaskan fitrah kemanusiaan para rasul (ayat 7-8), dan diakhiri dengan janji kemenangan bagi orang beriman dan kebinasaan bagi yang melampaui batas (ayat 9-10). Surah ini, dengan demikian, adalah intervensi ilahi yang turun tepat pada saat dibutuhkan untuk menguatkan barisan dakwah dan mematahkan perlawanan ideologis kaum kafir.
4. Tema Sentral Surah
Tema sentral Surah Al-Anbiya' adalah penegasan tentang hakikat risalah kenabian yang tunggal dan kesinambungannya dalam sejarah manusia, yang semuanya bermuara pada poros tauhidullah (mengesakan Allah) dan peringatan akan hari akhir. Surah ini secara unik menyajikan kisah-kisah sejumlah besar nabi dalam satu rangkaian narasi yang padat untuk membuktikan satu poin fundamental: pesan semua nabi adalah sama.
Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyoroti bahwa surah ini dimulai dengan peringatan tentang kelalaian manusia terhadap hari perhitungan, kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan berbagai syubhat kaum musyrikin terhadap Al-Qur'an dan Rasulullah ﷺ. Setelah itu, Allah membentangkan kisah para nabi sebagai bukti nyata bahwa apa yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah pola yang berulang (sunnatullah) dalam sejarah para utusan. Setiap nabi datang dengan pesan tauhid, setiap nabi ditolak oleh kaumnya dengan argumen serupa, dan setiap nabi akhirnya diselamatkan oleh Allah bersama para pengikutnya.
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa poros surah ini adalah tentang para nabi dan risalah yang mereka bawa. Surah ini mengandung dasar-dasar penting agama, yaitu ikhlas beribadah hanya kepada Allah (tauhid al-uluhiyyah) dan iman kepada seluruh rasul-Nya tanpa membeda-bedakan. Surah ini membantah mereka yang mengingkari kenabian Muhammad ﷺ dengan menunjukkan bahwa beliau hanyalah satu mata rantai dalam silsilah emas para nabi yang mulia.
Adapun munasabah (keterkaitan) dengan surah sebelumnya, Surah Taha, sangatlah erat. Surah Taha ditutup dengan kisah Nabi Adam dan peringatan untuk bersabar atas ucapan kaum kafir. Surah Al-Anbiya' dimulai dengan peringatan yang lebih keras tentang dekatnya hisab bagi kaum kafir yang lalai tersebut, seolah-olah menjadi kelanjutan langsung dari ancaman di akhir Surah Taha. Keduanya juga sama-sama banyak mengisahkan perjuangan para nabi, dengan Surah Taha yang fokus pada kisah Nabi Musa 'alayhissalam secara mendetail, sementara Surah Al-Anbiya' menyajikannya secara lebih ringkas namun dengan cakupan nabi yang lebih banyak.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Terdapat sebuah hadits shahih yang menunjukkan keutamaan khusus dari Surah Al-Anbiya' bersama dengan beberapa surah Makkiyah lainnya. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat mulia, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, yang merupakan salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam dan paling mendalami Al-Qur'an.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha'il al-Qur'an (Keutamaan-Keutamaan Al-Qur'an), bahwa 'Abdurrahman bin Yazid berkata, ia mendengar Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata mengenai Surah Bani Isra'il (Al-Isra'), Al-Kahfi, Maryam, Taha, dan Al-Anbiya':
هُنَّ مِنَ الْعِتَاقِ الأُوَلِ وَهُنَّ مِنْ تِلاَدِي
"Hunna min al-'itāq al-uwal, wa hunna min tilādī."
(Artinya: "Mereka (kelima surah ini) termasuk surah-surah 'itaq yang pertama-tama (turun), dan mereka adalah bagian dari hartaku yang paling berharga dan kusimpan sejak lama.") - (HR. Al-Bukhari, no. 4994)
Penjelasan dari ucapan Ibn Mas'ud ini sangat mendalam:
- Al-'Itāq al-Uwal: Al-'Itāq adalah bentuk jamak dari 'atīq, yang berarti sesuatu yang kuno, mulia, dan berharga. Al-Uwal berarti yang pertama-tama. Maksudnya, kelima surah ini termasuk surah-surah yang pertama kali turun di Mekah dan pertama kali beliau hafal dan pelajari. Ini menunjukkan kedudukan istimewa surah-surah ini karena mengandung pondasi ajaran Islam.
- Min Tilādī: Tilād adalah harta pusaka atau kekayaan yang dimiliki sejak lama dan sangat berharga. Dengan ungkapan ini, Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu menunjukkan betapa besar cinta dan penghargaannya terhadap surah-surah ini. Mereka adalah 'modal' spiritual dan ilmunya yang pertama, yang membentuk kepribadiannya sebagai seorang Muslim di masa-masa awal yang penuh tantangan.
Riwayat ini secara tegas menempatkan Surah Al-Anbiya' dalam kategori surah-surah yang sangat istimewa, terutama bagi generasi awal Muslim. Surah ini menjadi bagian dari kurikulum dasar yang membangun akidah dan keteguhan para sahabat di Mekah.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para ulama salaf memberikan perhatian khusus pada ayat-ayat pembuka Surah Al-Anbiya' karena kedalaman maknanya.
Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, sang turjuman al-Qur'an (penerjemah Al-Qur'an), ketika menafsirkan frasa
مِنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّهِمْ مُّحْدَثٍ(min dzikrin min rabbihim muhdatsin - dari peringatan yang baru dari Tuhan mereka), beliau menjelaskan bahwa kata muhdats (baru) di sini merujuk pada turunnya wahyu yang terjadi secara bertahap. Sebagaimana dinukil oleh At-Tabari, maksudnya adalah setiap kali satu bagian Al-Qur'an diturunkan setelah bagian yang lain, ia menjadi 'baru' bagi mereka. Ini membantah anggapan bahwa 'baru' berarti Al-Qur'an adalah makhluk, sebuah pandangan sesat yang muncul di kemudian hari. Bagi salaf, 'baru' adalah dalam konteks penurunannya kepada manusia, bukan dalam Dzat Kalamullah.Mujahid bin Jabr, murid utama Ibn Abbas, memberikan penafsiran yang tajam tentang ayat
لَاهِيَةً قُلُوْبُهُمْ(lahiyatan qulubuhum - hati mereka lalai). Beliau berkata, "Hati mereka lalai, bermain-main, dan tidak mengambil pelajaran darinya." Ini menunjukkan bahwa masalah utama kaum musyrikin bukanlah pada pendengaran fisik mereka, tetapi pada 'tulinya' hati mereka yang telah tertutup dari kebenaran karena sibuk dengan urusan dunia dan kesombongan.Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, seorang tabi'in terkemuka, mengomentari ayat pertama,
اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ, dengan mengatakan, "Perintah Allah itu, setiap kali ia mendekat, manusia justru semakin menjauh darinya." Ini adalah sebuah paradoks tragis dari kondisi manusia: semakin dekatnya ajal dan hari perhitungan, semakin manusia tenggelam dalam kelalaian.Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an memberikan analisis mendalam tentang berbagai tuduhan kaum kafir dalam ayat 5. Beliau menjelaskan bahwa inkonsistensi tuduhan mereka, dari mimpi kosong, rekayasa, hingga penyair, justru merupakan bukti kebingungan mereka sendiri. Mereka tidak memiliki argumen yang kokoh untuk menolak Al-Qur'an, sehingga mereka hanya melemparkan tuduhan secara acak dengan harapan salah satunya akan dipercaya orang. Ini adalah taktik kaum batil di setiap zaman.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Ayat-ayat pembuka Surah Al-Anbiya' mengandung pelajaran abadi yang sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini:
Waspada Terhadap Musuh Terbesar: Ghaflah (Kelalaian). Ayat pertama adalah peringatan universal.
Hisab(perhitungan) itu pasti datang dan semakin dekat setiap detiknya. Namun, musuh terbesar yang membuat kita lupa akan kenyataan ini adalah ghaflah. Di zaman modern, ghaflah menjelma dalam bentuk-bentuk baru: hiburan tanpa henti, media sosial yang menyita waktu, ambisi duniawi yang tak berujung, dan kesibukan yang membuat kita lupa akan tujuan penciptaan. Ayat ini mengajak kita untuk melakukan introspeksi: apakah kita termasuk orang-orang yang lalai dan berpaling, atau orang-orang yang sadar dan mempersiapkan diri?Sikap yang Benar Terhadap Al-Qur'an. Ayat 2 dan 3 mengkritik mereka yang mendengar Al-Qur'an
sambil bermain-maindenganhati yang lalai. Ini adalah cerminan bagi kita. Bagaimana kita berinteraksi dengan Al-Qur'an? Apakah kita membacanya sekadar sebagai rutinitas tanpa perenungan? Apakah kita mendengarkan murattal hanya sebagai latar belakang musik tanpa meresapi maknanya? Pelajaran di sini adalah untuk mendekati Al-Qur'an dengan hati yang hadir (hudhur al-qalb), penuh pengagungan, dan dengan niat untuk mengambil petunjuk, bukan sebagai objek hiburan atau formalitas belaka.Mengenali Pola Argumen Anti-Wahyu. Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ (ayat 3 & 5), bahwa beliau hanya manusia biasa, bahwa Al-Qur'an adalah rekayasa atau mimpi, adalah pola argumen yang terus diulang oleh para penentang Islam hingga hari ini. Mereka mencoba mereduksi wahyu menjadi produk manusiawi. Memahami ayat-ayat ini membekali kita dengan kesadaran historis bahwa syubhat-syubhat modern seringkali hanyalah pengulangan dari argumen usang kaum musyrikin Quraisy. Ini menguatkan keyakinan kita dan membantu kita meresponsnya dengan hikmah dan ilmu.
Kecukupan Al-Qur'an Sebagai Mukjizat. Tuntutan kaum kafir akan mukjizat fisik (ayat 5) dijawab oleh Allah dengan penegasan bahwa umat-umat terdahulu yang diberi mukjizat fisik pun tetap binasa karena kekafiran mereka (ayat 6). Pelajaran bagi kita adalah bahwa mukjizat terbesar dan paling relevan bagi umat akhir zaman adalah Al-Qur'an itu sendiri. Keajaibannya terletak pada bahasanya, konsistensi ajarannya, kebenaran ilmiahnya, dan kemampuannya untuk terus menjadi petunjuk bagi manusia. Kita harus fokus untuk menggali mukjizat Al-Qur'an ini, bukan mencari-cari hal-hal yang bersifat sensasional.
8. Penutup & Doa
Permulaan Surah Al-Anbiya' adalah sebuah guncangan kesadaran bagi setiap jiwa yang lalai. Ia mengingatkan kita dengan keras bahwa waktu terus berjalan menuju satu titik akhir yang tak terelakkan: hari perhitungan di hadapan Allah ﷻ. Ayat-ayat ini membongkar tabir kelalaian, menguliti argumen-argumen kebatilan, dan menyeru manusia untuk segera kembali kepada peringatan dari Tuhan mereka sebelum terlambat. Ia adalah panggilan untuk mengganti sikap bermain-main dengan keseriusan, mengganti hati yang lalai dengan hati yang sadar, dan mengganti penolakan dengan ketundukan kepada kebenaran wahyu.
Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari sifat lalai dan berpaling, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendengarkan firman-Nya dengan saksama dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya.
اللهم فقهنا في الدين وعلمنا التأويل، واجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه
Allahumma faqqihnā fid-dīn wa 'allimnā at-ta'wīl, waj'alnā minalladzīna yastami'ūnal-qaula fayattabi'ūna ahsanah.
(Ya Allah, berikanlah kami pemahaman yang mendalam dalam agama, ajarkanlah kami takwil (pemahaman yang benar), dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik darinya.)
والله أعلم بالصواب
Wallahu a'lam bish-shawab (Dan Allah lebih mengetahui apa yang benar).