← Kembali ke pelajaran
Hari 92 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Ar-Rahman merupakan surah ke-55 dalam mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 78 ayat. Para ulama berbeda pendapat mengenai status wahyu surah ini; mayoritas berpendapat bahwa surah ini adalah madaniyah, meskipun ada sebagian yang mengatakan makkiyah. Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menukil pendapat yang kuat bahwa surah ini madaniyah berdasarkan riwayat dari Ibn Abbas dan lainnya. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim juga cenderung pada pendapat madaniyah, dengan alasan bahwa di dalamnya terdapat penyebutan al-jannat yang dijanjikan kepada orang-orang beriman, serta seruan kepada jin dan manusia secara bersamaan, yang banyak terjadi pada periode Madinah. As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul tidak menyebutkan riwayat khusus tentang tempat turunnya, namun dalam al-Itqan beliau memasukkannya ke dalam surah madaniyah.

Pendapat bahwa surah ini madaniyah diperkuat oleh konteks ayat-ayatnya yang menyebutkan nikmat-nikmat Allah secara terperinci, termasuk penciptaan langit dan bumi, serta peringatan tentang hari pembalasan. Gaya bahasanya yang indah dan berulang-ulang dengan ayat "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" adalah ciri khas surah ini. Tidak ada riwayat yang sahih mengenai urutan turunnya surah ini, namun secara umum surah ini turun pada periode Madinah setelah hijrah, di saat umat Islam telah memiliki komunitas yang stabil dan dakwah telah meluas ke berbagai kalangan.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Para ulama asbab an-nuzul tidak menyebutkan riwayat spesifik yang menjadi sebab turunnya surah Ar-Rahman secara keseluruhan. Namun, terdapat riwayat yang sangat terkenal tentang bacaan surah ini dan respons jin. Riwayat ini sering dikaitkan dengan ayat "fabia yi aala'i rabbikuma tukadhiban" (QS. Ar-Rahman: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).

Imam al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku.' Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah aku membacakan kepadamu Al-Qur'an, sedangkan Al-Qur'an diturunkan kepadamu?' Beliau bersabda: 'Aku suka mendengar Al-Qur'an dari orang lain.' Maka aku membacakan surah An-Nisa' hingga sampai pada ayat "Jika datang dari setiap umat seorang saksi" (QS. an-Nisa: 41) aku melihat kedua mata beliau meneteskan air mata. Kemudian aku membaca surah Ar-Rahman, dan ketika aku sampai pada ayat "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" beliau bersabda: 'Sesungguhnya jin lebih baik jawabannya kepada Tuhannya daripada kalian. Tidaklah aku membaca satu ayat pun dari surah ini melainkan mereka (jin) menjawab: "Tidak ada satu pun nikmat-Mu yang kami dustakan, ya Rabb."'") (HR. at-Tirmidzi no. 3291, Ibnu Majah no. 1361, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan).

Riwayat ini juga disebutkan oleh Ibnu Jarir at-Tabari dalam Jami' al-Bayan dan oleh as-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul dengan sanad yang serupa. Namun perlu dicatat bahwa riwayat ini bukanlah asbab an-nuzul secara langsung, melainkan ma'a nuzul (kejadian setelah turunnya ayat) yang menunjukkan interaksi jin dengan Al-Qur'an.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Tidak ada versi riwayat lain yang signifikan mengenai sebab turunnya surah ini. Ulama seperti al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil dan as-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman juga tidak menyebutkan adanya sabab nuzul khusus. Mereka langsung menjelaskan tafsir ayat-ayatnya. Hal ini menunjukkan bahwa surah Ar-Rahman turun sebagai pengajaran langsung tentang nama Allah Ar-Rahman, nikmat-nikmat-Nya, dan peringatan kepada jin dan manusia.

2.3 Catatan: Tidak Adanya Riwayat Khusus

Meskipun tidak ada riwayat khusus tentang sebab turunnya surah ini secara keseluruhan, para ulama tafsir menjelaskan bahwa surah ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik Mekah yang mengatakan bahwa Al-Qur'an diajarkan oleh manusia kepada Muhammad (QS. an-Nahl: 103). Hal ini ditegaskan oleh Tafsir Kemenag pada ayat 1 dan 2: "Ayat ini turun sebagai bantahan bagi penduduk Mekah yang mengatakan: Sesungguhnya Al-Qur'an itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). (QS. an-Nahl: 103)". Namun, penduduk Mekah tersebut adalah kafir Quraisy, dan surah ini adalah madaniyah, sehingga konteksnya lebih kepada penegasan umum bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah, bukan terkait peristiwa tertentu di Mekah. Oleh karena itu, konteks surah ini lebih bersifat universal.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah Ar-Rahman turun di Madinah pada saat dakwah Islam telah berkembang pesat. Setelah hijrah, Nabi ﷺ membangun masyarakat Islam yang plural, terdiri dari Muslim, Yahudi, dan musyrikin. Pada periode ini, tantangan dakwah tidak hanya dari kaum musyrikin Quraisy yang masih berperang, tetapi juga dari Yahudi yang sering menentang kenabian. Di sisi lain, jumlah Muslim terus bertambah, dan wahyu-wahyu yang turun sering kali berisi penetapan hukum, etika, dan motivasi.

Surah Ar-Rahman, dengan gaya bahasanya yang puitis dan penuh pengulangan, memberikan dampak psikologis yang kuat. Ayat-ayatnya menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang nyata, seperti penciptaan, alam, dan rezeki, lalu beralih ke nikmat akhirat berupa surga. Hal ini sangat relevan untuk menguatkan iman kaum Muslimin dan mengingatkan mereka agar bersyukur. Selain itu, seruan kepada jin dan manusia secara bersamaan menunjukkan bahwa Islam adalah agama untuk seluruh makhluk berakal. Kisah jin yang mendengarkan Al-Qur'an dari Nabi saat perjalanan ke Thaif (sebelum hijrah) menjadi latar belakang mengapa jin disebut secara eksplisit dalam surah ini. Di Madinah, wahyu tentang jin terus turun, termasuk Surah Al-Jinn dan ayat-ayat lain yang berbicara tentang jin.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral surah Ar-Rahman adalah pengungkapan nikmat Allah kepada makhluk-Nya. Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surah ini dimulai dengan penyebutan nama Ar-Rahman dan pengajaran Al-Qur'an, yang merupakan nikmat terbesar. Kemudian dilanjutkan dengan penciptaan manusia dan pengajaran al-bayan (kemampuan berbicara dan berpikir). Setelah itu, disebutkan nikmat-nikmat alam semesta: matahari, bulan, bintang, pepohonan, langit, bumi, dan isinya. Semua itu adalah tanda kekuasaan Allah yang patut disyukuri.

Di bagian akhir, surah ini menggambarkan kenikmatan surga bagi orang-orang yang bertakwa, serta ancaman neraka bagi yang mendustakan. Dengan demikian, surah ini menggabungkan targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman). As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman mengatakan bahwa surah ini mengandung ilmu tentang Allah, tentang ciptaan-Nya, dan tentang hari akhir.

Munasabah dengan surah sebelumnya: Surah Al-Qamar (bulan) berbicara tentang azab yang menimpa umat terdahulu yang mendustakan rasul. Maka surah Ar-Rahman menunjukkan rahmat Allah yang luas sebagai pengingat agar tidak mendustakan nikmat. Surah setelahnya, Al-Waqi'ah (hari kiamat), menjelaskan secara rinci tentang hari pembalasan, sehingga ketiga surah ini saling melengkapi.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Keutamaan khusus membaca surah Ar-Rahman tidak ditemukan dalam hadits-hadits shahih. Namun, ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Bacalah surah Ar-Rahman, karena ia adalah 'arus (pengantin/perhiasan) Al-Qur'an." Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dan oleh al-Asybah, tetapi sanadnya dinilai lemah oleh para ulama hadits. Oleh karena itu, tidak boleh mempopulerkannya sebagai hadits shahih. Yang lebih tepat adalah hadits tentang respons jin terhadap ayat-ayat surah ini, yang menunjukkan keistimewaannya dalam mempengaruhi pendengar.

Hadits shahih tentang keutamaan surah ini secara khusus tidak ada, namun keutamaan membaca Al-Qur'an secara umum sangat dianjurkan. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan beberapa hadits tentang fadhilah surah-surah tertentu, dan surah Ar-Rahman tidak termasuk. Maka, kita bisa menyebutkan bahwa surah ini dianjurkan untuk dibaca, sebagaimana surah-surah lainnya, dan tadabbur akan mendatangkan keimanan.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para sahabat dan tabi'in banyak memberikan tafsir terhadap ayat-ayat dalam surah ini. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan "ar-rahman 'allama al-qur'an" sebagai bahwa Allah mengajarkan Al-Qur'an kepada Jibril, lalu Jibril mengajarkannya kepada Muhammad ﷺ. Beliau juga menjelaskan "al-bayan" adalah pembeda antara yang baik dan buruk. Mujahid bin Jabr berkata bahwa "al-hisban" adalah peredaran matahari dan bulan menurut perhitungan yang teratur.

Qatadah as-Sudusi mengatakan bahwa "wadha'a al-mizan" adalah keadilan, dan Allah memerintahkan manusia untuk menegakkannya. Hasan al-Bashri berbicara panjang lebar tentang ayat "kulla yawmin huwa fi sya'n" (setiap hari Dia dalam urusan), menafsirkannya bahwa urusan Allah meliputi memberi rezeki, mengampuni, dan lain-lain. Perkataan beliau ini banyak dikutip oleh at-Tabari dan Ibn Katsir.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya membahas status makkiyah atau madaniyah dan menyimpulkan bahwa surah ini madaniyah berdasarkan riwayat dari Ibn Abbas dan Jabir. Beliau juga menukil pendapat bahwa "al-insan" pada ayat 3 adalah Adam, dan "al-jann" pada ayat 15 adalah Iblis. Bedanya, manusia dari jenis yang disebut "al-insan", sedangkan jin dari "al-jann" (nenek moyang jin).

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Pentingnya Syukur: Setiap nikmat yang kita rasakan, baik lahir maupun batin, adalah dari Allah. Kesadaran ini mendorong kita untuk menggunakan nikmat sesuai kehendak-Nya.
  2. Kekuasaan Allah yang Mutlak: Semua ciptaan tunduk pada aturan-Nya. Manusia hanya bagian kecil dari alam semesta, sehingga harus rendah hati.
  3. Kefanaan Dunia: Ayat "kullu man 'alayha fan" mengingatkan bahwa semua akan binasa, hanya Allah yang kekal. Maka jangan terpesona pada dunia.
  4. Perhatian pada Jin: Dakwah Islam juga untuk jin. Kita harus menjaga hubungan dengan alam gaib sesuai syariat, bukan dengan cara-cara syirik.
  5. Keseimbangan Harapan dan Takut: Surah ini menggambarkan surga dan neraka secara berimbang, mengajarkan untuk selalu berharap rahmat dan takut akan azab.

Pelajaran konkret: Renungkan setiap ayat dengan mentadabburi ciptaan Allah, perbanyak dzikir dan doa, serta jauhi sifat kufur nikmat.

8. Penutup & Doa

Surah Ar-Rahman adalah manifestasi kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dengan membaca dan merenungkannya, semoga kita termasuk orang yang bersyukur dan mendapatkan janji-Nya di akhirat.

Doa: "Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang pandai bersyukur, yang merenungkan ayat-ayat-Mu, dan yang diberi kesempatan menikmati surga-Mu. Amin."

"Allahumma faqqihna fi ad-din wa 'allimna at-ta'wil." (Ya Allah, pahamkanlah kami dalam agama dan ajarkanlah kami takwil).

Wallahu a'lam bish-shawab.