سُورَةٌ أَنزَلْنَـٰهَا وَفَرَضْنَـٰهَا وَأَنزَلْنَا فِيهَآ ءَايَـٰتِۭ بَيِّنَـٰتٍ لَّعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
سُورَةٌ
أَنزَلْنَـٰهَا
anzalnāhā
Kami telah menurunkannya
وَفَرَضْنَـٰهَا
wafaraḍnāhā
dan Kami telah mewajibkannya
وَأَنزَلْنَا
wa-anzalnā
dan Kami (telah) menurunkan
فِيهَآ
ءَايَـٰتٍۭ
بَيِّنَـٰتٍۢ
لَّعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
tadhakkarūna
kamu mengambil pelajaran
Sūratun anzalnāhā wa faraḍnāhā wa anzalnā fīhā āyātim bayyinātil la‘allakum tażakkarūn(a).
(Inilah) surah yang Kami turunkan, Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum)-nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas agar kamu mengambil pelajaran.
ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِى فَٱجْلِدُواْ كُلَّ وَٲحِدٍ مِّنْهُمَا مِاْئَةَ جَلْدَةٍۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْأَخِرِۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ
ٱلزَّانِيَةُ
al-zāniyatu
pezina wanita
وَٱلزَّانِى
فَٱجْلِدُوا۟
fa-ij'lidū
maka cambuklah
كُلَّ
وَٰحِدٍۢ
wāḥidin
kamu mengambil pelajaran
مِّنْهُمَا
مِا۟ئَةَ
جَلْدَةٍۢ ۖ
وَلَا
تَأْخُذْكُم
takhudh'kum
menahan kalian
بِهِمَا
bihimā
kasihanilah mereka
رَأْفَةٌۭ
rafatun
kasihan kepada mereka
فِى
دِينِ
ٱللَّهِ
إِن
كُنتُمْ
تُؤْمِنُونَ
بِٱللَّهِ
وَٱلْيَوْمِ
ٱلْـَٔاخِرِ ۖ
وَلْيَشْهَدْ
walyashhad
Dan biarkan bersaksi
عَذَابَهُمَا
ʿadhābahumā
azab mereka berdua
طَآئِفَةٌۭ
مِّنَ
ٱلْمُؤْمِنِينَ
l-mu'minīna
orang-orang mukmin
Az-zāniyatu waz-zānī fajlidū kulla wāḥidim minhumā mi'ata jaldah(tan), wa lā ta'khużkum bihimā ra'fatun fī dīnillāhi in kuntum tu'minūna billāhi wal-yaumil-ākhir(i), walyasyhad ‘ażābahumā ṭā'ifatum minal-mu'minīn(a).
Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (melaksanakan) agama (hukum) Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Hendaklah (pelaksanaan) hukuman atas mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang mukmin.
ٱلزَّانِى لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌۚ وَحُرِّمَ ذَٲلِكَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ
ٱلزَّانِى
لَا
يَنكِحُ
إِلَّا
زَانِيَةً
أَوْ
مُشْرِكَةًۭ
mush'rikatan
wanita musyrik
وَٱلزَّانِيَةُ
wal-zāniyatu
dan pezina perempuan
لَا
يَنكِحُهَآ
إِلَّا
زَانٍ
أَوْ
مُشْرِكٌۭ ۚ
mush'rikun
seorang musyrik
وَحُرِّمَ
ذَٰلِكَ
عَلَى
ٱلْمُؤْمِنِينَ
l-mu'minīna
orang-orang mukmin
Az-zānī lā yankiḥu illā zāniyatan au musyrikah(tan), waz-zāniyatu lā yankiḥuhā illā zānin au musyrik(un), wa ḥurrima żālika ‘alal-mu'minīn(a).
Pezina laki-laki tidak pantas menikah, kecuali dengan pezina perempuan atau dengan perempuan musyrik dan pezina perempuan tidak pantas menikah, kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik. Yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.
وَٱلَّذِينَ يَرْمُونَ ٱلْمُحْصَنَـٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُواْ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجْلِدُوهُمْ ثَمَـٰنِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُواْ لَهُمْ شَهَـٰدَةً أَبَدًاۚ وَأُوْلَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَـٰسِقُونَ
وَٱلَّذِينَ
wa-alladhīna
Dan orang-orang yang
يَرْمُونَ
ٱلْمُحْصَنَـٰتِ
l-muḥ'ṣanāti
wanita-wanita yang menjaga kehormatan
ثُمَّ
لَمْ
يَأْتُوا۟
بِأَرْبَعَةِ
شُهَدَآءَ
فَٱجْلِدُوهُمْ
fa-ij'lidūhum
maka cambuklah mereka
ثَمَـٰنِينَ
جَلْدَةًۭ
وَلَا
تَقْبَلُوا۟
لَهُمْ
شَهَـٰدَةً
أَبَدًۭا ۚ
وَأُو۟لَـٰٓئِكَ
هُمُ
ٱلْفَـٰسِقُونَ
l-fāsiqūna
orang-orang fasik
Wal-lażīna yarmūnal-muḥṣanāti ṡumma lam ya'tū bi'arba‘ati syuhadā'a fajlidūhum ṡamānīna jaldataw wa lā taqbalū lahum syahādatan abadā(n), wa ulā'ika humul-fāsiqūn(a).
Orang-orang yang menuduh (berzina terhadap) perempuan yang baik-baik dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (para penuduh itu) delapan puluh kali dan janganlah kamu menerima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik,
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِنۢ بَعْدِ ذَٲلِكَ وَأَصْلَحُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
إِلَّا
ٱلَّذِينَ
alladhīna
orang-orang yang
تَابُوا۟
مِنۢ
بَعْدِ
ذَٰلِكَ
وَأَصْلَحُوا۟
wa-aṣlaḥū
dan memperbaiki
فَإِنَّ
fa-inna
Maka sesungguhnya
ٱللَّهَ
غَفُورٌۭ
رَّحِيمٌۭ
Illal-lażīna tābū mim ba‘di żālika wa aṣlaḥū, fa innallāha gafūrur raḥīm(un).
kecuali mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
وَٱلَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَٲجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمْ فَشَهَـٰدَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَـٰدَٲتِۭ بِٱللَّهِۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ
وَٱلَّذِينَ
wa-alladhīna
Dan orang-orang yang
يَرْمُونَ
أَزْوَٰجَهُمْ
azwājahum
pasangan mereka
وَلَمْ
يَكُن
لَّهُمْ
شُهَدَآءُ
إِلَّآ
أَنفُسُهُمْ
فَشَهَـٰدَةُ
fashahādatu
maka kesaksian
أَحَدِهِمْ
aḥadihim
(dari) salah seorang dari mereka
أَرْبَعُ
شَهَـٰدَٰتٍۭ
بِٱللَّهِ ۙ
إِنَّهُۥ
لَمِنَ
ٱلصَّـٰدِقِينَ
l-ṣādiqīna
orang-orang yang benar
Wal-lażīna yarmūna azwājahum wa lam yakul lahum syuhadā'u illā anfusuhum fa syahādatu aḥadihim arba‘u syahādātim billāh(i), innahū laminaṣ-ṣādiqīn(a).
Orang-orang yang menuduh istrinya berzina, padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian masing-masing orang itu ialah empat kali bersumpah atas (nama) Allah, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.
وَٱلْخَـٰمِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلْكَـٰذِبِينَ
وَٱلْخَـٰمِسَةُ
wal-khāmisatu
dan yang kelima
أَنَّ
لَعْنَتَ
ٱللَّهِ
عَلَيْهِ
إِن
كَانَ
مِنَ
ٱلْكَـٰذِبِينَ
l-kādhibīna
para pendusta
Wal-khāmisatu anna la‘natallāhi ‘alaihi in kāna minal-kāżibīn(a).
(Sumpah) yang kelima adalah bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.
وَيَدْرَؤُاْ عَنْهَا ٱلْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَـٰدَٲتِۭ بِٱللَّهِۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلْكَـٰذِبِينَ
وَيَدْرَؤُا۟
wayadra-u
Tetapi itu akan mencegah
عَنْهَا
ٱلْعَذَابَ
أَن
تَشْهَدَ
أَرْبَعَ
شَهَـٰدَٰتٍۭ
بِٱللَّهِ ۙ
إِنَّهُۥ
لَمِنَ
ٱلْكَـٰذِبِينَ
l-kādhibīna
para pendusta
Wa yadra'u ‘anhal-‘ażāba an tasyhada arba‘a syahādātim billāhi innahū laminal-kāżibīn(a).
Istri itu terhindar dari hukuman apabila dia bersumpah empat kali atas (nama) Allah bahwa dia (suaminya) benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta,
وَٱلْخَـٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيْهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ
وَٱلْخَـٰمِسَةَ
wal-khāmisata
dan yang kelima
أَنَّ
غَضَبَ
ٱللَّهِ
عَلَيْهَآ
إِن
كَانَ
مِنَ
ٱلصَّـٰدِقِينَ
l-ṣādiqīna
orang-orang yang benar
Wal-khāmisata anna gaḍaballāhi ‘alaihā in kāna minaṣ-ṣādiqīn(a).
(Sumpah) yang kelima adalah bahwa kemurkaan Allah atasnya (istri) jika dia (suaminya) itu termasuk orang yang benar.
وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ
وَلَوْلَا
walawlā
Dan sekiranya tidak
فَضْلُ
ٱللَّهِ
عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَتُهُۥ
waraḥmatuhu
dan rahmat-Nya
وَأَنَّ
ٱللَّهَ
تَوَّابٌ
tawwābun
Maha Penerima Tobat
حَكِيمٌ
Wa lau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhū wa annallāha tawwābun ḥakīm(un).
Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu dan (bukan karena) Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan menemui kesulitan).