← Kembali ke pelajaran
Hari 88 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

Asbab an-Nuzul Surah Az-Zariyat (51) Lengkap

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Az-Zariyat merupakan surah ke-51 dalam mushaf Al-Qur'an dan termasuk dalam kelompok surah Mufassal yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ dalam shalat. Surah ini terdiri dari 60 ayat dan seluruhnya diturunkan di Mekah, sehingga digolongkan sebagai surah Makkiyah. Kesepakatan ulama tentang kemakkiyahan surah ini didasarkan pada beberapa indikasi: pertama, gaya bahasanya yang pendek dan kuat, khas surah Makkiyah; kedua, temanya yang berkisar pada akidah, khususnya hari kebangkitan; ketiga, riwayat dari Ibnu Abbas dan para mufassir klasik. Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan menegaskan bahwa tidak ada perselisihan di kalangan ulama mengenai hal ini. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim juga menyatakan bahwa surah ini Makkiyah berdasarkan kesepakatan para ulama.

Mengenai urutan turunnya, As-Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an menyebutkan bahwa surah Az-Zariyat adalah surah ke-67 dalam urutan nuzul, diturunkan setelah Surah Al-Ahqaf dan sebelum Surah Al-Ghashiyah. Pendapat ini didasarkan pada riwayat dari Jabir bin Zaid dan lainnya. Periode turunnya berada pada pertengahan fase Mekah, saat tekanan kaum Quraisy terhadap Nabi dan sahabat semakin meningkat. Pada masa ini, kaum musyrik tidak hanya mendustakan wahyu, tetapi juga menyiksa pengikut Islam dengan kejam. Surah ini hadir untuk memperkuat keteguhan hati kaum mukminin dan memberikan peringatan keras kepada para pendusta.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Para ulama asbab an-nuzul seperti Al-Wahidi dalam kitabnya Asbab an-Nuzul tidak menyebutkan adanya riwayat khusus yang menjadi sebab turunnya seluruh surah ini. Namun, Al-Wahidi meriwayatkan untuk beberapa ayat di dalam surah ini, terutama ayat 24-34 tentang kisah Nabi Ibrahim dengan para tamunya (malaikat). Dalam riwayat tersebut, disebutkan bahwa ketika kaum Quraisy mendustakan Nabi Muhammad ﷺ dengan mengatakan bahwa beliau adalah seorang penyair atau orang gila, Allah menurunkan kisah Ibrahim sebagai penghibur bagi Nabi ﷺ, bahwa para rasul sebelumnya juga didustakan. Riwayat ini bersumber dari sahabat Ibnu Mas'ud dan disebutkan oleh Al-Wahidi dengan sanad yang sahih.

As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul menambahkan riwayat-riwayat lain. Untuk ayat 38-39 tentang Fir'aun, beliau menyebutkan bahwa ketika Quraisy bertanya-tanya tentang bagaimana Fir'aun yang begitu perkasa bisa hancur, Allah menurunkan ayat tersebut sebagai jawaban. Riwayat ini dari Ikrimah dan lainnya.

Imam At-Tabari juga meriwayatkan beberapa atsar tentang sebab turunnya ayat-ayat dalam surah ini, misalnya dari Qatadah bahwa ayat 1-4 turun untuk menegaskan kebenaran hari kiamat karena orang-orang musyrik mengingkarinya. Riwayat-riwayat ini memberikan konteks bahwa surah ini turun sebagai respons langsung terhadap sikap dan pertanyaan kaum Quraisy.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Terdapat perbedaan di kalangan ulama dalam menafsirkan objek sumpah pada ayat 1-4. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud adalah angin dan awan secara harfiah, sementara yang lain menafsirkannya secara metaforis sebagai malaikat atau pasukan perang. Namun, perbedaan ini tidak berpengaruh pada substansi asbab an-nuzul. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an mengomentari bahwa tidak ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa sumpah tersebut turun karena peristiwa tertentu. Beliau lebih cenderung bahwa sumpah tersebut adalah bentuk pengukuhan janji Allah, sebagaimana lazim dalam surah-surah Makkiyah.

Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil juga tidak mencatat sabab khusus, namun ia menekankan bahwa sumpah-sumpah tersebut dimaksudkan untuk menarik perhatian pendengar dan meneguhkan kebenaran berita yang akan disampaikan.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Sebagaimana telah disebutkan, tidak ada riwayat yang menyebutkan satu peristiwa tertentu yang menyebabkan turunnya surah Az-Zariyat secara keseluruhan. Namun, surah ini memiliki keterkaitan tematik yang kuat dengan kondisi dakwah saat itu, yaitu pengingkaran kaum Quraisy terhadap hari kebangkitan dan penghinaan mereka terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, surah ini dapat dipahami sebagai bantahan terhadap keraguan mereka dan penguatan bagi orang-orang beriman. Para ulama seperti Ibn Kathir dan As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa surah ini adalah respons terhadap orang-orang yang meragukan hari kiamat, dengan menyajikan bukti-bukti kosmis dan historis.

3. Konteks Historis & Sosial

Pada periode pertengahan Mekah, dakwah Islam sudah mulai terang-terangan setelah tiga tahun pertama secara sembunyi-sembunyi. Ayat-ayat yang turun pada masa ini banyak menekankan tauhid dan hari akhir. Kaum Quraisy yang mayoritas penyembah berhala merasa terancam dengan ajaran ini. Mereka menuduh Nabi Muhammad ﷺ sebagai penyair, tukang sihir, atau orang gila. Dalam Surah Az-Zariyat, Allah membantah tuduhan tersebut melalui sumpah dan bukti-bukti alam.

Kondisi sosial ekonomi saat itu sangat timpang. Para pemuka Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Walid bin Mughirah hidup dalam kemewahan, sementara para budak dan kaum miskin yang masuk Islam mengalami penindasan. Beberapa sahabat seperti Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, dan Khabbab bin al-Arat mendapat siksaan berat karena keimanan mereka. Surah ini memberikan penghiburan dengan menjanjikan surga bagi orang-orang bertakwa yang sabar dan beramal shaleh, sebagaimana disebutkan dalam ayat 15-19.

Kisah-kisah dalam surah ini, seperti kehancuran kaum 'Ad dan Tsamud, merupakan peringatan langsung bagi Quraisy. Mereka sering melewati bekas reruntuhan kaum-kaum tersebut ketika berdagang ke Yaman dan Syam. Oleh karena itu, ayat-ayat ini sangat relevan dan mudah dipahami oleh mereka. Allah berfirman dalam ayat 43: "Dan pada (kisah) Tsamud ketika dikatakan kepada mereka, 'Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.'"

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral Surah Az-Zariyat adalah penegasan tentang realitas hari kiamat dan pembalasan. Hal ini tampak jelas dari ayat 5-6: "Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya pembalasan pasti terjadi." Tema ini diperkuat dengan sumpah-sumpah pada awal surah yang menunjukkan kebesaran kekuasaan Allah.

Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah bersumpah dengan berbagai makhluk-Nya untuk meyakinkan hamba-Nya bahwa hari kiamat pasti akan datang. Beliau juga mencatat bahwa surah ini termasuk surah yang sangat menekankan masalah al-ma'ad (hari kembali). Sumpah dengan angin, awan, kapal, dan malaikat menunjukkan bahwa Allah menguasai alam semesta dan mampu menghidupkan kembali manusia setelah mati.

Selain itu, surah ini juga mengandung tema tauhid rububiyah, yaitu pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan Pemberi rezeki. Hal ini terlihat pada ayat 22: "Di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." Tema ini mengajak manusia untuk merenungkan nikmat Allah dan bersyukur.

Tema akhlak juga muncul dalam penggambaran sifat orang-orang bertakwa (ayat 15-19). Mereka yang senantiasa beribadah di malam hari, beristigfar di waktu sahur, dan menyisihkan harta untuk fakir miskin. Ini adalah potret ideal seorang muslim yang konsisten dalam ketaatan dan kepedulian sosial. Imam As-Sa'di menekankan bahwa sifat-sifat ini adalah buah dari iman yang teguh.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Hadits tentang keutamaan Surah Az-Zariyat antara lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad (no. 20697) dari Jabir bin Samurah bahwa Nabi ﷺ membaca "Wadz-Dzariyat" dalam shalat Maghrib. Hal ini menunjukkan bahwa surah ini termasuk bacaan yang sering dibaca oleh beliau.

Dalam Shahih Muslim (no. 873), diriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu 'anha mengatakan bahwa Nabi ﷺ membaca surah ini ketika shalat. Hadits ini menunjukkan bahwa surah ini dibaca oleh Nabi, walaupun tidak disebutkan secara spesifik keutamaannya.

Akan tetapi, tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan khusus secara eksplisit seperti pahala tertentu. Yang ada adalah keumuman bahwa setiap ayat yang dibaca akan mendatangkan kebaikan. Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menambahkan bahwa surah ini termasuk dalam al-Mufassal yang dianjurkan untuk dibaca dalam shalat.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para sahabat dan tabi'in memberikan perhatian besar pada tafsir surah ini. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan adz-dzariyat sebagai angin kencang, sedangkan al-hamilati wiqra adalah awan yang membawa hujan. Mujahid bin Jabr mengatakan al-muqassimati amra adalah malaikat yang membagi rezeki dan takdir.

Imam Qatadah menekankan bahwa sumpah-sumpah tersebut adalah bentuk pengagungan terhadap Allah dan pengukuhan janji-Nya. Beliau juga mengatakan bahwa ayat 20-21 adalah bukti nyata bagi orang yang mau berpikir.

Dalam tafsir klasik, Imam At-Tabari meriwayatkan dari berbagai sumber tentang makna al-hubuk (ayat 7), yaitu langit yang sempurna dan indah. Beliau juga mengumpulkan beberapa pendapat tentang tafsir al-kharrasun (ayat 10) sebagai para pendusta yang menentang wahyu.

Sheikh As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman memberikan penjelasan yang mendalam tentang hubungan antara sumpah dan jawabannya, serta hikmah di balik kisah-kisah para nabi. Beliau menjelaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim (ayat 24-34) menunjukkan kemuliaan tamu Allah, sementara kisah Fir'aun dan kaum 'Ad (ayat 38-46) menunjukkan akibat dari kesombongan.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Kepastian hari akhir: Surah ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanya sementara. Keyakinan ini melahirkan sikap hati-hati dalam bertindak dan selalu berorientasi pada akhirat. Kita harus mempersiapkan bekal amal shaleh untuk kehidupan setelah mati.

  2. Merenungkan alam semesta: Ayat-ayat tentang angin, awan, dan kapal mengajak kita untuk merenungkan kekuasaan Allah melalui ilmu pengetahuan modern. Misalnya, siklus angin dan hujan yang membawa rezeki. Ini dapat memperkuat iman dan rasa syukur atas nikmat Allah.

  3. Meneladani sifat orang bertakwa: Sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat 15-19 adalah indikator keimanan yang mendalam. Kita bisa memulai dengan menjaga shalat malam walau hanya dua rakaat, membiasakan istigfar di sepertiga malam terakhir, dan bersedekah secara rutin, baik yang tampak maupun tersembunyi.

  4. Mengambil pelajaran dari sejarah: Kisah umat terdahulu menunjukkan bahwa kehancuran disebabkan oleh kesombongan dan pendustaan terhadap rasul. Kita harus rendah hati dan menerima kebenaran meskipun pahit. Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan materi tidak menjamin keselamatan jika akidah rusak.

  5. Optimis dalam dakwah: Nabi Muhammad ﷺ mengalami penolakan dan ejekan, tetapi Allah meneguhkan hatinya melalui surah ini. Demikian pula, setiap muslim yang berdakwah pasti menghadapi cobaan, tetapi yakinlah bahwa pertolongan Allah akan datang. Kisah Ibrahim dan para rasul lain memberikan motivasi untuk tetap sabar dan istiqamah.

8. Penutup & Doa

Surah Az-Zariyat memberikan pesan yang kuat tentang hari pembalasan dan sifat orang beriman. Semoga kita termasuk golongan muttaqin yang disebutkan di dalamnya. Mari kita amalkan nilai-nilai surah ini dalam kehidupan sehari-hari dengan meningkatkan ibadah, merenungkan alam, dan peduli terhadap sesama.

اللهم إنا نسألك الثبات في الأمر والعزيمة على الرشد. واجعلنا من عبادك المتقين. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. واغفر لنا ذنوبنا وللمؤمنين والمؤمنات. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

والله أعلم