← Kembali ke pelajaran
Hari 89 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah At-Tur (52) merupakan surah Makkiyah berdasarkan konsensus ulama. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyatakan bahwa surah ini turun di Mekah sebelum hijrah. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an juga menegaskan Makkiyah-nya dengan dalil bahwa surah ini mengandung ayat-ayat yang bersumpah dengan ciptaan Allah dan ancaman terhadap orang-orang musyrik, yang merupakan ciri khas surah Makkiyah pada umumnya. Tidak ada satu pun ulama yang menyebutnya Madaniyah. Dari segi urutan nuzul, surah ini termasuk wahyu periode Mekah pertengahan, kira-kira pada tahun ke-5 atau ke-6 kenabian, ketika dakwah sudah memasuki fase terang-terangan dan tekanan Quraisy semakin memuncak. Riwayat dari Ibn Hisham dalam As-Sirah an-Nabawiyyah menggambarkan bahwa pada masa itu kaum Quraisy mulai melontarkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Nabi Muhammad ﷺ, seperti menuduhnya sebagai penyair, dukun, atau orang gila. Surah At-Tur turun sebagai jawaban langsung terhadap tuduhan-tuduhan tersebut dan penguatan bagi kaum mukminin.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Riwayat paling masyhur mengenai asbab an-nuzul surah At-Tur berkaitan dengan ayat 29–31. Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Ketika Nabi ﷺ mulai membaca Al-Qur'an, kaum Quraisy berkata, 'Muhammad adalah seorang dukun (kahin),' 'Muhammad adalah seorang penyair (sha'ir),' 'Muhammad adalah orang gila (majnun).' Maka Allah menurunkan ayat: Fadzakkir fama anta bi ni'mati rabbika bi kahinin wa la majnun (Maka berilah peringatan, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau bukanlah seorang dukun dan bukan pula orang gila)." (Q.S. At-Tur: 29). Riwayat ini juga disebutkan oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul.

Kemudian, riwayat utama lainnya sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Wahidi dan At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an: Ibn Abbas berkata, "Kaum Quraisy berkata, 'Muhammad adalah penyair, kita tunggu saja bencana zaman yang akan menimpanya.' Maka Allah menurunkan ayat: Am yaquluna sha'irun natarabbasu bihi raiba al-manun (Atau apakah mereka berkata: 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya?')." (Q.S. At-Tur: 30) Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menjawab: Qul tarabbasu fa inni ma'akum mina al-mutarabbisin (Katakanlah: 'Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.') (Q.S. At-Tur: 31).

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain riwayat di atas, terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa ayat 30 turun berkenaan dengan Al-Walid bin al-Mughirah atau 'Utbah bin Rabi'ah. Namun, As-Suyuti menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah riwayat umum yang mencakup seluruh kaum musyrikin Quraisy. At-Tabari dalam tafsirnya menulis: "Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menuduh Nabi sebagai penyair, dan mereka berharap agar waktu membinasakannya sebagaimana penyair-penyair terdahulu binasa." Imam Ibn Kathir menambahkan bahwa kaum musyrikin sering berkata, "Muhammad adalah seorang penyair, dan penyair-penyair sebelumnya telah mati. Biarkan dia sampai ajal menjemputnya." Maka Allah membantah dengan ayat-ayat tersebut.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk ayat-ayat lainnya dalam surah ini, khususnya bagian awal yang berisi sumpah-sumpah (ayat 1–6), para ulama seperti Al-Wahidi, As-Suyuti, dan Ibn Kathir tidak menyebutkan riwayat asbab an-nuzul yang spesifik. Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul hanya menyebutkan asbab untuk ayat 29–31, sedangkan sisanya dianggap sebagai konteks umum Makkiyah. Namun, para mufassir seperti At-Tabari dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa sumpah-sumpah tersebut bertujuan untuk mengukuhkan kebenaran ancaman azab yang akan datang. Konteks turunnya surah ini secara umum adalah ketika kaum musyrikin memperolok-olokkan berita tentang hari kiamat dan mendustakan Muhammad ﷺ. Maka Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya yang agung untuk menegaskan bahwa azab Tuhan benar-benar akan terjadi (ayat 7–8).

3. Konteks Historis & Sosial

Pada periode turunnya surah At-Tur, dakwah Nabi Muhammad ﷺ sudah berlangsung sekitar 5–6 tahun di Mekah. Kaum Quraisy semakin keras dalam menentang beliau. Mereka menggunakan berbagai cara untuk melemahkan dakwah: mulai dari cemoohan, tuduhan, hingga siksaan fisik terhadap para sahabat. Tuduhan bahwa Muhammad ﷺ adalah dukun, penyair, atau orang gila sangat sering dilontarkan. Dalam As-Sirah an-Nabawiyyah, Ibn Hisham mencatat bahwa kaum Quraisy berkumpul di sekitar Ka'bah dan merencanakan strategi untuk mendiskreditkan Nabi. Mereka menganggap bahwa Al-Qur'an yang dibacanya bukanlah wahyu, melainkan syair atau sihir. Maka turunlah surah ini untuk membantah secara tegas dan memberikan ketenangan kepada Nabi ﷺ, bahwa dirinya bukanlah seorang dukun atau orang gila, melainkan utusan Allah yang sejati.

Kondisi sosial saat itu juga ditandai dengan ketidakadilan yang merajalela: kaum lemah dan budak menjadi sasaran utama siksaan Quraisy. Para sahabat awal seperti Bilal bin Rabah, 'Ammar bin Yasir, dan Sumayyah mengalami penyiksaan berat. Surah ini memberikan penghiburan dengan janji surga bagi orang-orang yang bertakwa (ayat 17–20), sekaligus ancaman neraka bagi para pendusta (ayat 11–16). Ini menjadi motivasi besar bagi kaum muslimin untuk tetap sabar meskipun menghadapi cobaan berat.

Perspektif lain yang ditekankan surah ini adalah tentang keniscayaan hari kiamat. Kaum musyrikin sering menantang, "Kapan datangnya azab itu jika kamu benar?" Ayat 9–10 melukiskan kehancuran kosmik yang dahsyat sebagai jawaban. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun azab belum turun di dunia, kepastiannya di akhirat merupakan pokok keimanan yang tidak boleh diragukan. Konteks historis ini sangat penting untuk memahami urgensi surah dalam memperkuat akidah tauhid dan hari akhir di tengah tekanan dakwah.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral surah At-Tur dapat diringkas menjadi tiga hal:

  1. Keniscayaan Azab dan Balasan di Akhirat. Setelah bersumpah dengan berbagai makhluk Allah (gunung, kitab yang tertulis, Baitul Ma'mur, langit, dan lautan), Allah menegaskan bahwa azab-Nya pasti terjadi (ayat 7–8). Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa sumpah-sumpah ini adalah penguat bahwa hari kiamat benar-benar akan datang. At-Tabari juga menyatakan bahwa sumpah tersebut untuk membungkam orang-orang yang meragukannya. Kemudian digambarkan dengan jelas penderitaan penghuni neraka (ayat 13–16) dan kenikmatan penghuni surga (ayat 17–20).

  2. Bantahan Terhadap Tuduhan Kaum Musyrikin. Ayat 29–31 secara spesifik menjawab tuduhan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah dukun, penyair, atau orang gila. As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menulis: "Allah membebaskan Nabi-Nya dari semua tuduhan palsu itu, dan menegaskan bahwa beliau benar-benar seorang rasul yang membawa peringatan." Beliau diperintahkan untuk tetap mengingatkan (ayat 29), dan menantang mereka untuk menunggu (ayat 31) karena Allah pun akan menunjukkan kebenaran.

  3. Kekuasaan Allah Terlihat dalam Penciptaan. Ayat 1–6 memuat beberapa objek sumpah yang semuanya menunjukkan kebesaran Allah. Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menjelaskan bahwa bersumpah dengan at-Thur (gunung) mengingatkan pada tempat Allah berfirman kepada Musa. Al-Bait al-Ma'mur adalah bait yang penuh dengan malaikat. As-Saqf al-Marfu' adalah langit yang ditinggikan. Al-Bahr al-Masjur adalah laut yang akan menjadi api pada hari kiamat. Semua ini membuktikan bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya, termasuk menghidupkan kembali makhluk-Nya.

Munasabah ringkas: Surah ini turun setelah surah Adz-Dzariyat (51) yang juga berbicara tentang hari kiamat dan siksa bagi pendusta. Pada Adz-Dzariyat, lebih ditekankan pada azab yang telah menimpa umat terdahulu. Pada At-Tur, penekanan diberikan pada kepastian azab dan keadaan akhirat secara lebih rinci. Setelah At-Tur, surah An-Najm (53) turun dengan tema kerasulan dan wahyu, seakan melengkapi pembelaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Beberapa hadits shahih membahas keutamaan surah At-Tur, baik secara khusus maupun sebagai bagian dari sunnah Nabi.

  • Hadits tentang membaca surah At-Tur dalam shalat Maghrib. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, no. 765 (765 dari Jubair bin Muth'im): "Aku mendengar Nabi ﷺ membaca surah At-Tur dalam shalat Maghrib." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Shalah, no. 462. Ini menunjukkan bahwa surah ini biasa dibaca oleh Nabi ﷺ dalam shalat dan merupakan sunnah yang dianjurkan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencatat bahwa membaca surah At-Tur pada shalat Maghrib merupakan kebiasaan Nabi ﷺ di Madinah, meskipun surah ini Makkiyah.

  • Hadits tentang Baitul Ma'mur dan Isra'. Dalam hadits shahih tentang peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwa beliau melihat Baitul Ma'mur di langit ketujuh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3207) dan Muslim (no. 164) dari Malik bin Sha'sha'ah: "Kemudian aku diangkat ke Baitul Ma'mur, lalu aku bertanya kepada Jibril. Dia berkata: 'Ini adalah Baitul Ma'mur, setiap hari tujuh puluh ribu malaikat masuk ke dalamnya dan mereka tidak akan kembali lagi sesudahnya.'" Hal ini menjadi tafsir langsung untuk ayat 4 dari surah At-Tur. Baitul Ma'mur adalah tempat ibadah malaikat yang sejajar dengan Ka'bah di bumi.

  • Hadits tentang laut yang dipanaskan (al-Bahr al-Masjur). Ada riwayat shahih yang menjelaskan maksud al-Bahr al-Masjur: "Laut itu adalah dasar neraka Jahanam." (HR. Ahmad, no. 17302, dengan sanad hasan). At-Tabari dan ulama lainnya mengutip pendapat bahwa di bawah lautan terdapat api, yang kelak akan membakar pada hari kiamat.

  • Keutamaan umum membaca Al-Qur'an. Meskipun tidak ada hadits khusus tentang keutamaan surah At-Tur secara terpisah (selain yang telah disebutkan), membaca Al-Qur'an secara umum memiliki keutamaan besar. Dalam hadits shahih dari Tirmidzi (no. 2910): "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi pembacanya." Oleh karena itu, membaca surah At-Tur termasuk bagian dari amalan ini.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para ulama salaf banyak memberikan tafsir dan pendapat tentang ayat-ayat dalam surah At-Tur.

  • Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam riwayat dari Said bin Jubair menafsirkan at-Thur (ayat 1) sebagai gunung tempat Allah berfirman kepada Musa di Sinai. Al-Kitab al-Mastur (ayat 2) adalah Lauh Mahfuz. Al-Bait al-Ma'mur (ayat 4) adalah Ka'bah di langit yang dikelilingi para malaikat. As-Saqf al-Marfu' (ayat 5) adalah langit. Al-Bahr al-Masjur (ayat 6) adalah laut yang kelak menjadi api pada hari kiamat.

  • Mujahid bin Jabr (seorang tabi'in) menambahkan bahwa al-Bahr al-Masjur adalah lautan yang ditahan dari meluap, dan kelak akan dinyalakan menjadi api.

  • Qatadah bin Di'amah berkata: "Demi laut yang dipenuhi (al-masjur) yaitu yang penuh air, atau yang dikumpulkan dengan neraka pada hari kiamat." Pendapat ini dikutip oleh At-Tabari dan Al-Baghawi.

  • Hasan al-Basri menafsirkan al-Bahr al-Masjur sebagai lapisan bumi yang di bawahnya terdapat api, dan permukaan bumi inilah yang kita huni.

  • Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menjelaskan bahwa kata thur dalam bahasa Suryani berarti bukit yang ditumbuhi pepohonan. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa tempat turunnya Taurat adalah bukit Thursina yang hijau. Beliau juga menolak pendapat yang mengartikan al-Bahr al-Masjur sebagai laut yang penuh gelombang, karena makna hakiki adalah "dipanaskan" atau "diisi dengan api".

  • Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menukil dari Ibnu Abbas bahwa Ar-Raqq al-Manshur (lembaran yang terbuka) adalah lembaran-lembaran Al-Qur'an yang dibuka dan dibaca. Pendapat lain mengatakan bahwa itu adalah Lauh Mahfuz yang terbuka bagi para malaikat.

  • As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa surah ini mengandung ancaman bagi orang yang mendustakan dan berita gembira bagi orang yang bertakwa. Beliau juga menyebutkan bahwa sumpah-sumpah dalam surah ini adalah petunjuk tentang kekuasaan Allah yang mutlak.

Perbedaan pendapat: Terdapat perbedaan tentang makna al-Bahr al-Masjur. Sebagian ulama (seperti Ibnu Abbas dan Qatadah) berpendapat bahwa itu adalah laut yang di dalamnya terdapat api pada hari kiamat. Sebagian lain (seperti al-Hasan dan ulama kontemporer) berpendapat bahwa itu adalah laut yang terbakar atau laut yang berapi secara geologis. Kedua pendapat ini kembali pada satu maksud: bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan fenomena yang menakjubkan.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Kepastian Keadilan Ilahi. Surah At-Tur mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan mendapat balasan setimpal (ayat 16 dan 19). Orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh kenikmatan abadi, sedangkan para pendosa akan menerima azab. Keyakinan ini menjadi landasan moral yang kuat bagi seorang muslim untuk tetap istiqamah di jalan kebenaran meskipun di dunia ia dizalimi.

  2. Menghadapi Tuduhan dengan Tenang. Contohnya langsung diberikan Allah kepada Nabi ﷺ. Ketika dihadapkan dengan tuduhan palsu (dukun, penyair, gila), beliau tidak membalas dengan kemarahan, tetapi terus mengingatkan (ayat 29) dan menantang mereka dengan sabar (ayat 31). Sikap ini patut diteladani ketika kita dihadapkan pada fitnah dan ujian lisan.

  3. Merenungkan Tanda-tanda Kebesaran Allah. Sumpah-sumpah dalam surah ini mengajak manusia untuk memperhatikan alam semesta: gunung, langit, lautan, dan kitab suci. Melalui perenungan ini, keimanan kepada Pencipta semakin kuat. Dalam kehidupan modern, kita bisa merenungkan kompleksitas alam semesta sebagai bukti adanya Allah.

  4. Menjaga Shalat Maghrib dengan Membaca Surah Makkiyah. Kebiasaan Nabi membaca surah At-Tur pada shalat Maghrib menunjukkan betapa pentingnya menyegarkan kembali tema-tema akidah di waktu yang sangat strategis antara siang dan malam. Ini menjadi pelajaran bahwa meskipun kita sudah berada di Madinah (Islam yang kuat), kita tetap perlu mendengar kembali pesan-pesan Mekah tentang tauhid dan hari akhir.

  5. Keutamaan Akhirat sebagai Prioritas. Ayat 17–20 menggambarkan kenikmatan surga yang abadi. Di tengah kesibukan dunia, surah ini mengingatkan bahwa tujuan akhir kita adalah kebahagiaan di akhirat. Karena itu, keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat harus dijaga, sebagaimana dipraktikkan oleh para sahabat yang tetap bersemangat dalam ibadah meskipun di tengah tekanan.

Pelajaran-pelajaran ini berakar pada tafsir dan riwayat, bukan sekadar motivasi dangkal. Ia relevan bagi pembaca modern karena tantangan yang mirip, penindasan, ejekan terhadap nilai-nilai agama, dan godaan materialisme, masih ada hingga kini.

8. Penutup & Doa

Surah At-Tur adalah surah yang sarat dengan bukti-bukti kebenaran risalah Muhammad ﷺ dan kepastian hari akhir. Dengan sumpah yang agung, Allah menegaskan bahwa azab-Nya pasti datang, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Surah ini juga membersihkan nama Nabi dari segala fitnah yang dilontarkan kaum musyrikin. Bagi orang yang bertakwa, terdapat kabar gembira berupa surge yang penuh kenikmatan. Pesan utama surah ini adalah pentingnya kesabaran dalam dakwah, keyakinan terhadap keadilan Allah, serta kesiapan menghadapi kehidupan setelah mati.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang bertakwa yang meraih kebahagiaan abadi. Allahumma faqqihna fi d-din wa 'allimna at-ta'wil. Allahumma ij'alna min al-muttaqin wa minal-ladzina la khawfun 'alayhim wa la hum yahzanun. (Ya Allah, berikanlah kami pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kami takwil. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertakwa dan termasuk mereka yang tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati).

والله أعلم بالصواب


Catatan: Artikel ini disusun dengan merujuk pada kitab-kitab utama tafsir dan hadits sesuai manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, serta mematuhi disiplin akademis ulama klasik dalam menyajikan asbab an-nuzul.