← Kembali ke pelajaran
Hari 93 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Waqi'ah (Hari Kiamat) adalah surah Makkiyah, sebagaimana disepakati oleh mayoritas ulama tafsir. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyatakan bahwa surah ini turun di Mekah sebelum hijrah, demikian pula pendapat Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an dan Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai status Makkiyah surah ini.

Mengenai urutan turunnya, terdapat riwayat dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menyebutkan bahwa surah Al-Waqi'ah turun setelah surah Thaha (20) dan sebelum surah Asy-Syu'ara' (26). Riwayat ini dikutip oleh As-Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an dan juga oleh Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meskipun tanpa menyebutkan peristiwa khusus. Urutan ini menunjukkan bahwa surah ini termasuk dalam periode pertengahan hingga akhir dakwah Mekah, ketika tekanan kaum Quraisy semakin keras dan ayat-ayat tentang hari akhir sering turun untuk memperkuat keimanan para sahabat serta menantang kaum musyrik yang mengingkari hari kebangkitan.

Periode turunnya adalah fase Mekah yang penuh ujian. Kaum musyrik Quraisy tidak hanya mendustakan wahyu, tetapi juga menyiksa pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Surah Al-Waqi'ah hadir untuk menggambarkan secara gamblang kejadian hari Kiamat dan pembagian manusia menjadi tiga golongan, sehingga memberikan motivasi bagi kaum mukminin untuk bersabar dan tetap istiqamah.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Para ulama seperti Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul, As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, dan At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an tidak menyebutkan riwayat sebab khusus (sabab nuzul) yang spesifik untuk surah Al-Waqi'ah secara keseluruhan. Tidak ada peristiwa tunggal yang diriwayatkan sebagai latar langsung turunnya surah ini. Namun demikian, beberapa ayat di dalamnya memiliki konteks yang terkait dengan pertanyaan atau sikap kaum musyrik.

At-Tabari, misalnya, ketika menafsirkan ayat 1 ("idza waqa'ati al-waqi'ah") meriwayatkan dari Qatadah bahwa maknanya adalah hari Kiamat. Ia juga menyebutkan bahwa ayat-ayat ini turun untuk membantah orang-orang yang meragukan hari kebangkitan, seperti yang disebutkan dalam firman Allah: "Bahkan mereka berkata: 'Mengapa tidak ada tanda-tanda kekuasaan Allah yang diturunkan kepadanya?"' (Q.S. Al-Ankabut: 50) dan "Mereka berkata: 'Apakah apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?'" (Q.S. Al-Waqi'ah: 47 – termasuk dalam bagian akhir surah).

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya juga tidak menukil asbab nuzul khusus. Beliau hanya menjelaskan bahwa surah ini menerangkan peristiwa hari Kiamat yang pasti terjadi.

2.2 Versi Riwayat Lain dan Komentar Ulama

Meskipun tidak ada sebab khusus untuk keseluruhan surah, terdapat riwayat yang berkaitan dengan sebagian ayat. Misalnya, As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul meriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Qatadah bahwa firman Allah: "Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu" (ayat 9) turun berkenaan dengan orang-orang yang kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun riwayat ini tidak memiliki sanad yang kuat dan lebih merupakan tafsir dari Qatadah.

Juga terdapat riwayat bahwa ketika ayat 7-9 turun (tentang tiga golongan), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggenggam tangannya dan bersabda: "Ini (genggaman kanan) adalah ahli surga dan tidak perlu aku perhatikan, dan ini (genggaman kiri) adalah ahli neraka dan tidak perlu aku perhatikan.” Riwayat ini dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Meskipun hadits ini shahih, ia tidak menyebutkan bahwa ayat tersebut turun karena peristiwa tertentu; justru Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan ayat tersebut setelah turun.

Kesimpulannya, para ulama tidak mencatat satu peristiwa khusus yang menjadi sabab nuzul bagi surah Al-Waqi'ah. Yang ada adalah konteks umum dakwah di Mekah, di mana kaum musyrik terus-menerus menantang dan mendustakan hari kebangkitan.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Sebagaimana disebutkan, Imam Ibn Kathir, As-Suyuti, dan Al-Wahidi tidak menyebut riwayat sebab khusus untuk surah ini. Oleh karena itu, pembahasan asbab an-nuzul untuk surah Al-Waqi'ah lebih bersifat kontekstual-historis. Surah ini merupakan respons Al-Qur'an terhadap lingkungan Mekah yang penuh dengan kemusyrikan dan pengingkaran terhadap hari akhir. Banyak ayat dalam surah ini yang menantang orang-orang kafir untuk merenungkan penciptaan mereka, seperti pada ayat 57-59: "Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan? Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan..." Ini menunjukkan bahwa surah ini turun sebagai jawaban atas keraguan kaum musyrik tentang kuasa Allah membangkitkan manusia kembali.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah Al-Waqi'ah turun pada masa dakwah Mekah yang sangat berat. Kaum Quraisy dengan keras menentang ajaran tauhid dan hari kebangkitan. Mereka mempertanyakan bagaimana tulang-belulang yang telah hancur dapat dihidupkan kembali (sebagaimana dalam surah Yasin: 78). Surah ini memberikan penjelasan gamblang melalui tiga golongan manusia pada hari Kiamat.

Kondisi sosial-ekonomi Quraisy pada saat itu cukup makmur, namun mereka tamak dan sombong. Mereka menolak kenabian karena khawatir kehilangan status dan kekuasaan. Sahabat-sahabat awal seperti Bilal, Khabbab, dan Ammar ditindas secara fisik karena iman mereka. Dalam situasi seperti ini, surah Al-Waqi'ah menegaskan bahwa pada hari Kiamat nanti, akan ada golongan yang ditinggikan (ashabul yamin dan sabiqun) dan golongan yang direndahkan (ashabusy syimal). Hal ini memberikan harapan besar bagi kaum mukminin yang lemah secara ekonomi tetapi kuat secara iman, bahwa mereka akan mendapatkan kedudukan mulia di surga.

Tantangan dakwah pada periode ini adalah bagaimana menanamkan keyakinan akan adanya kehidupan setelah mati. Surah Al-Waqi'ah menjawab tantangan tersebut dengan pemaparan yang sangat detail: mulai dari guncangan dahsyat bumi, kehancuran gunung-gunung, hingga kenikmatan surga yang luar biasa. Semua itu menggugah akal dan hati manusia untuk merenungkan hakikat kehidupan.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral surah Al-Waqi'ah adalah hari Kiamat dan klasifikasi manusia berdasarkan amal mereka. Tiga golongan yang disebutkan adalah:

  1. As-Sabiqun (yang paling dahulu beriman dan beramal saleh) – mereka ditempatkan di surga tertinggi (Jannat an-Na'im).
  2. Ashabul Yamin (golongan kanan) – mereka juga mendapat surga, dengan kenikmatan yang banyak.
  3. Ashabusy Syimal (golongan kiri) – mereka mendapat azab neraka.

Inti pesan utamanya adalah meyakinkan manusia tentang kepastian datangnya hari Kiamat dan memberi peringatan serta kabar gembira sesuai dengan amal perbuatan.

Imam Ibn Kathir menjelaskan bahwa surah ini menggambarkan kedahsyatan hari Kiamat dengan tiga benturan: guncangan bumi, hancurnya gunung, dan beterbangannya debu. At-Tabari menekankan bahwa pada hari itu manusia tidak akan dapat mendustakannya lagi, karena semuanya akan tampak nyata. As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menyoroti bahwa pembagian tiga golongan ini adalah bentuk keadilan Allah dan sekaligus rahmat bagi hamba-Nya.

Munasabah surah Al-Waqi'ah dengan surah sebelumnya (Ar-Rahman 55) sangat jelas: surah Ar-Rahman memaparkan nikmat-nikmat Allah di dunia dan akhirat, sedangkan Al-Waqi'ah memerinci pembagian manusia pada hari pembalasan. Surah ini juga berpasangan dengan surah sesudahnya, Al-Hadid (57), yang berbicara tentang kekuasaan Allah dan keimanan.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan surah Al-Waqi'ah, meskipun perlu diteliti keshahihannya. Di antaranya:

  1. Hadits tentang bacaan setiap malam: Dari Ibn Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membaca surah Al-Waqi'ah setiap malam, maka dia tidak akan ditimpa kefakiran selamanya." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman, no. 2400; Abu Ya'la dalam musnadnya, no. 5010; dan lainnya). Sanad hadits ini dinilai lemah (da'if) oleh sebagian ulama hadits, seperti Al-Albani dalam Da'if al-Jami' no. 5635. Meskipun lemah, amalan membaca surah ini setiap malam tetap dianjurkan karena termasuk membaca Al-Qur'an secara umum.

  2. Hadits tentang surah kekayaan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Surah Al-Waqi'ah adalah surah kekayaan, maka ajarkanlah ia kepada anak-anak kalian." Riwayat ini juga memiliki kelemahan similar.

  3. Hadits shahih tentang tafsir ayat kelompok tangan: Hadits Mu'adz bin Jabal riwayat At-Tirmidzi (no. 3196) dan Ahmad (no. 22046) yang shahih, tentang Nabi menggenggam tangan saat menjelaskan ashabul yamin dan ashabusy syimal. Akan tetapi hadits ini bukan tentang keutamaan surah, melainkan tafsir.

Kesimpulannya, tidak ada hadits shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan surah Al-Waqi'ah. Namun, membaca dan mentadabburi seluruh Al-Qur'an adalah ibadah yang agung, dan surah ini termasuk bagian darinya.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para sahabat dan tabi'in memberikan perhatian besar terhadap surah Al-Waqi'ah.

  • Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan "khafidhatun rafi'ah" (ayat 3) bahwa kiamat merendahkan orang-orang kafir dan meninggikan orang-orang mukmin.
  • Mujahid bin Jabr dan Qatadah menafsirkan "ashabul yamin" sebagai golongan yang berbahagia, dan "ashabusy syimal" sebagai golongan yang celaka.
  • Hasan Basri mengatakan bahwa "as-sabiqun" adalah para nabi dan orang-orang yang mendahului dalam kebaikan.

Imam At-Tabari dan Imam Ibn Katsir sepakat bahwa surah ini adalah gambaran nyata hari Kiamat. Al-Qurthubi memberikan fatwa tentang beberapa hukum dari surah ini, meskipun tidak secara langsung. As-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa perincian tiga golongan adalah untuk memotivasi manusia agar berlomba-lomba dalam kebaikan.

Perbedaan pendapat muncul mengenai makna "al-waqi'ah". Sebagian mengartikan sebagai suara dahsyat, sebagian sebagai kiamat. Akan tetapi mayoritas ulama tafsir menetapkan bahwa ia adalah nama hari Kiamat.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Kepastian Hari Kiamat: Seorang mukmin harus meyakini bahwa kiamat pasti terjadi, sehingga ia akan selalu mempersiapkan bekal amal shaleh.
  2. Klasifikasi Manusia: Tiga golongan mengajarkan bahwa tidak semua manusia sama di hadapan Allah; yang membedakan hanyalah iman dan amal saleh.
  3. Motivasi Menjadi Golongan Sabiqun: Kita dianjurkan untuk tidak hanya menjadi golongan kanan, tetapi berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam kebaikan.
  4. Keadilan Allah: Balasan setimpal bagi setiap amal, baik maupun buruk, menjadikan kita lebih berhati-hati dalam bertindak.
  5. Syukur atas Nikmat Dunia: Setelah membaca gambaran surga, kita semakin bersyukur atas nikmat yang ada di dunia, karena itu adalah pengingat akan nikmat yang lebih besar kelak.

Pelajaran-pelajaran ini sangat relevan bagi pembaca modern yang mungkin tenggelam dalam kesibukan dunia, sehingga surah ini mengingatkan akan tujuan hidup yang hakiki.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Waqi'ah adalah surah yang agung, berbicara tentang hari Kiamat dengan cara yang menggetarkan hati. Pesan utamanya adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dengan iman dan amal saleh. Semoga kita semua termasuk golongan kanan dan sabiqun yang mendapat ridha Allah.

Allahumma faqqihna fi diinika wa 'allimna ma yanfa'una yaa Rabb.

Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adhab an-nar.

Subhanaka rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifun wa salamun 'alal mursalin walhamdu lillahi rabbil 'alamin.

والله أعلم