وَالْفَجْرِۙ
Wal-fajr(i).
Demi waktu fajar,
Sumpah dengan fajar dan sepuluh malam, kisah 'Ad, Tsamud, Fir'aun yang dibinasakan karena melampaui batas.
Surah Al-Fajr menggambarkan pentingnya keadilan Ilahi dan akibat dari kesombongan serta penolakan terhadap kebenaran. Ia menyoroti kisah kaum-kaum terdahulu yang dihancurkan karena kezaliman mereka, sekaligus mengingatkan manusia akan hari penghakiman di mana setiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia.
Surah ini mengingatkan manusia bahwa kekayaan bukanlah tanda kemuliaan dan kemiskinan bukanlah tanda kehinaan di sisi Allah.
Surah Al-Fajr menyoroti hakikat ujian kehidupan yang sering disalahpahami oleh manusia. Banyak yang mengira kelapangan rezeki adalah tanda kasih sayang Allah, sementara kesempitan adalah bentuk penghinaan. Padahal, keduanya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang bersabar.
Lebih lanjut, surah ini menceritakan nasib kaum-kaum terdahulu seperti Aad, Tsamud, dan Firaun yang hancur karena kesombongan dan kezaliman mereka. Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa kekuasaan duniawi tidak akan mampu menahan azab Allah Yang Maha Mengawasi.
Pada akhirnya, surah ini memberikan kabar gembira bagi jiwa-jiwa yang tenang (nafs muthmainnah). Mereka adalah orang-orang yang rida dengan ketetapan Allah dan beramal saleh, sehingga dipersilakan masuk ke dalam surga-Nya dengan penuh kemuliaan.
Surah ini diturunkan di Makkah saat kaum muslimin mengalami penindasan ekonomi dan sosial dari kaum musyrikin. Allah menghibur Nabi Muhammad dan para sahabat dengan menegaskan bahwa kejayaan duniawi kaum kafir hanyalah sementara. Surah ini juga meluruskan pandangan materialistis masyarakat Makkah yang mengukur kemuliaan hanya dari harta.
Surah Al-Fajr memiliki kaitan erat dengan surah sebelumnya, Al-Ghasyiyah, yang menjelaskan balasan bagi orang kafir dan mukmin di akhirat. Al-Fajr melanjutkan tema ini dengan memberikan contoh nyata kaum terdahulu yang diazab karena kekafirannya. Sementara itu, dengan surah sesudahnya, Al-Balad, terdapat persamaan dalam menyoroti pentingnya kepedulian sosial seperti memberi makan orang miskin dan membebaskan budak.
Situasi Merasa sedih dan gagal karena bisnis menurun atau kehilangan pekerjaan.
Pesan surah Kesempitan rezeki bukan berarti Allah menghina atau membenci kita, melainkan ujian kesabaran.
Langkah kecil Ucapkan alhamdulillah ala kulli hal dan cari jalan keluar tanpa menyalahkan takdir.
Situasi Mendapat promosi jabatan atau keuntungan finansial yang besar.
Pesan surah Kelapangan duniawi adalah ujian syukur, bukan tanda bahwa kita pasti mulia di sisi Allah.
Langkah kecil Sisihkan sebagian dari pendapatan hari ini untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan.
Situasi Hati merasa gelisah dengan berbagai tuntutan dan masalah kehidupan sehari-hari.
Pesan surah Ketenangan sejati hanya didapat dengan jiwa yang rida terhadap segala ketetapan Allah.
Langkah kecil Luangkan waktu lima menit setelah salat untuk berzikir dan menata hati agar lebih ikhlas.
Surah ini mengecam mereka yang mencintai harta secara berlebihan dan mengabaikan orang miskin. Memberi sedekah di waktu fajar melatih jiwa untuk tidak serakah dan membangun kepedulian sosial yang nyata.
Cara praktis Siapkan kotak kecil di rumah, masukkan uang sedekah setiap selesai salat Subuh, lalu salurkan secara berkala kepada kaum duafa.
Hari ini, berikan makanan atau bantuan kecil kepada orang yang membutuhkan di sekitar Anda, tanpa mengharapkan pujian dari siapa pun.
وَالْفَجْرِۙ
Wal-fajr(i).
Demi waktu fajar,
وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ
Wa layālin ‘asyr(in).
demi malam yang sepuluh,
وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ
Wasy-syaf‘i wal-watr(i).
demi yang genap dan yang ganjil,
وَالَّيْلِ اِذَا يَسْرِۚ
Wal-laili iżā yasr(i).
dan demi malam apabila berlalu.
هَلْ فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍۗ
Hal fī żālika qasamul liżī ḥijr(in).
Apakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh (orang) yang berakal?
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ
Alam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi‘ād(in).
Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad,
اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ
Irama żātil-‘imād(i).
(yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ
Allatī lam yukhlaq miṡluhā fil-bilād(i).
yang sebelumnya tidak pernah dibangun (suatu kota pun) seperti itu di negeri-negeri (lain)?
وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ
Wa ṡamūdal-lażīna jābuṣ-ṣakhra bil-wād(i).
(Tidakkah engkau perhatikan pula kaum) Samud yang memotong batu-batu besar di lembah
وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَوْتَادِۖ
Wa fir‘auna żil-autād(i).
dan Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)
الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَادِۖ
Allażīna ṭagau fil-bilād(i).
yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,
فَاَكْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَادَۖ
Fa akṡarū fīhal-fasād(a).
lalu banyak berbuat kerusakan di dalamnya (negeri itu),
فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍۖ
Fa ṣabba ‘alaihim rabbuka sauṭa ‘ażāb(in).
maka Tuhanmu menimpakan cemeti azab (yang dahsyat) kepada mereka?
اِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِۗ
Inna rabbaka labil-mirṣād(i).
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.
فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ
Fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhū fa akramahū wa na‘‘amah(ū), fa yaqūlu rabbī akraman(i).
Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.”
وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ
Wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqah(ū), fa yaqūlu rabbī ahānan(i).
Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”
كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَۙ
Kallā bal lā tukrimūnal-yatīm(a).
Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim,
وَلَا تَحٰۤضُّوْنَ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۙ
Wa lā taḥāḍḍūna ‘alā ṭa‘āmil-miskīn(i).
tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,
وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ اَكْلًا لَّمًّاۙ
Wa ta'kulūnat-turāṡa aklal lammā(n).
memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram),
وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ
Wa tuḥibbūnal-māla ḥubban jammā(n).
dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.
كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ
Kallā iżā dukkatil-arḍu dakkan dakkā(n).
Jangan sekali-kali begitu! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan),
وَّجَاۤءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ
Wa jā'a rabbuka wal-malaku ṣaffan ṣaffā(n).
Tuhanmu datang, begitu pula para malaikat (yang datang) berbaris-baris,
وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ
Wa jī'a yauma'iżim bijahannam(a), yauma'iżiy yatażakkarul-insānu wa annā lahuż-żikrā.
dan pada hari itu (neraka) Jahanam didatangkan, sadarlah manusia pada hari itu juga. Akan tetapi, bagaimana bisa kesadaran itu bermanfaat baginya?
يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ
Yaqūlu yā laitanī qaddamtu liḥayātī.
Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!”
فَيَوْمَىِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗٓ اَحَدٌ ۙ
Fa yauma'iżil lā yu‘ażżibu ‘ażābahū aḥad(un).
Pada hari itu tidak ada seorang pun yang mampu mengazab (seadil) azab-Nya.
وَّلَا يُوْثِقُ وَثَاقَهٗٓ اَحَدٌ ۗ
Wa lā yūṡiqu waṡāqahū aḥad(un).
Tidak ada seorang pun juga yang mampu mengikat (sekuat) ikatan-Nya.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma'innah(tu).
Wahai jiwa yang tenang,
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ
Irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah(tan).
kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ
Fadkhuli fī ‘ibādī.
Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ
Wadkhulī jannatī.
dan masuklah ke dalam surga-Ku!
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Ubaid Al Ghabari] telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] dari [Qatadah] dari [Zurarah bin Aufa] dari [Sa'…
Telah menceritakan kepada kami ['Amru An Naqid] telah menceritakan kepada kami ['Abdah bin Sulaiman] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin 'Urwah] dari …
Telah menceritakan kepada kami [Adam] Telah menceritakan kepada kami [Warqa] dari [Ibnu Abu Najih] dari [Mujahid] ia berkata; [Ibnu Abbas] menyuruhnya untuk …
Puncak dari perjalanan jiwa yang berjuang di tengah ujian dunia adalah panggilan lembut dari Rabb semesta alam, "Wadkhulii Jannatii" (Dan masuklah ke dalam s…
Dalam perjalanan hidup yang penuh dengan ketidakpastian, sering kali kita merasa lelah karena beban urusan duniawi yang menghimpit hati. Surat Al-Fajr ayat 2…
Dalam hiruk pikuk ujian hidup yang sering kali membuat hati gelisah, Allah SWT memberikan penawar melalui Surat Al-Fajr ayat 28: irji'ii ilaa rabbiki raadhiy…