اَلرَّحْمٰنُۙ
Ar-raḥmān(u).
(Allah) Yang Maha Pengasih,
Refrain 'Fabiayyi ala'i rabbikuma tukadziban', nikmat mana yang kalian dustakan?
Surah Ar-Rahman menyoroti nikmat Allah yang tak terhingga dan kekuasaan-Nya melalui penciptaan alam semesta dan segala isinya, mengingatkan manusia dan jin untuk mensyukuri setiap anugerah-Nya. Surah ini menekankan keesaan dan keagungan Allah sebagai sumber segala kebaikan dan keindahan, menyerukan perenungan atas tanda-tanda kebesaran-Nya yang terpampang jelas di seluruh ciptaan-Nya. Ini adalah peringatan bagi mereka yang ingkar.
Surah ini menjabarkan limpahan rahmat Allah di alam semesta dan menuntut pengakuan syukur dari manusia serta jin.
Surah Ar-Rahman berpusat pada manifestasi kasih sayang Allah (Ar-Rahman) yang tak terbatas kepada seluruh makhluk-Nya. Allah memaparkan berbagai nikmat, mulai dari pengajaran Al-Quran, penciptaan manusia dan alam semesta, hingga keseimbangan tata surya dan lautan. Semua ini adalah bukti nyata dari keagungan dan kemurahan-Nya.
Selain memaparkan nikmat duniawi, surah ini juga memberikan gambaran yang sangat kontras antara kehancuran dunia pada hari kiamat dan keabadian Allah. Peringatan tentang hisab disandingkan dengan deskripsi surga yang sangat indah dan bertingkat-tingkat, yang disediakan bagi mereka yang bertakwa.
Ciri khas utama surah ini adalah pengulangan ayat 'Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' sebanyak 31 kali. Pengulangan ini berfungsi sebagai teguran keras sekaligus ajakan lembut bagi manusia dan jin untuk berhenti menyombongkan diri dan mulai mensyukuri setiap karunia sekecil apa pun.
Surah ini diturunkan untuk membantah kaum musyrikin yang enggan mengakui nama Ar-Rahman. Allah menurunkannya sebagai pengingat bagi dua golongan besar, manusia dan jin, agar mereka menyadari kelemahan mereka di hadapan nikmat Tuhan yang tak terhitung jumlahnya.
Surah sebelumnya, Al-Qamar, banyak membahas azab dan kehancuran umat terdahulu yang ingkar. Surah Ar-Rahman hadir setelahnya untuk menyeimbangkan dengan memaparkan luasnya rahmat Allah. Setelah itu, Surah Al-Waqi'ah melanjutkan tema akhirat dengan membagi manusia ke dalam tiga golongan saat kiamat terjadi.
Situasi Merasa hidup penuh kekurangan dan sering mengeluh tentang rezeki.
Pesan surah Allah telah memberikan nikmat yang tak terhitung, dari nafas hingga alam yang seimbang. Mengeluh berarti melupakan nikmat yang sudah ada.
Langkah kecil Tuliskan tiga hal baik yang terjadi hari ini dan ucapkan Alhamdulillah dari hati.
Situasi Melihat ketidakadilan atau kerusakan lingkungan di sekitar kita.
Pesan surah Allah menciptakan alam semesta dengan keseimbangan (mizan). Kita dilarang merusak keseimbangan tersebut dalam bentuk apa pun.
Langkah kecil Kurangi penggunaan plastik hari ini atau bantu selesaikan perselisihan kecil dengan adil.
Situasi Kehilangan motivasi dalam beribadah atau berbuat baik karena merasa lelah.
Pesan surah Balasan dari kebaikan adalah kebaikan pula. Surga yang dijanjikan Allah sangat nyata dan sepadan dengan rasa lelah di dunia.
Langkah kecil Lakukan satu sedekah tersembunyi hari ini dengan niat mengharap balasan surga-Nya.
Surah ini mengulang pertanyaan tentang nikmat mana yang didustakan. Ini menuntut kita untuk secara aktif menyadari dan mengakui nikmat Allah setiap hari, bukan sekadar menjadikannya kebiasaan pasif.
Cara praktis Setiap selesai shalat fardhu, luangkan waktu satu menit untuk memikirkan satu nikmat spesifik yang jarang disyukuri, lalu ucapkan Alhamdulillah.
Hari ini, temukan tiga nikmat kecil yang sering Anda abaikan, lalu ucapkan Alhamdulillah dengan penuh kesadaran.
اَلرَّحْمٰنُۙ
Ar-raḥmān(u).
(Allah) Yang Maha Pengasih,
عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ
‘Allamal-qur'ān(a).
telah mengajarkan Al-Qur’an.
خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ
Khalaqal-insān(a).
Dia menciptakan manusia.
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
‘Allamahul-bayān(a).
Dia mengajarinya pandai menjelaskan.
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ
Asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān(in).
Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan.
وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ
Wan-najmu wasy-syajaru yasjudān(i).
Tetumbuhan dan pepohonan tunduk (kepada-Nya).
وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ
Was-samā'a rafa‘ahā wa waḍa‘al-mīzān(a).
Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan)
اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ
Allā taṭgau fil-mīzān(i).
agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu.
وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ
Wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān(a).
Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu.
وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِۙ
Wal-arḍa waḍa‘ahā lil-anām(i).
Bumi telah Dia bentangkan untuk makhluk(-Nya).
فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِۖ
Fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām(i).
Padanya terdapat buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُۚ
Wal-ḥabbu żul-‘aṣfi war-raiḥān(u).
biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
Khalaqal-insāna min ṣalṣālin kal-fakhkhār(i).
Dia telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.
وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ
Wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār(in).
Dia juga telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِۚ
Rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribain(i).
(Dialah) Tuhan kedua tempat terbit (matahari pada musim panas dan musim dingin) dan Tuhan kedua tempat terbenam (matahari pada kedua musim itu).
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
.Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ
Marajal-baḥraini yaltaqiyān(i).
Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu.
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ
Bainahumā barzakhul lā yabgiyān(i).
Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُۚ
Yakhruju minhumal-lu'lu'u wal-marjān(u).
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَاٰتُ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِۚ
Wa lahul-jawāril-munsya'ātu fil-baḥri kal-a‘lām(i).
Milik-Nyalah (bahtera) buatan manusia yang berlayar di laut laksana gunung-gunung.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ ࣖ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ
Kullu man ‘alaihā fān(in).
Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa.
وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ
Wa yabqā wajhu rabbika żul-jalāli wal-ikrām(i).
(Akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
يَسْـَٔلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍۚ
Yas'aluhū man fis-samāwāti wal-arḍ(i), kulla yaumin huwa fī sya'n(in).
Siapa yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap hari Dia menangani urusan.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
Telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Makhlad] telah menceritakan kepada kami [Sulaiman] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Dinar] dari [Abu S…
(Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari [Abu Hurairah]-) Allah berfirman: "Berinfaklah engkau, niscya aku memberi infak kepada…
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdurrahman bin Sahm] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] telah mengkhabarkan kepada kami […
Dalam perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian, seringkali hati kita goyah ketika ujian datang menerpa. Allah Subhanahu wa Taala berfirman dalam QS. Ar-Rah…
Dalam mengarungi ujian hidup, seringkali hati merasa sesak oleh ketidakpastian. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan penawar yang agung dalam Surat Ar-Rahman…
Dalam Surat Ar-Rahman ayat 28, Allah berfirman, Fabi-ayyi ala-i Rabbikuma tukadzdziban (Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?). Ayat ini adalah pen…