لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ
Lā uqsimu bihāżal-balad(i).
Aku bersumpah demi negeri ini (Makkah),
Demi negeri ini, manusia diciptakan dalam susah payah. Apakah dia tidak menempuh jalan yang mendaki?
Surah Al-Balad membahas tentang realitas kehidupan manusia yang penuh dengan perjuangan dan cobaan. Ia menyoroti tanggung jawab manusia untuk menggunakan kekayaan dan kekuasaannya dalam kebaikan, serta menggambarkan jalan menuju kebahagiaan sejati melalui iman dan amal saleh, kontras dengan kesengsaraan bagi mereka yang mengingkari kebenaran.
Manusia diciptakan dalam susah payah dan diuji untuk memilih jalan kebaikan sosial atau jalan keburukan.
Surah ini menyoroti hakikat kehidupan manusia yang penuh dengan perjuangan dan kesulitan sejak lahir hingga wafat. Allah menegaskan bahwa kekayaan harta dan kekuatan fisik bukanlah ukuran kemuliaan, melainkan bagaimana karunia tersebut digunakan untuk kebaikan sesama.
Allah memaparkan dua jalan utama bagi manusia, yaitu jalan kebaikan yang mendaki lagi sukar, dan jalan keburukan. Jalan kebaikan ditandai dengan kepedulian sosial yang tinggi, seperti membebaskan budak, memberi makan anak yatim dari kerabat, dan menyantuni orang miskin yang sangat papa.
Pada akhirnya, amal sosial tersebut harus dilandasi dengan keimanan sejati. Manusia yang beriman dan saling berwasiat dalam kesabaran serta kasih sayang akan menjadi golongan kanan yang diliputi rahmat, sedangkan yang ingkar akan menjadi golongan kiri yang terkurung dalam neraka.
Surah ini diturunkan di Makkah saat Rasulullah dan para sahabat mengalami penindasan berat dari kaum musyrikin. Allah menghibur Nabi dengan bersumpah demi kota Makkah tempat beliau berada, sekaligus menegur kesombongan para pemuka Quraisy yang merasa berkuasa dengan harta mereka.
Surah Al-Balad berhubungan erat dengan Surah Al-Fajr sebelumnya yang menyoroti kecintaan manusia pada harta dan kurangnya kepedulian pada anak yatim. Surah Al-Balad memberikan solusi praktis dengan memerintahkan manusia menempuh jalan kebaikan melalui sedekah. Setelahnya, Surah Asy-Syams menjelaskan tentang penyucian jiwa yang merupakan hasil dari menempuh jalan kebaikan tersebut.
Situasi Merasa sangat lelah dengan rutinitas pekerjaan dan beban hidup yang berat.
Pesan surah Lelah adalah fitrah manusia di dunia, jadikan kelelahan itu bernilai ibadah dan pahala.
Langkah kecil Niatkan bekerja hari ini murni untuk menafkahi keluarga karena Allah.
Situasi Memiliki rezeki lebih namun bingung bagaimana cara menyalurkannya dengan tepat.
Pesan surah Berbagi kepada kerabat yang yatim atau orang miskin adalah jalan kebaikan yang sangat dianjurkan.
Langkah kecil Sisihkan sebagian uang hari ini untuk membelikan makanan bagi orang yang membutuhkan.
Situasi Berada dalam lingkungan kerja atau pertemanan yang individualis dan kurang empati.
Pesan surah Orang beriman harus menjadi agen penyebar kasih sayang dan kesabaran di lingkungannya.
Langkah kecil Kirimkan pesan penyemangat atau tanyakan kabar teman yang sedang mengalami kesulitan.
Surah ini menekankan pentingnya menempuh jalan yang sukar dengan cara memberi makan orang miskin dan anak yatim, serta saling berwasiat dalam kasih sayang. Ini adalah bukti nyata dari keimanan yang menyelamatkan.
Cara praktis Belikan satu porsi makanan tambahan hari ini dan berikan secara langsung kepada orang yang membutuhkan di sekitar Anda.
Hari ini, berikan makanan kepada satu orang miskin atau anak yatim, lalu doakan kebaikan untuknya secara tulus.
لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ
Lā uqsimu bihāżal-balad(i).
Aku bersumpah demi negeri ini (Makkah),
وَاَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ
Wa anta ḥillum bihāżal-balad(i).
sedangkan engkau (Nabi Muhammad) bertempat tinggal di negeri (Makkah) ini.
وَوَالِدٍ وَّمَا وَلَدَۙ
Wa wālidiw wa mā walad(a).
(Aku juga bersumpah) demi bapak dan anaknya,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ
Laqad khalaqnal-insāna fī kabad(in).
sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.
اَيَحْسَبُ اَنْ لَّنْ يَّقْدِرَ عَلَيْهِ اَحَدٌ ۘ
Ayaḥsabu allay yaqdira ‘alaihi aḥad(un).
Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?
يَقُوْلُ اَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًاۗ
Yaqūlu ahlaktu mālal lubadā(n).
Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.”
اَيَحْسَبُ اَنْ لَّمْ يَرَهٗٓ اَحَدٌۗ
Ayaḥsabu allam yarahū aḥad(un).
Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya?
اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ
Alam naj‘al lahū ‘ainain(i).
Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata,
وَلِسَانًا وَّشَفَتَيْنِۙ
Wa lisānaw wa syafatain(i).
lidah, dan sepasang bibir,
وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ
Wa hadaināhun-najdain(i).
serta Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)?
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ۖ
Falaqtaḥamal-‘aqabah(ta).
Maka, tidakkah sebaiknya dia menempuh jalan (kebajikan) yang mendaki dan sukar?
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ ۗ
Wa mā adrāka mal-‘aqabah(tu).
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?
فَكُّ رَقَبَةٍۙ
Fakku raqabah(tin).
(Itulah upaya) melepaskan perbudakan
اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ
Au iṭ‘āmun fī yaumin żī masgabah(tin).
atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan
يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ
Yatīman żā maqrabah(tin).
(kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan
اَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍۗ
Au miskīnan żā matrabah(tin).
atau orang miskin yang sangat membutuhkan.
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِۗ
Ṡumma kāna minal-lażīna āmanū wa tawāṣau biṣ-ṣabri wa tawāṣau bil-marḥamah(ti).
Kemudian, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang.
اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِۗ
Ulā'ika aṣḥābul-maimanah(ti).
Mereka itulah golongan kanan.
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا هُمْ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِۗ
Wal-lażīna kafarū bi'āyātinā hum aṣḥābul-masy'amah(ti).
Adapun orang-orang yang kufur pada ayat-ayat Kami, merekalah golongan kiri.
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ ࣖ
‘Alaihim nārum mu'ṣadah(tun).
Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.
Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] Telah mengabarkan kepada kami [Bapakku] dari [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dari [Al Aswad] dari [Abdullah radliallahu 'a…
Telah bercerita kepada kami [Khalid bin Yazid] telah bercerita kepada kami [Isra'il] dari [Abu Ishaq] dari [Al Aswad] berkata aku mendengar ['Abdullah] berka…
Dan telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb] dan [Utsman bin Abu Syaibah] dan [Ishaq bin Ibrahim] -Ishaq- berkata, telah mengabarkan kepada kami -dua…
Surat Al-Balad ayat 20 merupakan penutup yang menegaskan nasib tragis bagi mereka yang enggan menempuh jalan pendakian (al-aqabah), yakni jalan ketaatan dan…
Surat Al-Balad ayat 19 membuka pintu peringatan keras mengenai nasib mereka yang enggan meniti jalan kebenaran. Ayat ini berbunyi, "Adapun orang-orang yang k…
Dalam perjalanan hidup yang penuh dengan rintangan, Allah SWT memberikan arah yang jelas bagi jiwa-jiwa yang mencari keselamatan. Pada Surat Al-Balad ayat 18…