وَٱلذَّٲرِيَـٰتِ ذَرْوًا
Waż-żāriyāti żarwā(n).
Demi (angin) yang menerbangkan debu,
الذّٰريٰت
Angin yang Menerbangkan · 60 ayat
Surah Az-Zariyat memusatkan perhatian pada pembuktian hari kebangkitan dan perhitungan amal perbuatan, melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta serta kisah-kisah kaum terdahulu yang mendustakan. Surah ini menyerukan kepada tauhid dan ketaatan, memperingatkan akan azab bagi para pendusta dan menjanjikan ganjaran bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Surah ini menegaskan kepastian hari kiamat dan rezeki dari Allah untuk memantapkan tauhid manusia.
Surah Az-Zariyat berpusat pada penegasan tentang hari kebangkitan, balasan amal, dan kekuasaan Allah di alam semesta. Allah bersumpah dengan berbagai makhluk-Nya, seperti angin dan malaikat, untuk meyakinkan manusia bahwa janji-Nya pasti terjadi. Hal ini bertujuan untuk mengikis keraguan di hati manusia mengenai kehidupan setelah mati. Selain itu, surah ini menyoroti bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Allah menegaskan bahwa Dia adalah Sang Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) yang memiliki kekuatan kukuh, sehingga manusia tidak perlu merisaukan urusan duniawi hingga melalaikan akhirat.
Surah ini diturunkan di Makkah ketika kaum musyrikin sangat keras menolak konsep kebangkitan dan balasan akhirat. Allah menurunkannya untuk menguatkan hati Nabi Muhammad dan para sahabat di tengah penolakan tersebut. Pesannya ditujukan untuk membantah keraguan kaum musyrikin dengan argumen dari alam semesta dan kisah umat terdahulu.
Surah Az-Zariyat memiliki kaitan erat dengan Surah Qaf sebelumnya yang juga membahas kepastian hari kebangkitan. Jika Surah Qaf diakhiri dengan perintah memberi peringatan melalui Al-Quran, Az-Zariyat memulainya dengan sumpah-sumpah yang menegaskan kebenaran peringatan tersebut. Selanjutnya, Surah At-Tur yang datang setelahnya kembali memperkuat tema azab yang pasti terjadi bagi para pendusta.
Situasi Merasa sangat cemas memikirkan masa depan karir dan keuangan keluarga.
Pesan surah Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), rezeki kita sudah ditetapkan di langit.
Langkah kecil Berdoa meminta keberkahan rezeki hari ini sebelum mulai bekerja.
Situasi Terlalu sibuk bekerja dari pagi hingga malam sampai melalaikan salat.
Pesan surah Tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah, bukan sekadar mengumpulkan harta.
Langkah kecil Memasang alarm salat dan segera meninggalkan pekerjaan saat azan berkumandang.
Situasi Merasa ragu apakah amal kebaikan kecil akan dibalas oleh Allah.
Pesan surah Hari pembalasan pasti terjadi dan setiap amal sekecil apa pun akan diperhitungkan.
Langkah kecil Melakukan satu kebaikan kecil secara sembunyi-sembunyi hari ini dengan niat ikhlas.
Surah ini mengajak kita memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah di bumi dan pada diri kita sendiri. Hal ini bertujuan untuk menguatkan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk membangkitkan manusia.
Cara praktis Luangkan waktu lima menit di luar ruangan untuk merenungkan ciptaan Allah dan bersyukur atas nikmat nafas hari ini.
Hari ini, berhentilah sejenak dari kesibukan duniawi untuk melakukan salat sunah dua rakaat sebagai bentuk syukur dan ibadah murni.
9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.
Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَكُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَي…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Ibrahim At Taimi] dari [Bapaknya] dari [Abu Dzar radliallahu 'anhu] dia berkata; Aku pernah bersama Nabi sh…
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ…
Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi] Telah menceritakan kepada kami [Waki'] Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Ibrahim At Taimi] dari [Bapaknya] dari [Abu Dzar] dia berkata; Aku b…
Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.
Dalam perjalanan meniti tawakal, seringkali hati diguncang keraguan akan janji Allah tentang rezeki dan ketetapan-Nya. Az-Zariyat ayat 23 hadir sebagai peneguh iman yang luar biasa. Allah berfirman…
Dalam mengarungi ujian kehidupan, seringkali hati kita terikat pada sebab-sebab duniawi yang tampak di depan mata. Namun, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak kita menengadahkan pandangan ke atas, ke…
Di tengah badai keraguan dan beratnya beban hidup yang sering kali mengguncang keteguhan hati dalam bertawakal, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak kita menoleh ke arah yang paling dekat, yakni diri…
Dalam mengarungi ujian kehidupan, seringkali hati merasa gamang karena terlalu fokus pada hasil akhir yang belum terlihat. Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zariyat ayat 20: Wa fil-ardhi aayatul l…
Dalam perjalanan meniti tawakal, seringkali kita merasa cemas akan kecukupan diri sendiri. Namun, Allah SWT memberikan perspektif yang membalikkan logika manusia dalam Surat Az-Zariyat ayat 19. Aya…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Warna Tajwid
Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.
✓ Warna aktif
Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).
وَٱلذَّٲرِيَـٰتِ ذَرْوًا
Waż-żāriyāti żarwā(n).
Demi (angin) yang menerbangkan debu,
فَٱلْحَـٰمِلَـٰتِ وِقْرًا
Fal-ḥāmilāti wiqrā(n).
demi (awan) yang mengandung muatan (hujan),
فَٱلْجَـٰرِيَـٰتِ يُسْرًا
Fal-jāriyāti yusrā(n).
demi (kapal-kapal) yang melaju (di atas air) dengan mudah,
فَٱلْمُقَسِّمَـٰتِ أَمْرًا
Fal-muqassimāti amrā(n).
dan demi (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi segala urusan,
إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ
Innamā tū‘adūna laṣādiq(un).
sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar
وَإِنَّ ٱلدِّينَ لَوَٲقِعٌ
Wa innad-dīna lawāqi‘(un).
dan sesungguhnya pembalasan pasti terjadi.
وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْحُبُكِ
Was-samā'i żātil-ḥubuk(i).
Demi langit yang mempunyai jalan-jalan yang kukuh,
إِنَّكُمْ لَفِى قَوْلٍ مُّخْتَلِفٍ
Innakum lafī qaulim mukhtalif(in).
sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berselisih.
يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ
Yu'faku ‘anhu man ufik(a).
Telah dijauhkan darinya (Al-Qur’an dan Rasul) orang yang dipalingkan.
قُتِلَ ٱلْخَرَّٲصُونَ
Qutilal-kharrāṣūn(a).
Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,
ٱلَّذِينَ هُمْ فِى غَمْرَةٍ سَاهُونَ
Allażīna hum fī gamratin sāhūn(a).
(yaitu) orang-orang yang terbenam (dalam kebodohan) lagi lalai (dari urusan akhirat)!
يَسْــَٔلُونَ أَيَّانَ يَوْمُ ٱلدِّينِ
Yas'alūna ayyāna yaumud-dīn(i).
Mereka bertanya, “Kapankah hari Pembalasan itu?”
يَوْمَ هُمْ عَلَى ٱلنَّارِ يُفْتَنُونَ
Yauma hum ‘alan-nāri yuftanūn(a).
(Hari Pembalasan terjadi) pada hari (ketika) mereka diazab dalam api neraka.
ذُوقُواْ فِتْنَتَكُمْ هَـٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تَسْتَعْجِلُونَ
Żūqū fitnatakum, hāżal-lażī kuntum bihī tasta‘jilūn(a).
(Dikatakan kepada mereka,) “Rasakanlah azabmu! Inilah azab yang dahulu kamu minta agar disegerakan.”
إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّـٰتٍ وَعُيُونٍ
Innal-muttaqīna fī jannātiw wa ‘uyūn(in).
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam (surga yang penuh) taman-taman dan mata air.
ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَـٰهُمْ رَبُّهُمْۚ إِنَّهُمْ كَانُواْ قَبْلَ ذَٲلِكَ مُحْسِنِينَ
Ākhiżīna mā ātāhum rabbuhum, innahum kānū qabla żālika muḥsinīn(a).
(Di surga) mereka dapat mengambil apa saja yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.
كَانُواْ قَلِيلاً مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
Kānū qalīlam minal-laili mā yahja‘ūn(a).
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;
وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Wa bil-asḥāri hum yastagfirūn(a).
dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).
وَفِىٓ أَمْوَٲلِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
Wa fī amwālihim ḥaqqul lis-sā'ili wal-maḥrūm(i).
Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.
وَفِى ٱلْأَرْضِ ءَايَـٰتٌ لِّلْمُوقِنِينَ
Wa fil-arḍi āyātul lil-mūqinīn(a).
Di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin.
وَفِىٓ أَنفُسِكُمْۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Wa fī anfusikum, afalā tubṣirūn(a).
(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?
وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
Wa fis-samā'i rizqukum wa mā tū‘adūn(a).
Di langit terdapat pula (hujan yang menjadi sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.
فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ إِنَّهُۥ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ
Fa wa rabbis-samā'i wal-arḍi innahū laḥaqqum miṡla mā annakum tanṭiqūn(a).
Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap.
هَلْ أَتَـٰكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَٲهِيمَ ٱلْمُكْرَمِينَ
Hal atāka ḥadīṡu ḍaifi ibrāhīmal-mukramīn(a).
Sudahkah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?
إِذْ دَخَلُواْ عَلَيْهِ فَقَالُواْ سَلَـٰمًاۖ قَالَ سَلَـٰمٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ
Iż dakhalū ‘alaihi fa qālū salāmā(n), qāla salām(un), qaumum munkarūn(a).
(Cerita itu bermula) ketika mereka masuk (bertamu) kepadanya, lalu mengucapkan, “Salam.” Ibrahim menjawab, “Salam.” (Mereka) adalah orang-orang yang belum dikenal.
فَرَاغَ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ فَجَآءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ
Farāga ilā ahlihī fa jā'a bi‘ijlin samīn(in).
Kemudian, dia (Ibrahim) pergi diam-diam menemui keluarganya, lalu datang (kembali) membawa (daging) anak sapi gemuk (yang dibakar).
فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Fa qarrabahū ilaihim, qāla alā ta'kulūn(a).
Dia lalu menghidangkannya kepada mereka, (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, “Mengapa kamu tidak makan?”
فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةًۖ قَالُواْ لَا تَخَفْۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَـٰمٍ عَلِيمٍ
Fa aujasa minhum khīfah(tan), qālū lā takhaf, wa basysyarūhu bigulāmin ‘alīm(in).
Dia (Ibrahim) menyimpan rasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut!” Mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (akan kelahiran) seorang anak yang sangat berilmu (Ishaq).
فَأَقْبَلَتِ ٱمْرَأَتُهُۥ فِى صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ
Fa aqbalatimra'atuhū fī ṣarratin fa ṣakkat wajhahā wa qālat ‘ajūzun ‘aqīm(un).
Istrinya datang sambil berteriak (terperanjat) lalu menepuk-nepuk wajahnya sendiri dan berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.”
قَالُواْ كَذَٲلِكِ قَالَ رَبُّكِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْحَكِيمُ ٱلْعَلِيمُ
Qālū każālik(i), qāla rabbuk(i), innahū huwal-ḥakīmul-‘alīm(u).
Mereka berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”
۞ قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا ٱلْمُرْسَلُونَ
Qāla famā khaṭbukum ayyuhal-mursalūn(a).
Dia (Ibrahim) bertanya, “Apa urusan pentingmu, wahai para utusan?”
قَالُوٓاْ إِنَّآ أُرْسِلْنَآ إِلَىٰ قَوْمٍ مُّجْرِمِينَ
Qālū innā ursilnā ilā qaumim mujrimīn(a).
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Lut untuk menyiksanya)
لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن طِينٍ
Linursila ‘alaihim ḥijāratam min ṭīn(in).
agar kami menimpa mereka dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat
مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِينَ
Musawwamatan ‘inda rabbika lil-musrifīn(a).
yang ditandai oleh Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.”
فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Fa akhrajnā man kāna fīhā minal-mu'minīn(a).
Kami mengeluarkan orang-orang mukmin yang berada di dalamnya (negeri kaum Lut).
فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Famā wajadnā fīhā gaira baitim minal-muslimīn(a).
Kami tidak mendapati di dalamnya, kecuali sebuah rumah dari orang-orang muslim (Lut dan keluarganya).
وَتَرَكْنَا فِيهَآ ءَايَةً لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلْعَذَابَ ٱلْأَلِيمَ
Wa taraknā fīhā āyatal lil-lażīna yakhāfūnal-‘ażābal-alīm(a).
Kami meninggalkan suatu tanda (kebesaran-Nya di (negeri) itu bagi orang-orang yang takut pada azab yang pedih.
وَفِى مُوسَىٰٓ إِذْ أَرْسَلْنَـٰهُ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ بِسُلْطَـٰنٍ مُّبِينٍ
Wa fī mūsā iż arsalnāhu ilā fir‘auna bisulṭānim mubīn(in).
(Begitu pula Kami meninggalkan) pada Musa (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir‘aun dengan membawa mukjizat yang nyata.
فَتَوَلَّىٰ بِرُكْنِهِۦ وَقَالَ سَـٰحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
Fa tawallā biruknihī wa qāla sāḥirun au majnūn(un).
Kemudian, dia (Fir‘aun) bersama bala tentaranya berpaling dan (Fir‘aun) berkata, “(Dia adalah) seorang penyihir atau orang gila.”
فَأَخَذْنَـٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذْنَـٰهُمْ فِى ٱلْيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٌ
Fa akhażnāhu wa junūdahū fanabażnāhum fil-yammi wa huwa mulīm(un).
Maka, Kami menghukumnya beserta bala tentaranya, lalu Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut dalam keadaan melakukan perbuatan yang tercela.
وَفِى عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلْعَقِيمَ
Wa fī ‘ādin iż arsalnā ‘alaihimur-rīḥal-‘aqīm(a).
(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan.
مَا تَذَرُ مِن شَىْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَٱلرَّمِيمِ
Mā tażaru min syai'in atat ‘alaihi illā ja‘alathu kar-ramīm(i).
(Angin) itu tidak meninggalkan apa pun pada semua yang dilandanya, kecuali menjadikannya bagai tulang yang hancur.
وَفِى ثَمُودَ إِذْ قِيلَ لَهُمْ تَمَتَّعُواْ حَتَّىٰ حِينٍ
Wa fī ṡamūda iż qīla lahum tamatta‘ū ḥattā ḥīn(in).
(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) Samud (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika dikatakan kepada mereka, “Bersenang-senanglah kamu sampai waktu yang ditentukan!”
فَعَتَوْاْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ ٱلصَّـٰعِقَةُ وَهُمْ يَنظُرُونَ
Fa‘atau ‘an amri rabbihim fa akhażathumuṣ-ṣā‘iqatu wa hum yanẓurūn(a).
Lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya. Maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan(-nya).
فَمَا ٱسْتَطَـٰعُواْ مِن قِيَامٍ وَمَا كَانُواْ مُنتَصِرِينَ
Famastaṭā‘ū min qiyāmiw wa mā kānū muntaṣirīn(a).
Mereka sama sekali tidak mampu bangun dan tidak pula mendapat pertolongan.
وَقَوْمَ نُوحٍ مِّن قَبْلُۖ إِنَّهُمْ كَانُواْ قَوْمًا فَـٰسِقِينَ
Wa qauma nūḥim min qabl(u), innahum kānū qauman fāsiqīn(a).
Sebelum itu (Kami telah membinasakan) kaum Nuh. Sesungguhnya mereka adalah kaum fasik.
وَٱلسَّمَآءَ بَنَيْنَـٰهَا بِأَيْيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
Was-samā'a banaināhā bi'aidiw wa innā lamūsi‘ūn(a).
Langit Kami bangun dengan tangan (kekuatan Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(-nya).
وَٱلْأَرْضَ فَرَشْنَـٰهَا فَنِعْمَ ٱلْمَـٰهِدُونَ
Wal-arḍa farasynāhā fa ni‘mal-māhidūn(a).
Bumi Kami hamparkan. (Kami adalah) sebaik-baik Zat yang menghamparkan.
وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Wa min kulli syai'in khalaqnā zaujaini la‘allakum tażakkarūn(a).
Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).
فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ إِنِّى لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Fa firrū ilallāh(i), innī lakum minhu nażīrum mubīn(un).
Maka, (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad,) “Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu.
وَلَا تَجْعَلُواْ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَۖ إِنِّى لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Wa lā taj‘alū ma‘allāhi ilāhan ākhar(a), innī lakum minhu nażīrum mubīn(un).
Janganlah kamu mengadakan tuhan lain bersama Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”
كَذَٲلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
Każālika mā atal-lażīna min qablihim mir rasūlin illā qālū sāḥirun au majnūn(un).
Demikianlah setiap kali seorang rasul datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “(Dia itu adalah) penyihir atau orang gila.”
أَتَوَاصَوْاْ بِهِۦۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Atawāṣau bih(ī), bal hum qaumun ṭāgūn(a).
Apakah mereka saling menasihati tentang (apa yang dikatakan) itu? (Tidak!) Sebaliknya, mereka adalah kaum yang melampaui batas.
فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَآ أَنتَ بِمَلُومٍ
Fa tawalla ‘anhum famā anta bimalūm(in).
Berpalinglah dari mereka, maka engkau sama sekali bukan orang yang tercela.
وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Wa żakkir fa innaż-żikra tanfa‘ul-mu'minīn(a).
Teruslah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn(i).
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
Mā urīdu minhum mir rizqiw wa mā urīdu ay yuṭ‘imūn(i).
Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ
Innallāha huwar-razzāqu żul-quwwatil-matīn(u).
Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.
فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ذَنُوبًا مِّثْلَ ذَنُوبِ أَصْحَـٰبِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُونِ
Fa inna lil-lażīna ẓalamū żanūbam miṡla żanūbi aṣḥābihim falā yasta‘jilūn(i).
Sesungguhnya orang-orang yang zalim mendapatkan bagian (azab) seperti bagian teman-teman mereka (dahulu). Maka, janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakan(-nya).
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن يَوْمِهِمُ ٱلَّذِى يُوعَدُونَ
Fa wailul lil-lażīna kafarū miy yaumihimul-lażī yū‘adūn(a).
Celakalah orang-orang yang kufur pada hari yang telah dijanjikan kepada mereka (hari Kiamat).