اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ
Iżā waqa‘atil-wāqi‘ah(tu).
Apabila terjadi hari Kiamat (yang pasti terjadi),
Sabiqun, ashabul yamin, ashabul syimal: tiga golongan manusia dan nasib mereka di akhirat.
Surah Al-Waqi'ah berpusat pada penegasan realitas Hari Kiamat, menjelaskan peristiwa-peristiwa dahsyat yang menyertainya, serta membagi manusia menjadi tiga golongan berdasarkan amal perbuatannya di dunia: Ashab al-Maymanah, Ashab al-Mash'amah, dan As-Sabiqun. Surah ini juga menekankan kebenaran wahyu dan kekuasaan Allah.
Menjelaskan kepastian datangnya hari Kiamat dan pembagian manusia menjadi tiga golongan berdasarkan amal perbuatan mereka di dunia.
Surah Al-Waqi'ah berpusat pada kepastian hari Kiamat yang merupakan peristiwa mutlak dan tidak dapat didustakan oleh siapa pun. Allah menegaskan kekuasaan-Nya yang agung dalam menciptakan manusia, menumbuhkan tanaman, menurunkan hujan, dan menciptakan api sebagai bukti logis bahwa Dia juga Maha Mampu membangkitkan manusia setelah mati.
Selain itu, surah ini merinci secara indah dan menakutkan tentang nasib tiga golongan manusia di akhirat: golongan yang terdahulu dalam kebaikan (as-sabiqun), golongan kanan (ashabul yamin), dan golongan kiri (ashabus syimal). Pesan moral yang dominan adalah ajakan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah dan mempersiapkan bekal iman terbaik sebelum hari perhitungan tiba.
Surah ini diturunkan di Makkah saat kaum musyrikin secara terang-terangan meragukan dan mendustakan kebangkitan setelah kematian. Allah menurunkannya untuk membantah keraguan mereka dengan memberikan bukti-bukti nyata dari alam semesta yang mereka saksikan setiap hari. Pesan ini sangat menguatkan hati umat Islam awal yang saat itu sedang menghadapi penolakan dan ejekan dari masyarakatnya.
Surah sebelumnya, Ar-Rahman, menyebutkan berbagai nikmat Allah di dunia dan akhirat serta diakhiri dengan pujian atas keagungan nama-Nya. Al-Waqi'ah melanjutkan tema tersebut dengan merinci siapa saja manusia yang berhak menerima nikmat surga dan siapa yang menerima azab. Setelah itu, surah Al-Hadid mengajak umat Islam untuk berinfak dan berkorban sebagai bukti keimanan guna meraih derajat tinggi yang telah disebutkan.
Situasi Merasa lelah dengan pekerjaan dan rutinitas harian yang seolah tiada akhir.
Pesan surah Ingatlah bahwa tempat istirahat yang sesungguhnya adalah surga bagi golongan kanan dan orang-orang yang terdepan dalam amal.
Langkah kecil Niatkan lelah bekerja hari ini sebagai ibadah untuk mencari rezeki yang halal.
Situasi Menghadapi krisis finansial atau kekhawatiran yang berlebihan akan rezeki masa depan.
Pesan surah Allah yang menumbuhkan benih dan menurunkan air hujan, Dia pula yang menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.
Langkah kecil Ucapkan alhamdulillah dengan penuh kesadaran saat makan dan minum hari ini.
Situasi Terlalu sibuk mengejar status sosial dan validasi manusia hingga melupakan ibadah wajib.
Pesan surah Kiamat akan merendahkan orang yang sombong dan meninggikan orang yang taat, apa pun status dunianya.
Langkah kecil Lakukan satu kebaikan secara sembunyi-sembunyi yang tidak diketahui oleh orang lain.
Surah ini secara khusus mengajak kita merenungkan air, api, dan makanan sebagai bukti kekuasaan Allah. Mensyukuri hal-hal mendasar ini akan menjaga hati dari kesombongan dan kelalaian terhadap Sang Pencipta.
Cara praktis Berhentilah sejenak sebelum minum air putih, sadari proses panjang air tersebut hingga sampai ke tangan Anda, lalu bacalah bismillah.
Hari ini, perhatikan satu makanan atau minuman yang Anda konsumsi, lalu renungkan kebesaran Allah yang menciptakannya khusus untuk Anda.
اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ
Iżā waqa‘atil-wāqi‘ah(tu).
Apabila terjadi hari Kiamat (yang pasti terjadi),
لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ ۘ
Laisa liwaq‘atihā kāżibah(tun).
tidak ada seorang pun yang (dapat) mendustakan terjadinya.
خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ
Khāfiḍatur rāfi‘ah(tun).
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ
Iżā rujjatil-arḍu rajjā(n).
Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya
وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ
Wa bussatil-jibālu bassā(n).
dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya,
فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ
Fa kānat habā'am mumbaṡṡā(n).
jadilah ia debu yang beterbangan.
وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةً ۗ
Wa kuntum azwājan ṡalāṡah(tan).
Kamu menjadi tiga golongan,
فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ۗ
Fa aṣḥābul-maimanah(ti), mā aṣḥābul-maimanah(ti).
yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu
وَاَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ۗ
Wa aṣḥābul-masy'amah(ti), mā aṣḥābul-masy'amah(ti).
dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ
Was-sābiqūnas-sābiqūn(a).
Selain itu, (golongan ketiga adalah) orang-orang yang paling dahulu (beriman). Merekalah yang paling dahulu (masuk surga).
اُولٰۤىِٕكَ الْمُقَرَّبُوْنَۚ
Ulā'ikal-muqarrabūn(a).
Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).
فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
Fī jannātin-na‘īm(i).
(Mereka) berada dalam surga (yang penuh) kenikmatan.
ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ
Ṡullatum minal-awwalīn(a).
(Mereka adalah) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu
وَقَلِيْلٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ
Wa qalīlum minal-ākhirīn(a).
dan sedikit dari orang-orang yang (datang) kemudian.
عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ
‘Alā sururim mauḍūnah(tin).
(Mereka berada) di atas dipan-dipan yang bertatahkan emas dan permata
مُّتَّكِـِٕيْنَ عَلَيْهَا مُتَقٰبِلِيْنَ
Muttaki'īna ‘alaihā mutaqābilīn(a).
seraya bersandar di atasnya saling berhadapan.
يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَۙ
Yaṭūfu ‘alaihim wildānum mukhalladūn(a).
Mereka dikelilingi oleh anak-anak yang selalu muda
بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ
Bi'akwābiw wa abārīq(a), wa ka'sim mim ma‘īn(in).
dengan (membawa) gelas, kendi, dan seloki (berisi minuman yang diambil) dari sumber yang mengalir.
لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَۙ
Lā yuṣadda‘ūna ‘anhā wa lā yunzifūn(a).
Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.
وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ
Wa fākihatim mimmā yatakhayyarūn(a).
(Mereka menyuguhkan pula) buah-buahan yang mereka pilih
وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ
Wa laḥmi ṭairim mimmā yasytahūn(a).
dan daging burung yang mereka sukai.
وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ
Wa ḥūrun ‘īn(un).
Ada bidadari yang bermata indah
كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ
Ka'amṡālil-lu'lu'il-maknūn(i).
laksana mutiara yang tersimpan dengan baik
جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Jazā'am bimā kānū ya‘malūn(a).
sebagai balasan atas apa yang selama ini mereka kerjakan.
لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا تَأْثِيْمًاۙ
Lā yasma‘ūna fīhā lagwaw wa lā ta'ṡīmā(n).
Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak (pula) percakapan yang menimbulkan dosa,
اِلَّا قِيْلًا سَلٰمًا سَلٰمًا
Illā qīlan salāman salāmā(n).
kecuali (yang mereka dengar hanyalah) ucapan, “Salam… salam.”
Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Abdullah] Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah radliallahu 'an…
Dan dari [Hisyam] dari [bapaknya] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] bahwa ia berwasiat kepada 'Abdullah bin Az Zubair radliallahu 'anhuma: "Janganlah kamu men…
Dan telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb] dan [Utsman bin Abu Syaibah] dan [Ishaq bin Ibrahim] -Ishaq- berkata, telah mengabarkan kepada kami -dua…
Dalam surah Al-Waqi'ah ayat 26, Allah SWT menggambarkan suasana ketenangan mutlak bagi penghuni surga. Ayat ini merupakan kelanjutan dari deskripsi kenikmata…
Dalam meniti jalan tawakal, hati sering kali diguncang oleh bisikan kekhawatiran dan prasangka buruk terhadap masa depan. Allah SWT menenangkan jiwa orang be…
Dalam meniti jalan kehidupan, seringkali hati diliputi kegelisahan akan hasil akhir dari usaha yang kita lakukan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menenangkan jiwa…