وَالذّٰرِيٰتِ ذَرْوًاۙ
Waż-żāriyāti żarwā(n).
Demi (angin) yang menerbangkan debu,
Sumpah demi angin sebagai tanda kekuasaan Allah; tujuan penciptaan manusia: ibadah.
Surah Az-Zariyat memusatkan perhatian pada pembuktian hari kebangkitan dan perhitungan amal perbuatan, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta serta kisah-kisah kaum terdahulu yang mendustakan. Surah ini menyerukan kepada tauhid dan ketaatan, memperingatkan akan azab bagi para pendusta dan menjanjikan ganjaran bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Surah ini menegaskan kepastian hari kiamat dan rezeki dari Allah untuk memantapkan tauhid manusia.
Surah Az-Zariyat berpusat pada penegasan tentang hari kebangkitan, balasan amal, dan kekuasaan Allah di alam semesta. Allah bersumpah dengan berbagai makhluk-Nya, seperti angin dan malaikat, untuk meyakinkan manusia bahwa janji-Nya pasti terjadi. Hal ini bertujuan untuk mengikis keraguan di hati manusia mengenai kehidupan setelah mati. Selain itu, surah ini menyoroti bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Allah menegaskan bahwa Dia adalah Sang Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) yang memiliki kekuatan kukuh, sehingga manusia tidak perlu merisaukan urusan duniawi hingga melalaikan akhirat.
Surah ini diturunkan di Makkah ketika kaum musyrikin sangat keras menolak konsep kebangkitan dan balasan akhirat. Allah menurunkannya untuk menguatkan hati Nabi Muhammad dan para sahabat di tengah penolakan tersebut. Pesannya ditujukan untuk membantah keraguan kaum musyrikin dengan argumen dari alam semesta dan kisah umat terdahulu.
Surah Az-Zariyat memiliki kaitan erat dengan Surah Qaf sebelumnya yang juga membahas kepastian hari kebangkitan. Jika Surah Qaf diakhiri dengan perintah memberi peringatan melalui Al-Quran, Az-Zariyat memulainya dengan sumpah-sumpah yang menegaskan kebenaran peringatan tersebut. Selanjutnya, Surah At-Tur yang datang setelahnya kembali memperkuat tema azab yang pasti terjadi bagi para pendusta.
Situasi Merasa sangat cemas memikirkan masa depan karir dan keuangan keluarga.
Pesan surah Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), rezeki kita sudah ditetapkan di langit.
Langkah kecil Berdoa meminta keberkahan rezeki hari ini sebelum mulai bekerja.
Situasi Terlalu sibuk bekerja dari pagi hingga malam sampai melalaikan salat.
Pesan surah Tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah, bukan sekadar mengumpulkan harta.
Langkah kecil Memasang alarm salat dan segera meninggalkan pekerjaan saat azan berkumandang.
Situasi Merasa ragu apakah amal kebaikan kecil akan dibalas oleh Allah.
Pesan surah Hari pembalasan pasti terjadi dan setiap amal sekecil apa pun akan diperhitungkan.
Langkah kecil Melakukan satu kebaikan kecil secara sembunyi-sembunyi hari ini dengan niat ikhlas.
Surah ini mengajak kita memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah di bumi dan pada diri kita sendiri. Hal ini bertujuan untuk menguatkan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk membangkitkan manusia.
Cara praktis Luangkan waktu lima menit di luar ruangan untuk merenungkan ciptaan Allah dan bersyukur atas nikmat nafas hari ini.
Hari ini, berhentilah sejenak dari kesibukan duniawi untuk melakukan salat sunah dua rakaat sebagai bentuk syukur dan ibadah murni.
وَالذّٰرِيٰتِ ذَرْوًاۙ
Waż-żāriyāti żarwā(n).
Demi (angin) yang menerbangkan debu,
فَالْحٰمِلٰتِ وِقْرًاۙ
Fal-ḥāmilāti wiqrā(n).
demi (awan) yang mengandung muatan (hujan),
فَالْجٰرِيٰتِ يُسْرًاۙ
Fal-jāriyāti yusrā(n).
demi (kapal-kapal) yang melaju (di atas air) dengan mudah,
فَالْمُقَسِّمٰتِ اَمْرًاۙ
Fal-muqassimāti amrā(n).
dan demi (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi segala urusan,
اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَصَادِقٌۙ
Innamā tū‘adūna laṣādiq(un).
sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar
وَّاِنَّ الدِّيْنَ لَوَاقِعٌۗ
Wa innad-dīna lawāqi‘(un).
dan sesungguhnya pembalasan pasti terjadi.
وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الْحُبُكِۙ
Was-samā'i żātil-ḥubuk(i).
Demi langit yang mempunyai jalan-jalan yang kukuh,
اِنَّكُمْ لَفِيْ قَوْلٍ مُّخْتَلِفٍۙ
Innakum lafī qaulim mukhtalif(in).
sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berselisih.
يُّؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ اُفِكَۗ
Yu'faku ‘anhu man ufik(a).
Telah dijauhkan darinya (Al-Qur’an dan Rasul) orang yang dipalingkan.
قُتِلَ الْخَرَّاصُوْنَۙ
Qutilal-kharrāṣūn(a).
Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,
الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ غَمْرَةٍ سَاهُوْنَۙ
Allażīna hum fī gamratin sāhūn(a).
(yaitu) orang-orang yang terbenam (dalam kebodohan) lagi lalai (dari urusan akhirat)!
يَسْـَٔلُوْنَ اَيَّانَ يَوْمُ الدِّيْنِۗ
Yas'alūna ayyāna yaumud-dīn(i).
Mereka bertanya, “Kapankah hari Pembalasan itu?”
يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُوْنَ
Yauma hum ‘alan-nāri yuftanūn(a).
(Hari Pembalasan terjadi) pada hari (ketika) mereka diazab dalam api neraka.
ذُوْقُوْا فِتْنَتَكُمْۗ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تَسْتَعْجِلُوْنَ
Żūqū fitnatakum, hāżal-lażī kuntum bihī tasta‘jilūn(a).
(Dikatakan kepada mereka,) “Rasakanlah azabmu! Inilah azab yang dahulu kamu minta agar disegerakan.”
اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ
Innal-muttaqīna fī jannātiw wa ‘uyūn(in).
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam (surga yang penuh) taman-taman dan mata air.
اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ
Ākhiżīna mā ātāhum rabbuhum, innahum kānū qabla żālika muḥsinīn(a).
(Di surga) mereka dapat mengambil apa saja yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.
كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ
Kānū qalīlam minal-laili mā yahja‘ūn(a).
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Wa bil-asḥāri hum yastagfirūn(a).
dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).
وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ
Wa fī amwālihim ḥaqqul lis-sā'ili wal-maḥrūm(i).
Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.
وَفِى الْاَرْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَۙ
Wa fil-arḍi āyātul lil-mūqinīn(a).
Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin.
وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
Wa fī anfusikum, afalā tubṣirūn(a).
(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?
وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ
Wa fis-samā'i rizqukum wa mā tū‘adūn(a).
Di langit terdapat pula (hujan yang menjadi sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.
فَوَرَبِّ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِنَّهٗ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ اَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَ ࣖ
Fa wa rabbis-samā'i wal-arḍi innahū laḥaqqum miṡla mā annakum tanṭiqūn(a).
Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap.
Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Ibrahim At Taimi] dari [Bapaknya] dari [Abu Dzar radliallahu 'an…
Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi] Telah menceritakan kepada kami [Waki'] Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Ibrahim At Taimi] dari [B…
Dalam perjalanan meniti tawakal, seringkali hati diguncang keraguan akan janji Allah tentang rezeki dan ketetapan-Nya. Az-Zariyat ayat 23 hadir sebagai peneg…
Dalam mengarungi ujian kehidupan, seringkali hati kita terikat pada sebab-sebab duniawi yang tampak di depan mata. Namun, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak…
Di tengah badai keraguan dan beratnya beban hidup yang sering kali mengguncang keteguhan hati dalam bertawakal, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak kita menol…