1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Az-Zukhruf merupakan surah ke-43 dalam mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 89 ayat, dan seluruhnya termasuk golongan surah Makkiyah. Mayoritas ulama tafsir, seperti Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan, Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, dan Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, sepakat bahwa surah ini diturunkan di Mekah, sebelum hijrah ke Madinah. Dalil yang mendukung status Makkiyah antara lain adalah gaya bahasa yang keras terhadap kaum musyrik, penekanan pada tauhid dan pembelaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ yang didustakan, serta tidak ditemukannya ayat-ayat tentang hukum-hukum syariat yang turun setelah hijrah. Ibnu Hisham dalam As-Sirah an-Nabawiyyah juga memberikan konteks bahwa surah ini turun pada periode ketika dakwah Rasulullah ﷺ menghadapi tantangan berat dari Quraisy, khususnya setelah tahun-tahun awal kenabian.
Urutan turun surah ini tidak disebutkan secara pasti dalam riwayat tertentu, namun berdasarkan tradisi yang dinukil dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul, surah Az-Zukhruf diperkirakan turun setelah surah Asy-Syura dan sebelum surah Ad-Dukhan. Dalam kronologi nuzul yang disusun oleh para ulama, surah ini termasuk dalam kelompok surah Makkiyah pertengahan hingga akhir, dimana dakwah di Mekah telah berlangsung sekitar 8-10 tahun, dan tekanan terhadap kaum Muslimin semakin meningkat.
Periode dakwah saat itu adalah fase kedua atau ketiga dakwah di Mekah, dimana Rasulullah ﷺ mulai menyebarkan Islam secara terbuka setelah sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kaum Quraisy merespon dengan ejekan, hinaan, dan tekanan fisik maupun psikologis terhadap para sahabat. Surah Az-Zukhruf hadir untuk menguatkan hati Nabi ﷺ dan kaum Muslimin, serta memberikan peringatan keras kepada kaum musyrik. Ayat-ayat pertama surah ini khususnya menegaskan posisi Al-Qur'an sebagai wahyu yang mulia dan sebagai bukti nyata dari risalah Muhammad ﷺ.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Untuk ayat 1-4 secara spesifik, para ulama seperti Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul dan Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul tidak menyebutkan satu riwayat khusus yang menjadi sebab turunnya. Ayat-ayat ini lebih bersifat pengantar umum yang menegaskan kemuliaan Al-Qur'an dan asal-usulnya dari Lauh Mahfuzh. Namun demikian, terdapat riwayat yang berkaitan dengan ayat 5, yaitu firman Allah Ta'ala:
"اَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ الذِّكْرَ صَفْحًا اَنْ كُنْتُمْ قَوْمًا مُّسْرِفِيْنَ"
"Apakah Kami akan menahan (turunnya) Al-Qur’an dan mengabaikanmu (hanya) karena kamu kaum yang melampaui batas?"
Imam Al-Wahidi meriwayatkan dalam Asbab an-Nuzul-nya: "Dari Qatadah rahimahullah, ia berkata: 'Orang-orang musyrik Quraisy berkata kepada Rasulullah ﷺ: Jika engkau ingin kami mengikuti agamamu, maka tangguhkanlah (jangan cela) tuhan-tuhan kami.' Maka Allah menurunkan ayat: 'Afanadribu...' sebagai celaan kepada mereka, bahwa Allah tidak akan menghentikan wahyu karena keengganan mereka.'" (Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan dengan sanad yang hasan).
Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul menambahkan riwayat lain dari Ibnu Abi Hatim: "Dari Qatadah, ia berkata: 'Tatkala Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an kepada kaum musyrik, mereka menutup telinga dan berpaling. Maka Allah menurunkan ayat ini, sebagai teguran bahwa Dia tidak akan menarik Al-Qur'an karena keingkaran mereka.'"
Adapun ayat 6-8, para mufassir seperti Imam Ibn Kathir dan Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menafsirkannya sebagai penghibur bagi Nabi ﷺ: bahwa banyak nabi sebelumnya juga didustakan, namun Allah membinasakan orang-orang yang mendustakan mereka. Konteks ini tidak memiliki riwayat khusus sebagai asbab an-nuzul, namun merupakan bagian dari sirah yang umum.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Selain riwayat dari Qatadah, terdapat pula riwayat dari Mujahid bin Jabr, sebagaimana dinukil oleh Imam At-Tabari, bahwa ayat 5 turun berkenaan dengan peristiwa ketika kaum Quraisy secara terang-terangan menolak ajakan Nabi ﷺ untuk beriman, dan mereka menganggap diri mereka lebih berhak mendapat azab daripada mendapat petunjuk. Mujahid berkata: "Allah berfirman: 'Apakah Kami akan memalingkan peringatan ini dari kalian karena kalian adalah kaum yang melampaui batas?' Maksudnya, tidak."
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengomentari riwayat Qatadah dengan mengatakan bahwa meskipun sanadnya tidak mencapai derajat shahih tertinggi, namun maknanya didukung oleh konteks umum surah dan ayat-ayat lain yang menunjukkan keengganan kaum musyrik. Beliau juga menambahkan pendapat bahwa ayat ini turun untuk menegaskan bahwa Al-Qur'an tetap diturunkan walau banyak yang menolaknya, sebagai rahmat bagi yang mau beriman.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Imam Ibn Kathir, As-Suyuti, dan Al-Wahidi tidak menyebutkan riwayat sebab khusus untuk ayat 1-4 surah ini. Yang ada adalah konteks umum bahwa surah Az-Zukhruf dimulai dengan huruf muqatta'ah (Ḥā Mīm) sebagai bentuk mukjizat Al-Qur'an dan untuk menarik perhatian pendengar. Ayat-ayat ini menegaskan kemuliaan dan kejelasan Al-Qur'an yang diturunkan dalam bahasa Arab, agar manusia memikirkannya. Tidak ada peristiwa spesifik yang langsung terkait, namun keseluruhan surah merupakan respons terhadap sikap kaum musyrik yang menolak dan memperolok-olok wahyu.
3. Konteks Historis & Sosial
Surah Az-Zukhruf turun di tengah situasi Mekah yang sangat menekan. Kaum Quraisy, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, dan lain-lain, terus melakukan berbagai macam upaya untuk menghalangi dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka mengejek, menyiksa, dan memboikot kaum Muslimin. Pada saat itu, Nabi ﷺ baru saja mengalami masa-masa sulit pasca meninggalnya istri tercinta, Khadijah radhiyallahu 'anha, dan paman pelindungnya, Abu Thalib (tahun 619 M). Tekanan dari kaum musyrik semakin menjadi-jadi.
Surah ini hadir untuk meneguhkan hati Nabi ﷺ dengan mengingatkannya bahwa banyak nabi sebelumnya juga menghadapi ejekan dan penolakan, namun Allah tetap membinasakan para penentang itu. Itulah yang disinggung dalam ayat 6-8. Secara sosial, kaum Quraisy sangat bangga dengan bahasa Arab dan puisi mereka. Maka Allah menantang mereka dengan Al-Qur'an yang berbahasa Arab, agar mereka merenungkan kandungannya yang begitu luhur dan berbeda dari ucapan manusia biasa. Ini merupakan jawaban atas tuduhan mereka bahwa Muhammad ﷺ hanyalah seorang penyair atau tukang sihir.
Kondisi ekonomi di Mekah saat itu relatif stabil, namun terjadi kesenjangan antara bangsawan kaya Quraisy dan kaum lemah. Dakwah Islam sering kali menarik golongan budak, miskin, dan pemuda, yang membuat kalangan elite Quraisy merasa terancam status quo mereka. Oleh karena itu, mereka semakin gencar memusuhi Nabi ﷺ.
4. Tema Sentral Surah
Secara keseluruhan, surah Az-Zukhruf memiliki tema utama yaitu penegasan tauhid dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, serta peringatan terhadap kaum musyrik yang menolak dan memperolok-olok ayat-ayat Allah. Ayat 1-8 menjadi pembuka yang kuat: pertama, sumpah demi Kitab yang jelas (Al-Qur'an) yang mulia, di posisikan sebagai petunjuk yang bersumber dari Lauh Mahfuzh; kedua, penghiburan kepada Nabi ﷺ bahwa penolakan mereka bukanlah hal baru, tetapi sudah menjadi sunnatullah dalam menghadapi para nabi sebelumnya; ketiga, ancaman kehancuran bagi mereka yang durhaka.
Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat 1-4 adalah dalil atas keagungan Al-Qur'an dan bukti bahwa ia adalah benar-benar wahyu dari Allah. Imam At-Tabari menekankan bahwa penyebutan 'Ummul Kitab' pada ayat 4 menandakan bahwa Al-Qur'an memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, serta penuh dengan hikmah.
Adapun munasabah surah ini dengan surah sebelumnya (Asy-Syura) adalah kelanjutan dari tema wahyu dan perdebatan antara Nabi dan kaum musyrik. Dalam Asy-Syura, Allah berbicara tentang bagaimana Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki, sedangkan dalam Az-Zukhruf, Dia memperingatkan bahwa jika mereka berpaling, Allah tidak akan menghilangkan peringatan-Nya.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Tidak ada hadits shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan membaca surah Az-Zukhruf. Namun, beberapa riwayat menyebutkan bahwa surah-surah yang diawali dengan Ḥā Mīm secara umum memiliki keistimewaan. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi (no. 2891) dan Imam Ahmad (no. 22194) dengan sanad yang hasan, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Alif Lām Mīm, Al-Qur'an itu adalah perbendaharaan di bawah 'Arsy, dan Ḥā Mīm adalah taman-taman surga. Maka barang siapa yang membacanya pada malam Jumat, dia akan diampuni." Namun hadits ini dianggap dha'if oleh sebagian ulama karena terdapat perawi yang dha'if. Oleh karena itu, sebaiknya tidak menjadikannya sebagai landasan utama. Adapun keutamaan umum membaca Al-Qur'an sudah cukup, seperti sabda Nabi ﷺ: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang sebagai syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat." (HR. Muslim no. 804).
Tidak ada riwayat khusus tentang bagaimana Nabi ﷺ membaca surah ini dalam shalat, namun beliau diketahui sering membaca surah-surah Makkiyah dalam shalat malam.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menafsirkan ayat 5 sebagai berikut: "Allah berfirman kepada Muhammad: Kami tidak akan menghentikan Al-Qur'an dari kalian hanya karena kalian kaum yang melampaui batas dalam kekufuran." (Riwayat At-Tabari). Mujahid bin Jabr mengatakan: "Ayat ini bermaksud: Kami tidak akan memalingkan Al-Qur'an dari kalian karena kalian adalah kaum yang melampaui batas." (At-Tabari). Qatadah rahimahullah berkata: "Sekiranya Al-Qur'an itu diangkat atau ditiadakan ketika ia ditolak oleh orang-orang pertama dari umat terdahulu, maka pasti mereka binasa, tetapi Allah selalu memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya dengan menurunkan Al-Qur'an terus menerus." (At-Tabari, Ibn Kathir).
Imam Al-Baghawi menambahkan bahwa ayat 4 menunjukkan kemuliaan Al-Qur'an, karena ia berada di Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) yang berarti sumber segala kitab. Imam Al-Qurthubi mengutip Al-Mawardi bahwa 'Ummul Kitab' adalah Al-Qur'an itu sendiri di Lauh Mahfuzh, dan 'aliyyan' artinya tinggi derajatnya, 'hakiman' artinya penuh hikmah. As-Sa'di menjelaskan bahwa penyebutan 'Arabiyyan' pada ayat 3 adalah bentuk keistimewaan dan kemurahan, karena mereka dapat memahami langsung tanpa perantara. Seandainya dalam bahasa asing, mereka akan sulit dan punya alasan.
Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya untuk ayat 1-8 menyimpulkan bahwa semua ini adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang menolak Al-Qur'an dan mendustakan Nabi ﷺ. Allah menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang jelas, mudah dipahami, dan diturunkan dengan penuh rahmat.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Al-Qur'an adalah pedoman yang jelas dan mudah dipahami. Dalam ayat 2-3, Allah bersumpah dengan Al-Qur'an yang jelas (al-mubin) dan menjadikannya dalam bahasa Arab agar mudah dimengerti. Ini mengajarkan kita untuk berusaha memahami Al-Qur'an secara langsung dengan mempelajari tafsirnya, bukan hanya membacanya tanpa merenung. Kesempatan belajar bahasa Arab atau mengenal isi Al-Qur'an adalah nikmat yang harus disyukuri.
Kegigihan dalam dakwah dan kesabaran menghadapi penolakan. Ayat 5 menunjukkan bahwa Allah tidak menghentikan wahyu meskipun kaum musyrik melampaui batas. Ini menjadi teladan bagi para dai untuk tidak putus asa ketika menghadapi penolakan. Dakwah tetap harus dilanjutkan dengan penuh kesabaran, karena Allah tidak akan menahan nikmat-Nya karena keingkaran manusia.
Sejarah adalah pelajaran. Ayat 6-8 mengingatkan bahwa para nabi sebelumnya juga didustakan, namun akhirnya orang-orang yang mendustakan dibinasakan. Ini mengajarkan bahwa kebenaran akan menang, dan pelaku kezaliman akan mendapat balasan. Sebagai Muslim, kita harus mengambil ibrah dari sejarah dan tetap tegar di jalan Allah.
Tidak boleh menolak kebenaran karena sombong. Sifat israf (melampaui batas) dalam ayat 5 adalah karakter orang-orang yang menolak petunjuk karena kesombongan. Pelajaran bagi kita adalah selalu rendah hati dan menerima kebenaran darimana pun datangnya, serta tidak menganggap remeh peringatan.
Penghibur bagi yang terluka. Ayat-ayat ini turun ketika Nabi ﷺ sangat bersedih dengan penolakan kaumnya. Ini mengajarkan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersabar. Setiap kesedihan dalam dakwah atau kehidupan akan dihadapi dengan ketegaran jika merenungkan firman-Nya.
8. Penutup & Doa
Demikianlah penjelasan ringkas namun mendalam tentang asbab an-nuzul surah Az-Zukhruf ayat 1-8 dari perspektif akademis berdasarkan sumber-sumber klasik Ahlus Sunnah. Kandungan surah ini sangat kayak akan makna: penegasan kemuliaan Al-Qur'an, peringatan bagi orang-orang yang melampaui batas, dan penghiburan bagi Rasulullah ﷺ. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa merenungkan dan mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami pemahaman terhadap Kitab-Mu, kemudahan dalam mengamalkannya, serta jadikanlah ia sebagai cahaya dan petunjuk bagi kami. Allahumma faqqihna fi ad-din wa 'allimna at-ta'wil. Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah waqina 'adhab an-nar.
والله أعلم بالصواب