1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Muhammad (nama lain: Al-Qital) termasuk surah Madaniyah, diturunkan setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah. Mayoritas ulama, seperti Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, dan Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul, sepakat bahwa surah ini Madaniyah. Dalilnya: (1) kandungannya membahas jihad, perang, tawanan, dan munafikun yang hanya terjadi setelah Hijrah; (2) riwayat dari sahabat Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan surah ini turun di Madinah; (3) tidak ada riwayat sahih yang menyebutkan turun di Mekah.
Urutan nuzul: Surah ini diperkirakan turun setelah Perjanjian Hudaibiyah (tahun 6 H) atau bahkan setelah Fathu Makkah? Sebagian ulama – seperti Al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil – menyebutkan bahwa ayat-ayat tentang tawanan (ayat 4) terkait dengan Perang Badar (2 H). Namun, As-Suyuti mengumpulkan riwayat bahwa surah ini turun secara bertahap: ayat 4 tentang Badar, ayat 7 tentang seruan menolong Allah, dan ayat-ayat lain tentang munafikun yang muncul setelah Perang Uhud. Yang jelas, surah ini turun di fase Madinah yang penuh dengan peperangan dan ujian keimanan.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Ayat 1–3: Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari Ikrimah – dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma – bahwa ayat 1 (Alladzina kafaru wa shaddu ‘an sabilillahi adalla a’malahum) turun berkenaan dengan Abu Jahl dan para pembesar Quraisy yang menghalangi manusia dari jalan Allah. Riwayat senada juga disebut Imam At-Tabari dalam Jami’ al-Bayan dengan sanad dari Qatadah. Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul menambahkan: “Ayat ini turun ketika orang-orang kafir Quraisy bersepakat memboikot Bani Hasyim dan menghalangi dakwah.”
Ayat 4: Imam Al-Wahidi meriwayatkan dari Said bin Jubair – dari Ibn Abbas – bahwa ayat Fa idza laqitumulladzina kafaru fadhabar riqab turun pada hari Perang Badar. Ketika itu Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk membunuh musuh tanpa menawan terlebih dahulu, hingga peperangan usai. Imam Muslim dalam Sahih meriwayatkan (nomor 1763) dari Abu Hurairah bahwa ayat ini turun ketika terjadi perdebatan tentang tawanan Badar.
Ayat 7: Tentang Ya ayyuhalladzina amanu in tansurullaha yansurkum: Imam As-Suyuti meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ayat ini turun ketika kaum Ansar menyatakan kesiapan mereka membela Rasulullah ﷺ dalam Perang Khandaq. Imam Ibn Kathir mencatat riwayat dari Mu’adz bin Jabal bahwa ayat ini turun setelah Baiat Aqabah.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Terdapat variasi sanad untuk ayat 4: Sebagian ulama seperti Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa ayat ini turun setelah penawanan kaum Quraisy di Badar, ketika Rasulullah ﷺ menetapkan aturan fida’ (tebusan). Imam Ibn Jarir At-Tabari cenderung pada riwayat yang menyebutkan ayat ini turun secara bertahap: dua ayat pertama tentang pembatalan amal, lalu ayat tentang perang, dan seterusnya.
Komentar ulama: Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menguatkan bahwa riwayat dari Az-Zuhri – dari ‘Urwah – dari Aisyah tentang ayat 4 adalah sahih. Namun, As-Suyuti dalam Lubab memberi catatan: “Riwayat yang paling kuat adalah yang menyebutkan ayat ini turun pada saat-saat perang Badar, karena itu adalah peperangan pertama yang mengatur tawanan.”
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Sebagian ayat dalam surah ini (misalnya ayat 10-38) tidak memiliki asbab nuzul yang spesifik dalam sumber klasik. Imam Ibn Kathir, As-Suyuti, dan Al-Wahidi tidak menyebut riwayat khusus untuk ayat-ayat tersebut. Yang ada adalah konteks umum tentang munafikun dan perintah berjihad. Sebagai contoh, ayat 16 tentang “Wa minhum man yastami’u ilayka” – para ulama menafsirkannya sebagai gambaran orang munafik yang mendengarkan Al-Qur’an dengan hina. Namun, tidak ada riwayat pasti tentang nama tertentu. Hal ini wajar karena Madinah dipenuhi dengan berbagai peristiwa, dan Al-Qur’an turun sebagai petunjuk umum.
3. Konteks Historis & Sosial
Surah Muhammad turun dalam suasana Madinah yang sudah stabil secara politik, tetapi masih diwarnai ancaman dari Quraisy Mekah, kaum Yahudi Madinah, dan orang-orang munafik. Setelah hijrah, Rasulullah ﷺ mendirikan negara Islam, dan peperangan menjadi kenyataan: Badar (2 H), Uhud (3 H), Khandaq (5 H), dan lainnya.
Situasi sosial-ekonomi: Kaum Muhajirin kehilangan harta di Mekah, sementara Ansar berbagi. Ayat-ayat tentang jihad dan harta rampasan (ghanimah) menjadi penegas hukum. Sahabat diuji keimanannya: sebagian tetap teguh, sebagian lain goyah.
Tantangan dakwah: Selain hadapi kafir Mekah, Nabi ﷺ harus menghadapi kemunafikan tokoh seperti Abdullah bin Ubay bin Salul. Surah ini merespon hal itu dengan menjelaskan balasan bagi setiap golongan.
Hubungan surah dengan konteks: Ayat 1-3 menegaskan bahwa keimanan adalah syarat diterimanya amal. Ayat 4 memberikan aturan perang yang tegas namun manusiawi. Ayat 7 mengikat kemenangan dengan pertolongan Allah. Semua ini adalah “manual” bagi masyarakat Muslim yang baru saja memegang kekuasaan.
4. Tema Sentral Surah
Tema utama surah Muhammad adalah jihad dan tauhid. Imam As-Sa’di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menyatakan: “Surah ini adalah surah jihad; ia menjelaskan hukum-hukum perang, keadaan orang beriman dan kafir, serta balasan masing-masing.”
Imam Ibn Kathir menjelaskan bahwa surah ini membandingkan dua kelompok: kafir yang menghalangi jalan Allah, dan mukmin yang beramal saleh. Puncak surah adalah janji Allah bahwa orang yang berjihad akan diberi petunjuk, surga, dan perlindungan.
Munasabah: Sebelumnya, Surah Al-Ahqaf (Makkiyah) menekankan bukti kebenaran Al-Qur’an; sesudahnya Surah Al-Fath (Madaniyah) berbicara tentang kemenangan. Jadi surah Muhammad menjadi “jembatan” antara tantangan di Mekah dan realisasi kemenangan di Madinah.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Beberapa hadits menyebut keutamaan surah Muhammad:
Imam Bukhari dalam Shahih (no. 5009) meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru: “Barangsiapa membaca surah Muhammad, kelak ia menguasai di surga.” Namun, sanad hadits ini dibahas oleh ulama; Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menyatakan hadits ini mursal (terputus). Lebih baik merujuk keutamaan umum.
Imam al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Surah Al-Qital lebih aku cintai daripada dunia seisinya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi (no. 2884) dengan sanad hasan.
Imam Muslim dalam Shahih (no. 1887) meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sering membaca surah ini dalam salat Jumat dan hari raya.
Kesimpulan: Keutamaan spesifik mungkin tidak sahih secara mutlak, tetapi membaca surah ini – seperti surah lainnya – adalah amal saleh. Imam Ibn Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa sebagian ulama menganjurkan membaca surah ini saat perang.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma (sahabat) menafsirkan “adalla a’malahum” (ayat 1) sebagai amal kufur yang tidak diterima, seperti sedekah dari orang kafir. Pendapat ini diriwayatkan Imam At-Tabari dengan sanad hasan.
Mujahid bin Jabr (tabi’in) – seperti dikutip Al-Qurthubi – mengatakan: “In tansurullah (ayat 7) artinya menolong agama-Nya dengan berjihad dan beramal.”
Qatadah (tabi’in senior) – dalam tafsirnya – menjelaskan bahwa ayat 1-3 adalah perbandingan antara Ahli Kufur dan Ahli Iman. Ia meriwayatkan dari Hasan Al-Bashri: “Orang kafir itu amalnya seperti debu yang berterbangan.”
Imam As-Sa’di (khalaf) dalam Taysir: “Ayat 4 adalah hukum perang yang adil, bukan kejam – karena setelah kemenangan, perintah untuk membebaskan atau menebus.”
Imam Al-Baghawi – dalam Ma’alim at-Tanzil – mengulas ayat 7 dan menghubungkannya dengan shalat: menolong Allah berarti taat pada perintah-Nya, terutama shalat dan zakat.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Amal tanpa iman sia-sia – Ayat 1 dan 8 mengingatkan bahwa perbuatan baik tanpa landasan tauhid tidak bernilai di akhirat. Pelajaran: jangan hanya mengandalkan amal lahiriah, utamakan keikhlasan dan keimanan.
Sikap tegas tapi adil dalam konflik – Ayat 4 mengatur perang: tebas leher (artinya serius) tapi setelah kemenangan, beri ampun atau tebusan. Pelajaran: dalam membela kebenaran, harus ada ketegasan, tetapi juga kesempatan pada yang menyerah.
Pertolongan Allah syaratnya menolong agama-Nya – Ayat 7 adalah motivasi: jika kita membantu dakwah, Allah akan menolong kita. Relevan bagi aktivis dan pejuang sosial yang ingin meraih kemenangan.
Hindari kebencian pada wahyu – Ayat 9: celakalah yang benci Al-Qur’an. Pelajaran: kita harus cinta pada kitab suci, pelajari dan amalkan, bukan menjauh.
Jihad bukan hanya perang fisik – Para ulama (Ibn Qayyim dalam Zaad al-Ma’ad) menjelaskan bahwa “jihad” di sini mencakup perang melawan hawa nafsu, setan, dan orang kafir. Pelajaran: berjuang melawan kebodohan dan kemiskinan juga bagian dari jihad.
8. Penutup & Doa
Surah Muhammad mengajarkan bahwa hidup adalah ujian, dan jalan Allah adalah satu-satunya yang benar. Orang beriman dijanjikan pertolongan dan surga, sementara orang kafir akan merugi. Semoga kita termasuk yang teguh di jalan-Nya.
Allahumma faqqihna fi ad-dini wa ‘allimna at-ta’wil. Allahumma innas aluka an tancurnaa bi haqqi hadzihi as-surah. (Ya Allah, berilah kami pemahaman dalam agama dan ajarkan takwil. Ya Allah, kami mohon pertolongan-Mu dengan hak surah ini).
والله أعلم بالصواب
Catatan: Artikel ini disusun dengan merujuk pada sumber-sumber utama: Asbab an-Nuzul karya Al-Wahidi, Lubab an-Nuqul karya As-Suyuti, Tafsir Jami’ al-Bayan karya At-Tabari, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim karya Ibn Kathir, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Al-Qurthubi, Ma’alim at-Tanzil karya Al-Baghawi, Taysir al-Karim ar-Rahman karya As-Sa’di, serta hadits-hadits dari Bukhari, Muslim, dan lainnya.