ٱلرَّحْمَـٰنُ
Ar-raḥmān(u).
(Allah) Yang Maha Pengasih,
الرحمن
Maha Pengasih · 78 ayat
Surah Ar-Rahman menyoroti nikmat Allah yang tak terhingga dan kekuasaan-Nya melalui penciptaan alam semesta dan segala isinya, mengingatkan manusia dan jin untuk mensyukuri setiap anugerah-Nya. Surah ini menekankan keesaan dan keagungan Allah sebagai sumber segala kebaikan dan keindahan, menyerukan perenungan atas tanda-tanda kebesaran-Nya yang terpampang jelas di seluruh ciptaan-Nya. Ini adalah peringatan bagi mereka yang ingkar.
Surah ini menjabarkan limpahan rahmat Allah di alam semesta dan menuntut pengakuan syukur dari manusia serta jin.
Surah Ar-Rahman berpusat pada manifestasi kasih sayang Allah (Ar-Rahman) yang tak terbatas kepada seluruh makhluk-Nya. Allah memaparkan berbagai nikmat, mulai dari pengajaran Al-Quran, penciptaan manusia dan alam semesta, hingga keseimbangan tata surya dan lautan. Semua ini adalah bukti nyata dari keagungan dan kemurahan-Nya.
Selain memaparkan nikmat duniawi, surah ini juga memberikan gambaran yang sangat kontras antara kehancuran dunia pada hari kiamat dan keabadian Allah. Peringatan tentang hisab disandingkan dengan deskripsi surga yang sangat indah dan bertingkat-tingkat, yang disediakan bagi mereka yang bertakwa.
Ciri khas utama surah ini adalah pengulangan ayat 'Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' sebanyak 31 kali. Pengulangan ini berfungsi sebagai teguran keras sekaligus ajakan lembut bagi manusia dan jin untuk berhenti menyombongkan diri dan mulai mensyukuri setiap karunia sekecil apa pun.
Surah ini diturunkan untuk membantah kaum musyrikin yang enggan mengakui nama Ar-Rahman. Allah menurunkannya sebagai pengingat bagi dua golongan besar, manusia dan jin, agar mereka menyadari kelemahan mereka di hadapan nikmat Tuhan yang tak terhitung jumlahnya.
Surah sebelumnya, Al-Qamar, banyak membahas azab dan kehancuran umat terdahulu yang ingkar. Surah Ar-Rahman hadir setelahnya untuk menyeimbangkan dengan memaparkan luasnya rahmat Allah. Setelah itu, Surah Al-Waqi'ah melanjutkan tema akhirat dengan membagi manusia ke dalam tiga golongan saat kiamat terjadi.
Situasi Merasa hidup penuh kekurangan dan sering mengeluh tentang rezeki.
Pesan surah Allah telah memberikan nikmat yang tak terhitung, dari nafas hingga alam yang seimbang. Mengeluh berarti melupakan nikmat yang sudah ada.
Langkah kecil Tuliskan tiga hal baik yang terjadi hari ini dan ucapkan Alhamdulillah dari hati.
Situasi Melihat ketidakadilan atau kerusakan lingkungan di sekitar kita.
Pesan surah Allah menciptakan alam semesta dengan keseimbangan (mizan). Kita dilarang merusak keseimbangan tersebut dalam bentuk apa pun.
Langkah kecil Kurangi penggunaan plastik hari ini atau bantu selesaikan perselisihan kecil dengan adil.
Situasi Kehilangan motivasi dalam beribadah atau berbuat baik karena merasa lelah.
Pesan surah Balasan dari kebaikan adalah kebaikan pula. Surga yang dijanjikan Allah sangat nyata dan sepadan dengan rasa lelah di dunia.
Langkah kecil Lakukan satu sedekah tersembunyi hari ini dengan niat mengharap balasan surga-Nya.
Surah ini mengulang pertanyaan tentang nikmat mana yang didustakan. Ini menuntut kita untuk secara aktif menyadari dan mengakui nikmat Allah setiap hari, bukan sekadar menjadikannya kebiasaan pasif.
Cara praktis Setiap selesai shalat fardhu, luangkan waktu satu menit untuk memikirkan satu nikmat spesifik yang jarang disyukuri, lalu ucapkan Alhamdulillah.
Hari ini, temukan tiga nikmat kecil yang sering Anda abaikan, lalu ucapkan Alhamdulillah dengan penuh kesadaran.
9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.
Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى…
Telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Makhlad] telah menceritakan kepada kami [Sulaiman] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Dinar] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anh…
وَبِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ اللَّهُ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
(Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya -dari [Abu Hurairah]-) Allah berfirman: "Berinfaklah engkau, niscya aku memberi infak kepadamu."
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَهْمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ ح و حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِي…
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdurrahman bin Sahm] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] telah mengkhabarkan kepada kami [Malik bin Anas]. Telah menceritakan kepada …
Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.
Dalam perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian, seringkali hati kita goyah ketika ujian datang menerpa. Allah Subhanahu wa Taala berfirman dalam QS. Ar-Rahman ayat 30: Fabi-ayyi ala-i Rabbikuma t…
Dalam mengarungi ujian hidup, seringkali hati merasa sesak oleh ketidakpastian. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan penawar yang agung dalam Surat Ar-Rahman ayat 29: yasaluhu man fis-samawati wal-…
Dalam Surat Ar-Rahman ayat 28, Allah berfirman, Fabi-ayyi ala-i Rabbikuma tukadzdziban (Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?). Ayat ini adalah pengulangan yang menegaskan tema sentral su…
Dalam mengarungi ujian kehidupan yang mengguncang rasa aman, seringkali kita terjebak dalam ketergantungan pada sebab-sebab duniawi yang fana. Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rahman ayat 27: Wa…
Dalam mengarungi kehidupan yang penuh ketidakpastian, seringkali manusia terjebak dalam kecemasan berlebihan terhadap hasil. Padahal, Allah SWT telah menetapkan hakikat dunia dalam Surat Ar-Rahman…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Warna Tajwid
Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.
✓ Warna aktif
Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).
ٱلرَّحْمَـٰنُ
Ar-raḥmān(u).
(Allah) Yang Maha Pengasih,
عَلَّمَ ٱلْقُرْءَانَ
‘Allamal-qur'ān(a).
telah mengajarkan Al-Qur’an.
خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ
Khalaqal-insān(a).
Dia menciptakan manusia.
عَلَّمَهُ ٱلْبَيَانَ
‘Allamahul-bayān(a).
Dia mengajarinya pandai menjelaskan.
ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
Asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān(in).
Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan.
وَٱلنَّجْمُ وَٱلشَّجَرُ يَسْجُدَانِ
Wan-najmu wasy-syajaru yasjudān(i).
Tetumbuhan dan pepohonan tunduk (kepada-Nya).
وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلْمِيزَانَ
Was-samā'a rafa‘ahā wa waḍa‘al-mīzān(a).
Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan)
أَلَّا تَطْغَوْاْ فِى ٱلْمِيزَانِ
Allā taṭgau fil-mīzān(i).
agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu.
وَأَقِيمُواْ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُواْ ٱلْمِيزَانَ
Wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān(a).
Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu.
وَٱلْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ
Wal-arḍa waḍa‘ahā lil-anām(i).
Bumi telah Dia bentangkan untuk makhluk(-Nya).
فِيهَا فَـٰكِهَةٌ وَٱلنَّخْلُ ذَاتُ ٱلْأَكْمَامِ
Fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām(i).
Padanya terdapat buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
وَٱلْحَبُّ ذُو ٱلْعَصْفِ وَٱلرَّيْحَانُ
Wal-ḥabbu żul-‘aṣfi war-raiḥān(u).
biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِن صَلْصَـٰلٍ كَٱلْفَخَّارِ
Khalaqal-insāna min ṣalṣālin kal-fakhkhār(i).
Dia telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.
وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ
Wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār(in).
Dia juga telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
رَبُّ ٱلْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ ٱلْمَغْرِبَيْنِ
Rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribain(i).
(Dialah) Tuhan kedua tempat terbit (matahari pada musim panas dan musim dingin) dan Tuhan kedua tempat terbenam (matahari pada kedua musim itu).
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
.Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
Marajal-baḥraini yaltaqiyān(i).
Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu.
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ
Bainahumā barzakhul lā yabgiyān(i).
Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
يَخْرُجُ مِنْهُمَا ٱللُّؤْلُؤُ وَٱلْمَرْجَانُ
Yakhruju minhumal-lu'lu'u wal-marjān(u).
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
وَلَهُ ٱلْجَوَارِ ٱلْمُنشَـَٔـاتُ فِى ٱلْبَحْرِ كَٱلْأَعْلَـٰمِ
Wa lahul-jawāril-munsya'ātu fil-baḥri kal-a‘lām(i).
Milik-Nyalah (bahtera) buatan manusia yang berlayar di laut laksana gunung-gunung.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
Kullu man ‘alaihā fān(in).
Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa.
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَـٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ
Wa yabqā wajhu rabbika żul-jalāli wal-ikrām(i).
(Akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
يَسْــَٔلُهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضِۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ
Yas'aluhū man fis-samāwāti wal-arḍ(i), kulla yaumin huwa fī sya'n(in).
Siapa yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap hari Dia menangani urusan.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَ ٱلثَّقَلَانِ
Sanafrugu lakum ayyuhaṡ-ṡaqalān(i).
Kami akan mencurahkan perhatian kepadamu, wahai manusia dan jin.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
يَـٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ إِنِ ٱسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُواْ مِنْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَـٰنٍ
Yā ma‘syaral-jinni wal-insi inistaṭa‘tum an tanfużū min aqṭāris-samāwāti wal-arḍi fanfużū, lā tanfużūna illā bisulṭān(in).
Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنتَصِرَانِ
Yursalu ‘alaikumā syuwāẓum min nār(in), wa nuḥāsun falā tantaṣirān(i).
Kepadamu, (wahai jin dan manusia,) disemburkan nyala api dan (ditumpahkan) cairan tembaga panas sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فَإِذَا ٱنشَقَّتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَٱلدِّهَانِ
Fa iżansyaqqatis-samā'u fa kānat wardatan kad-dihān(i).
Maka, apabila langit terbelah, lalu (warnanya) menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak, (terjadilah kengerian yang hebat).
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُسْــَٔلُ عَن ذَنۢبِهِۦٓ إِنسٌ وَلَا جَآنٌّ
Fa yauma'iżil lā yus'alu ‘an żambihī insuw wa lā jānn(un).
Maka, pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
يُعْرَفُ ٱلْمُجْرِمُونَ بِسِيمَـٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِٱلنَّوَٲصِى وَٱلْأَقْدَامِ
Yu‘raful-mujrimūna bisīmāhum fa yu'khażu bin-nawāṣī wal-aqdām(i).
Para pendosa dikenali dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
هَـٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِى يُكَذِّبُ بِهَا ٱلْمُجْرِمُونَ
Hāżihī jahannamul-latī yukażżibu bihal-mujrimūn(a).
Inilah (neraka) Jahanam yang didustakan oleh para pendosa.
يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ ءَانٍ
Yaṭūfūna bainahā wa baina ḥamīmin ān(in).
Mereka bolak-balik di antaranya (api neraka) dan air mendidih yang sangat panas.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ
Wa liman khāfa maqāma rabbihī jannatān(i).
Bagi siapa yang takut pada keagungan Tuhannya disediakan dua surga.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
ذَوَاتَآ أَفْنَانٍ
Żawātā afnān(in).
Kedua surga itu mempunyai (pepohonan) yang bercabang-cabang.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fabi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ
Fīhimā ‘aināni tajriyān(i).
Di dalam kedua (surga) itu terdapat dua mata air yang memancar.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فِيهِمَا مِن كُلِّ فَـٰكِهَةٍ زَوْجَانِ
Fīhimā min kulli fākihatin zaujān(i).
Di dalam kedua (surga) itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
مُتَّكِــِٔينَ عَلَىٰ فُرُشِۭ بَطَآئِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍۚ وَجَنَى ٱلْجَنَّتَيْنِ دَانٍ
Muttaki'īna ‘alā furusyim baṭā'inuhā min istabraq(in), wa janal-jannataini dān(in).
Mereka berbaring di atas permadani yang bagian dalamnya (terbuat) dari sutera tebal. Buah-buahan di kedua surga itu (dapat) dipetik dari dekat.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فِيهِنَّ قَـٰصِرَٲتُ ٱلطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَآنٌّ
Fīhinna qāṣirātuṭ-ṭarf(i), lam yaṭmiṡhunna insun qablahum wa lā jānn(un).
Di dalamnya ada (bidadari) yang membatasi pandangan (hanya untuk pasangannya) yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak (pula) oleh jin.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
كَأَنَّهُنَّ ٱلْيَاقُوتُ وَٱلْمَرْجَانُ
Ka'annahunnal-yāqūtu wal-marjān(u).
Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَـٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَـٰنُ
Hal jazā'ul-iḥsāni illal-iḥsān(u).
Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)?
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ
Wa min dūnihimā jannatān(i).
Selain dari kedua (surga) itu ada dua surga (lagi).
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
مُدْهَآمَّتَانِ
Mudhāmmatān(i).
Kedua surga itu (terlihat warnanya) hijau tua.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ
Fīhimā ‘aināni naḍḍākhatān(i).
Di dalam keduanya ada dua mata air yang memancar tanpa henti.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فِيهِمَا فَـٰكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ
Fīhimā fākihatuw wa nakhluw wa rummān(un).
Di dalam keduanya ada buah-buahan (antara lain) kurma dan delima.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
فِيهِنَّ خَيْرَٲتٌ حِسَانٌ
Fīhinna khairātun ḥisān(un).
Di dalamnya ada (bidadari) yang mulia (akhlaknya) lagi jelita.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
حُورٌ مَّقْصُورَٲتٌ فِى ٱلْخِيَامِ
Ḥūrum maqṣūrātun fil-khiyām(i).
Bidadari-bidadari yang dipingit dalam kemah-kemah.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَآنٌّ
Lam yaṭmiṡhunna insun qablahum wa lā jānn(un).
Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak (pula) oleh jin.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
مُتَّكِــِٔينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِىٍّ حِسَانٍ
Muttaki'īna ‘alā rafrafin khuḍriw wa ‘abqariyyin ḥisān(in).
Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
تَبَـٰرَكَ ٱسْمُ رَبِّكَ ذِى ٱلْجَلَـٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ
Tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām(i).
Maha Berkah nama Tuhanmu Pemilik keagungan dan kemuliaan.